Tiga Kekalahan Beruntun, Kursi Fabio Grosso di Fiorentina Mulai Goyah
Baca dalam 60 detik
- Fiorentina menelan kekalahan ketiga beruntun di Serie A setelah takluk 1-2 dari Torino di Stadio Franchi, Minggu (3/9).
- Pelatih Fabio Grosso mengakui masa depannya tidak menentu dan menyerahkan keputusan kepada manajemen klub.
- Kekalahan ini merupakan yang kedua kalinya dalam sejarah 100 tahun Fiorentina kalah di tiga laga awal Serie A, terakhir terjadi pada 1935/36.

Tekanan semakin menggunung di kursi kepelatihan Fiorentina. Fabio Grosso, arsitek asal Italia, harus pasrah setelah timnya kembali menelan kekalahan, kali ini 1-2 dari Torino di Stadio Franchi, Minggu (3/9/2024). Hasil ini menjadi kekalahan ketiga beruntun La Viola di Serie A, sekaligus menempatkan posisi Grosso di ujung tanduk.
Kekalahan ini kian memprihatinkan mengingat Fiorentina sempat unggul lebih dulu lewat gol Mateo Pellegrino. Namun, keunggulan tersebut sirna setelah dua gol balasan dari mantan pemain mereka, Rolando Mandragora, dan Che Adams memastikan kemenangan perdana Torino musim ini. Ironisnya, Mandragora baru saja dilepas Fiorentina pada hari terakhir bursa transfer.
Grosso tidak menampik bahwa masa depannya kini berada di tangan manajemen. "Keputusan itu ada di tangan mereka yang di atas saya, dan saya hanya bisa menyerahkan diri," ujarnya kepada DAZN Italia. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pelatih berusia 46 tahun itu sadar akan risiko pemecatan yang mengintai.
Start buruk ini tentu jauh dari ekspektasi. Fiorentina yang pada musim lalu nyaris terdegradasi, kini harus menelan pil pahit setelah dibantai Roma 0-4 dan Frosinone 0-3. Kekalahan beruntun ini merupakan yang kedua kalinya dalam sejarah 100 tahun klub, terakhir terjadi pada musim 1935/36.
Grosso menyayangkan hilangnya kendali tim setelah kebobolan. "Kami seharusnya bisa melakukan banyak hal lebih baik, terutama di babak pertama. Setelah unggul, justru kehilangan kendali," keluhnya. Ia juga mengakui bahwa para pendukung layak mendapat hasil yang lebih baik.
Manajemen Fiorentina sebenarnya telah berinvestasi besar pada bursa transfer musim panas ini. Banyak pemain baru didatangkan untuk memperkuat skuad yang musim lalu berjuang di zona degradasi. Namun, perubahan besar justru membuat tim kesulitan mencari keseimbangan. Grosso sendiri mengakui bahwa butuh waktu untuk menemukan komposisi starting XI yang ideal.
"Tujuannya adalah menemukan starting XI yang tepat untuk gaya sepak bola saya, tetapi sulit untuk mencapainya dengan cepat. Kami terus bekerja dan akan terus melakukannya," tutur Grosso. Situasi ini diperparah dengan jadwal padat yang membuat para pemain baru langsung dimainkan tanpa waktu adaptasi yang cukup.
Kekalahan ini juga menjadi perhatian bagi para pengamat sepak bola Italia. Fiorentina yang identik dengan warna ungu tersebut kini terpuruk di dasar klasemen. Jika tidak segera bangkit, bukan tidak mungkin Grosso akan menjadi korban berikutnya dari siklus pemecatan pelatih di Serie A.
"Tidak ada gunanya memikirkan apa yang mungkin terjadi. Dia (Mandragora) bermain baik dan kami menyesal, kami seharusnya lebih solid. Ini sepak bola, Anda harus menerima yang baik dan yang buruk," pungkas Grosso.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Fiorentina ini menjadi pengingat bahwa investasi besar di bursa transfer tidak menjamin hasil instan. Adaptasi dan kesabaran menjadi kunci, terutama di liga sekelas Serie A. Pertanyaan besarnya kini: akankah manajemen Fiorentina memberi Grosso kesempatan untuk memperbaiki keadaan, atau akan segera mencari pengganti? Laga berikutnya melawan Atalanta akan menjadi ujian krusial bagi masa depan sang pelatih.



