HUT ke-81 TNI AL: Aksi Bersih Laut Muara Angke Jadi Momentum Perkuat Ekonomi Pesisir
Baca dalam 60 detik
- TNI AL menggelar aksi bersih-bersih dan edukasi lingkungan di Muara Angke, Jakarta, sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81, dengan fokus pada pengelolaan sampah plastik yang mencemari laut.
- Kegiatan ini tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memberdayakan UMKM pesisir melalui daur ulang sampah menjadi produk bernilai ekonomi, sejalan dengan upaya menjaga ekosistem maritim.
- Ke depan, TNI AL berkomitmen menjadikan aksi ini sebagai program berkelanjutan yang memperkuat sinergi antara institusi militer, masyarakat, dan pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan laut Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran menjaga ekosistem laut, mulai dari hulu sungai hingga pesisir, dalam rangka menyambut HUT ke-81 TNI AL. Ajakan ini disampaikan di tengah aksi bertajuk "Aku Cinta Laut" yang dipusatkan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta, Minggu (8/2). Langkah ini dinilai strategis karena Muara Angke merupakan sentra aktivitas perikanan dan permukiman warga pesisir yang setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan sampah, terutama plastik.
Ali menegaskan bahwa laut Indonesia yang membentang luas tidak mungkin dijaga sendiri oleh aparat. Sampah plastik yang terbawa arus sungai menjadi ancaman serius bagi biota laut dan kesehatan masyarakat pesisir. Karena itu, TNI AL memilih turun langsung memberikan edukasi pemilahan sampah serta mengajak warga bergotong royong membersihkan pantai dan lingkungan pelabuhan. Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan maritim harus dimulai dari kebiasaan kecil di daratan, sebab muara adalah titik akhir dari segala limbah yang dibuang sembarangan.
Kegiatan ini bukan seremonial semata. TNI AL mengintegrasikan berbagai program sosial-kemanusiaan, seperti bakti kesehatan dengan pemeriksaan gratis, pembagian sembako, hingga pelatihan bagi pelaku UMKM setempat untuk mengolah sampah menjadi barang bernilai jual. "Kami juga membantu UMKM membuat peralatan dari bekas sampah. Ini menarik dan bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat," ujar Ali. Langkah ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Indonesia, persoalan sampah laut bukan isu baru. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Kondisi ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi menggerus sektor pariwisata bahari dan perikanan yang menjadi tulang punggung banyak daerah pesisir. Kehadiran TNI AL dalam aksi bersih-bersih ini diharapkan bisa menjadi katalis bagi kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah daerah, swasta, maupun komunitas nelayan, untuk bersama-sama menekan laju pencemaran.
Lebih jauh, aksi ini menjadi bukti bahwa institusi militer tidak hanya bertugas menjaga kedaulatan, tetapi juga hadir dalam isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Ali menekankan bahwa kegiatan ini adalah wujud komitmen berkelanjutan TNI AL untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. "Kami akan terus hadir di tengah masyarakat, khususnya pesisir, dengan kontribusi langsung," tegasnya. Harapannya, kolaborasi semacam ini dapat membangun kawasan maritim yang bersih, sehat, dan berdaya saing.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya membersihkan sampah yang sudah ada, tetapi mengubah perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Pertanyaannya, apakah aksi tahunan seperti ini cukup efektif untuk menekan angka pencemaran, atau justru perlu diduplikasi secara lebih masif di daerah-daerah pesisir lain? TNI AL tampaknya menyadari bahwa edukasi dan pendampingan UMKM adalah kunci jangka panjang. Dengan pendekatan yang menyentuh aspek ekonomi, diharapkan masyarakat tidak hanya peduli lingkungan, tetapi juga merasakan manfaat langsung dari laut yang bersih.



