Anak Krakatau Erupsi Terus, Badan Geologi Pastikan Kubah Lava Belum Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung intensif sejak Juli 2026, dengan status Siaga Level III.
- Badan Geologi memastikan pertumbuhan kubah lava baru belum cukup besar untuk memicu longsoran yang dapat menimbulkan tsunami.
- Masyarakat diimbau menjauhi radius 3 km dari pusat erupsi, sementara dampak suara dentuman hingga Bandung masih diselidiki.

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan kegiatannya yang meningkat, dengan erupsi menerus yang masih terpantau hingga Sabtu pagi, 5 September 2026. Badan Geologi menegaskan bahwa meskipun aktivitas vulkanik ini berlangsung signifikan, potensi terjadinya tsunami akibat keruntuhan tubuh gunung dinilai masih sangat kecil. Hal ini menjadi perhatian utama bagi warga pesisir Banten dan Lampung yang pernah merasakan dahsyatnya bencana serupa pada 2018.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilowati, dalam konferensi pers virtual pada Sabtu (5/9/2026), mengungkapkan bahwa pemantauan intensif terus dilakukan melalui dua stasiun pengamatan di Pasauran dan Kalianda. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa pembentukan kubah lava baru pasca-runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 22 Desember 2018 masih berlangsung dalam skala yang relatif kecil. "Hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," jelas Rita.
Sejarah mencatat, tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 terjadi ketika sebagian besar tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut setelah serangkaian erupsi. Longsoran bawah laut tersebut memindahkan massa air dalam jumlah besar, menghasilkan gelombang yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Kini, setelah fase erupsi berskala rendah yang berlangsung hingga 16 Desember 2023, gunung ini kembali menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 2 Juli 2026, yang mendorong statusnya naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Pada 5 September 2026, erupsi menerus tercatat berlangsung dari pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB dan masih terpantau hingga pagi. "Sampai pagi ini stasiun pengamatan kami masih mencatat bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan semburan erupsi secara terus-menerus," ujar Rita. Aktivitas ini juga diduga menjadi sumber suara dentuman dan getaran yang dilaporkan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Bandung. Menurut Rita, energi akustik dari erupsi dapat merambat hingga ratusan kilometer, dan pola perambatannya dipengaruhi oleh temperatur udara serta arah dan kecepatan angin. Namun, Badan Geologi menekankan pentingnya pencocokan waktu erupsi dengan laporan masyarakat untuk memastikan sumber dentuman tersebut.
Meskipun demikian, Badan Geologi menegaskan bahwa bahaya utama saat ini bukanlah tsunami, melainkan aliran lava dan lontaran batu pijar. "Walaupun suara terdengar jauh atau ada getaran, rekomendasi dari Badan Geologi tidak berubah: tetap di status Level III (Siaga) dan jarak rekomendasi tetap 3 km," kata Rita. Masyarakat yang berada di luar radius tersebut, khususnya di Banten dan Lampung, diminta untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi, karena evaluasi terbaru menunjukkan belum ada indikasi keruntuhan yang dapat memicu tsunami.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di sekitar Selat Sunda, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api. Meskipun potensi tsunami dinilai rendah, dampak erupsi seperti hujan abu dan awan panas tetap mengancam keselamatan. Oleh karena itu, mematuhi rekomendasi jarak aman dan terus memantau informasi dari Badan Geologi menjadi langkah krusial.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pola erupsi ini akan berkembang. Apakah aktivitas Anak Krakatau akan mereda seperti fase sebelumnya, atau justru meningkat dan mengubah lanskap risiko di kawasan tersebut? Para ahli akan terus memantau, namun kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian alam.



