Ancaman di Balik Megathrust: Pakar Sebut Gempa Intra-Slab Bisa Lebih Mematikan bagi Jawa
Baca dalam 60 detik
- Selain megathrust, gempa intra-slab di kedalaman 60-300 km berpotensi mengguncang Jawa dengan dampak destruktif yang luas.
- Rekam jejak seismik menunjukkan gempa intra-slab seperti Jawa 1867 dan 1903 pernah menewaskan ratusan orang dan merusak lintas provinsi.
- Mitigasi perlu fokus pada pembaruan peta bahaya dan penerapan standar bangunan tahan gempa berbasis PGA, bukan hanya antisipasi tsunami.

Pulau Jawa tidak hanya berhadapan dengan ancaman megathrust yang selama ini menjadi sorotan. Para ahli kebencanaan kini mengingatkan adanya sumber gempa lain yang tak kalah berbahaya, yakni gempa intra-slab yang terjadi di dalam lempeng tektonik. Ancaman ini dinilai berpotensi menimbulkan guncangan dahsyat yang dapat melumpuhkan infrastruktur di berbagai wilayah Jawa, bahkan tanpa disertai tsunami.
Daryono, peneliti dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menegaskan bahwa pemahaman publik tentang risiko kegempaan di Jawa selama ini terlalu terfokus pada bidang kontak antarlempeng yang dangkal. Padahal, menurut dia, deformasi batuan di bagian dalam lempeng yang sedang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia menyimpan energi yang tidak kalah besar. "Perhatian kita selama ini banyak tertuju pada megathrust yang memicu tsunami, padahal ada ancaman lain yang lebih senyap namun destruktif," ujarnya dalam diskusi daring, Sabtu (5/9/2026).
Gempa intra-slab terjadi pada kedalaman menengah 60 hingga 300 kilometer, dipicu oleh tiga mekanisme utama. Pertama, gaya tarik gravitasi yang menarik ujung lempeng hingga tubuhnya retak. Kedua, tekanan tekukan yang memaksa lempeng melengkung tajam, serupa penggaris plastik yang ditekuk ekstrem. Ketiga, proses dehidrasi batuan akibat panas bumi yang membuat lempeng menjadi rapuh dan akhirnya pecah. Kombinasi faktor ini menghasilkan getaran dengan frekuensi tinggi yang merambat efisien dan berdampak luas di permukaan.
Catatan sejarah menunjukkan betapa masifnya dampak gempa intra-slab di Jawa. Gempa Jawa 1867 berkekuatan M7,8 tidak hanya merusak hampir seluruh pulau, tetapi juga menewaskan sekitar 500 jiwa. Peristiwa serupa terulang pada 1903 di Jawa Barat dan Banten dengan magnitudo M7,9 yang menghancurkan kawasan Banten, Jawa Barat, hingga Lampung. Pada 1943, gempa M7,1 di Jawa Tengah merusak kota-kota seperti Cilacap, Purwokerto, dan Yogyakarta, menewaskan lebih dari 213 orang. Bahkan gempa yang relatif baru, seperti gempa Jawa Barat 2009 (M7,0) dan Jawa Timur 2021, menegaskan bahwa ancaman ini masih sangat nyata.
Yang menarik, gempa intra-slab tidak memicu tsunami, tetapi justru menghasilkan guncangan tanah dengan frekuensi tinggi yang sangat merusak bangunan. Daryono menjelaskan, jika gempa intra-slab mencapai magnitudo 6,0 ke atas, gelombang sekunder (shear wave) akan merambat efisien melalui batuan padat dan melipatgandakan tingkat kerusakan infrastruktur di permukaan. "Gempa Cilacap M5,3 pada 4 September lalu adalah contoh nyata bagaimana getarannya terasa hingga Jawa Timur," tambahnya.
Untuk itu, strategi mitigasi tidak bisa lagi hanya bertumpu pada antisipasi tsunami. Daryono menekankan perlunya integrasi antara pemetaan zona stres tektonik dan penguatan standar bangunan. "Pemantauan mikroseismik secara real-time dan pembaruan peta bahaya kegempaan berbasis percepatan tanah puncak (PGA) menjadi kunci utama," tegasnya. Dengan demikian, setiap pembangunan infrastruktur di Jawa harus mengacu pada data seismik terbaru agar mampu bertahan terhadap guncangan frekuensi tinggi.
Bagi Indonesia, khususnya Jawa yang menjadi pusat populasi dan ekonomi, temuan ini menjadi alarm serius. Banyak bangunan tua dan infrastruktur vital yang belum dirancang untuk menghadapi getaran semacam ini. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah dan pengembang properti akan segera menyesuaikan standar bangunan mereka? Atau justru menunggu hingga bencana besar kembali terjadi?



