Gagal Lagi di Posisi Nomor 9, Cunha Kini Bayangi-bayangi Nasib Martial di Manchester United
Baca dalam 60 detik
- Cunha kembali tampil mengecewakan sebagai striker tengah saat MU ditahan Everton 2-2, dengan catatan kehilangan bola 11 kali dari 42 sentuhan.
- Performa inkonsisten pemain Brasil itu memicu perbandingan dengan Anthony Martial, yang gagal memenuhi ekspektasi di posisi serupa.
- Keputusan Carrick memainkan Cunha di posisi yang bukan naturalnya mulai dipertanyakan, apalagi Benjamin Sesko mencetak gol sebagai pengganti.

Kegagalan Manchester United meraih kemenangan atas Everton di Stadion Hill Dickinson pada Sabtu sore lalu bukan sekadar dua poin yang hilang. Lebih dari itu, hasil imbang 2-2 itu kembali membuka luka lama: ketidakmampuan lini depan Setan Merah dalam memanfaatkan peluang, dengan Matheus Cunha lagi-lagi tampil sebagai biang keladi. Penampilan pemain asal Brasil itu di posisi penyerang tengah, yang bukan peran naturalnya, kini mulai mengundang perbandingan dengan salah satu 'proyek gagal' MU di masa lalu, Anthony Martial.
Dalam laga yang berlangsung sengit tersebut, Benjamin Sesko sempat membawa MU unggul pada menit ke-88, namun gol balasan Ainsley Maitland-Niles di masa injury time memaksa skor berakhir sama kuat. Hasil ini membuat pasukan Michael Carrick mengoleksi empat poin dari tiga pertandingan pembuka musim, setelah kalah dari Hull City dan menang atas Ipswich Town. Namun, di balik angka tersebut, performa individu sejumlah pemain inti, khususnya Cunha, menjadi sorotan tajam.
Cunha, yang dimainkan sebagai ujung tombak untuk ketiga kalinya secara beruntun, gagal memberikan ancaman berarti. Sepanjang 70 menit di lapangan, ia tidak pernah memenangi duel udara, kehilangan penguasaan bola sebanyak 11 kali dari 42 sentuhan, dan melepaskan dua tembakan yang tidak satupun mengarah ke gawang. Angka-angka itu menunjukkan betapa besarnya kesenjangan antara harapan dan realita yang ditawarkan pemain berusia 27 tahun tersebut.
Kegagalan Cunha dalam memberikan titik fokus serangan menjadi ironi tersendiri. Pasalnya, ia sejatinya adalah pemain sayap kiri yang andal, namun Carrick lebih memilihnya sebagai penyerang tengah ketimbang menempatkan Sesko sejak awal. Keputusan ini mengingatkan pada cara MU dulu memperlakukan Martial, yang kerap dipasang di berbagai posisi serang untuk menutupi kelemahan tim, namun justru membuat performanya tidak konsisten.
Martial, yang bergabung dari AS Monaco pada 2015, meninggalkan Old Trafford dengan catatan 79 gol dari 269 penampilan. Namun, ia lebih dikenang karena inkonsistensinya daripada momen-momen gemilangnya. Kritik yang sering dialamatkan padanya adalah soal kemampuannya menjaga penguasaan bola dan melakukan tugas-tugas dasar dengan baikโkritik yang kini relevan untuk Cunha. Kemiripan gaya permainan dan nasib keduanya semakin terlihat jelas.
Di sisi lain, Harry Maguire dan Diogo Dalot juga tampil di bawah standar. Maguire gagal memenangi satu pun duel darat dan tidak membuat tekel sama sekali, bahkan mendapat kartu kuning karena protes. Sementara Dalot, yang kerap menjadi perdebatan di kalangan suporter, tidak mampu memberikan kontribusi signifikan di area serang, dengan seluruh upaya dribel dan umpan silangnya gagal. Kedua pemain ini menambah daftar panjang kekecewaan Carrick di lini belakang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Cunha ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memainkan pemain di posisi naturalnya. Di Liga 1, kita sering melihat pelatih memaksakan pemain sayap menjadi striker, yang justru mereduksi potensi terbaik mereka. Kasus ini juga mengingatkan bahwa kesabaran terhadap pemain asing yang sedang dalam performa buruk seringkali berujung pada kegagalan, seperti yang dialami banyak klub Indonesia yang berganti pelatih dan pemain di tengah musim.
Dengan gol Sesko yang datang dari bangku cadangan, tekanan terhadap Carrick untuk mengubah komposisi lini depan semakin besar. Pertanyaannya sekarang, apakah pelatih asal Inggris itu akan tetap mempertahankan Cunha di posisi yang jelas-jelas bukan keahliannya, ataukah ia akan belajar dari kesalahan masa lalu dengan Martial? Keputusan ini akan sangat menentukan arah perjalanan MU di sisa musim, dan juga masa depan Cunha di klub.



