Hamilton: Keputusan Prioritas Ferrari Sudah Terlambat, Gelar Juara Kian Jauh
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menilai Ferrari kehilangan momen krusial untuk fokus padanya di kejuaraan setelah GP Monza yang penuh insiden.
- Insiden lap pertama dengan Charles Leclerc dan kecelakaan Leclerc membuat Ferrari kehilangan peluang podium di kandang sendiri.
- Dengan defisit 76 poin dari pemuncak klasemen, peluang Hamilton merebut gelar juara dunia kedelapan hampir mustahil secara matematis.

Lewis Hamilton menegaskan bahwa sudah terlambat bagi Ferrari untuk memberikan prioritas penuh kepadanya dalam perburuan gelar juara dunia Formula 1 musim ini. Pernyataan itu muncul setelah akhir pekan yang mengecewakan di Grand Prix Italia, di mana ia finis keenam sementara rekan setimnya, Charles Leclerc, mengalami kecelakaan hebat. Dengan jarak 76 poin dari pemimpin klasemen, peluang Hamilton untuk meraih gelar kedelapan nyaris tertutup.
Pada balapan di Sirkuit Monza, Minggu (7/9/2025), Hamilton yang start dari posisi keempat justru terdorong keluar trek oleh Leclerc di lap pertama, membuatnya melorot ke posisi kesepuluh. Insiden tersebut terjadi saat keduanya bersaing ketat di chicane pertama. Tak lama berselang, Leclerc mengalami kecelakaan berkecepatan tinggi di tikungan Parabolica, memicu bendera merah dan mengakhiri harapan Ferrari untuk meraih podium di hadapan para tifosi.
Setelah balapan restart, Hamilton tidak mampu mengejar ketertinggalan. Sementara itu, Mercedes berhasil mengunci posisi satu-dua melalui Andrea Antonelli dan George Russell. Hasil ini membuat Hamilton, yang sebelumnya sejajar poin dengan Russell, kini terpaut 10 poin dari mantan rekan setimnya di Mercedes itu. Lebih parah lagi, ia kehilangan banyak poin berharga dalam persaingan gelar.
"Saya pikir sejak hari ini, kami kehilangan banyak poin dari Mercedes," ujar Hamilton. "Sudah terlalu larut untuk keputusan seperti itu. Terlalu larut. Yang bisa saya lakukan hanyalah mencoba tampil baik. Saya akan bangun besok pagi dan memberikan yang terbaik." Ia menambahkan, "Tidak akan berakhir sampai benar-benar berakhir. Saya tidak tahu berapa poinnya sekarang, tapi saya yakin 60 atau 70. Itu jumlah yang sangat sulit untuk dikejar dengan performa mereka."
Pernyataan Hamilton ini menambah daftar panjang ketegangan internal di Ferrari. Sebelumnya, pada GP Belanda di Zandvoort, Hamilton juga mengeluhkan lambatnya tim dalam memprioritaskan dirinya. Saat itu, Leclerc yang berada di posisi ketiga dengan strategi berbeda, dianggap menghalangi laju Hamilton yang memiliki ban lebih segar. Setelah tim akhirnya memanggil Leclerc ke pit, Hamilton sempat melontarkan komentar sinis melalui radio tim, "Cara yang bagus untuk membuang waktu, kerja bagus." Namun, ia kemudian meminta maaf.
Insiden di Monza seolah memperparah kekhawatiran Hamilton. Leclerc, yang mengalami kecelakaan pada lap kedua, mengaku bahwa kontak di tikungan pertama terlalu ketat. "Saya cukup banyak di kerb dalam dan mencoba melewati tikungan, tapi saya tidak cukup rapat," jelas Leclerc. "Saya hanya melihat di kaca spion apa yang terjadi, yang tidak pernah Anda inginkan antara dua mobil dari tim yang sama." Namun, Hamilton membantah adanya kontak: "Saya berada di depan di tikungan kedua. Tidak ada kata 'kami' dalam hal ini."
Manajer tim Ferrari, Frederic Vasseur, menyebut insiden antara kedua pebalapnya "tidak baik". Namun, ia menekankan bahwa setiap tim pasti menghadapi ketegangan internal. "Untuk melihat apakah kami akan mengeluarkan team order atau tidak, saya rasa perbandingannya seperti tahun lalu, ketika Oscar Piastri memimpin McLaren di tahap ini. Jika McLaren memprioritaskan Piastri, Max Verstappen akan menjadi juara," ujar Vasseur. "Pasti, pada satu titik kami harus membuat keputusan, tapi saya pikir terlalu dini untuk memutuskan sebelum Monza. Sekarang kami punya waktu untuk berdiskusi dengan para pebalap."
Hamilton menilai Ferrari perlu memperbaiki komunikasi internal. "Jika kami terus menempuh jalan yang sama, kami akan mendapatkan hasil yang sama," katanya. "Dan sepertinya kami terus mendapatkan hasil yang sama. Kami harus mengubah sesuatu karena itu tidak membantu kami maju. Saya pikir mereka menerima masukan ini dan kami akan membahasnya secara internal."
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, persaingan internal Ferrari ini menarik untuk disimak, terutama dengan semakin dekatnya seri balapan di Asia Tenggara. Meski belum ada konfirmasi, spekulasi mengenai kembalinya GP Indonesia atau Malaysia kerap mencuat. Jika terwujud, dinamika tim asal Italia ini akan menjadi sorotan utama. Selain itu, performa pebalap muda seperti Antonelli yang kini memimpin klasemen menunjukkan bahwa era baru F1 sedang berlangsung, dan tim-tim besar harus beradaptasi cepat.
Setelah kecelakaan, Leclerc dinyatakan dalam kondisi baik setelah menjalani pemeriksaan medis. Ia mengaku akan menjalani pemeriksaan tambahan, namun diperkirakan bisa tampil di GP Spanyol akhir pekan depan. Sementara itu, Hamilton menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah gaya balapnya. "Saya tidak balap kotor. Saya selalu balap bersih dan fair, selalu memberi ruang. Jadi saya tidak berpikir mereka perlu khawatir tentang saya," tegasnya.
Dengan sisa musim yang semakin menipis, pertanyaan besarnya adalah: akankah Ferrari akhirnya mengambil keputusan tegas untuk mendukung satu pebalap, atau membiarkan mereka bertarung hingga akhir? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib gelar juara, tetapi juga arah masa depan tim yang sedang dalam masa transisi ini.



