Erupsi Anak Krakatau: Tiga Bandara Jakarta Dipastikan Aman, Penerbangan Tetap Normal
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perhubungan mengonfirmasi operasional tiga bandara di Jakarta tidak terganggu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu pagi.
- Hasil pemantauan menunjukkan sebaran abu vulkanik masih berada pada jarak aman, dengan pengujian di Bandara Soekarno-Hatta tidak mendeteksi partikel abu.
- Otoritas penerbangan terus berkoordinasi dengan BMKG dan maskapai untuk mengantisipasi potensi perubahan kondisi cuaca dan arah sebaran abu.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi Sabtu pagi (5/9/2026) tidak mengganggu operasional tiga bandara utama di Jakarta. Kementerian Perhubungan memastikan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Pondok Cabe masih beroperasi normal, meski awan abu vulkanik terpantau menyebar di sejumlah titik.
Berdasarkan data ASHTAM Nomor VAWR3739 yang dirilis pukul 09.10 WIB, jarak sebaran abu dari Gunung Anak Krakatau ke Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma tercatat sekitar 31,4 kilometer. Sementara itu, Bandara Pondok Cabe berada pada jarak lebih dekat, yakni 18,5 kilometer. Angka ini masih berada di bawah ambang batas yang dianggap membahayakan keselamatan penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa pengamatan menggunakan paper test di Bandara Soekarno-Hatta tidak mendeteksi adanya partikel abu vulkanik. "Operasional penerbangan tetap berjalan aman, normal, dan lancar," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima media, Sabtu (5/9/2026). Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi calon penumpang yang khawatir terjadinya pembatalan jadwal seperti yang pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud pada 2014 silam.
Meski demikian, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tidak tinggal diam. Mereka mengaktifkan pemantauan intensif bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), AirNav Indonesia, serta pengelola bandara. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi perubahan arah angin yang dapat membawa abu vulkanik ke wilayah yang lebih padat lalu lintas penerbangan, mengingat Jakarta merupakan gerbang udara tersibuk di Indonesia dengan lebih dari 1.000 pergerakan pesawat setiap harinya.
Maskapai penerbangan dan seluruh pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Mereka diminta memantau secara berkala informasi melalui NOTAM dan ASHTAM yang diterbitkan otoritas penerbangan. Imbauan ini bukan tanpa alasan: sejarah mencatat bahwa abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat secara serius, seperti yang dialami maskapai British Airways pada 1982 ketika pesawatnya kehilangan tenaga setelah terbang menembus awan abu hasil erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat.
Bagi masyarakat Indonesia, kabar ini membawa kelegaan tersendiri. Bandara Soekarno-Hatta melayani tidak kurang dari 40 juta penumpang per tahun, dan gangguan operasional akibat bencana alam sering kali menimbulkan efek domino pada sektor pariwisata dan ekonomi. Namun, para pengamat penerbangan mengingatkan bahwa situasi masih dinamis. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga koordinasi antarlembaga menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat otoritas dapat merespons jika erupsi kembali terjadi dengan intensitas lebih besar. Pengalaman erupsi pada Desember 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda menjadi pelajaran berharga bahwa mitigasi bencana tidak boleh berhenti pada prosedur standar. Dengan teknologi pemantauan yang semakin canggih, publik berhak menuntut transparansi informasi dan kesiapan infrastruktur yang lebih baik di masa mendatang.



