Banjir Bandang Nepal-Tibet: Pencarian WNI dan Pekerja Asing di Tengah Korban Hilang
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 14 orang dan menyebabkan sekitar 100 WNA, termasuk puluhan WNI, hilang.
- Proyek infrastruktur China di koridor Gyirong menjadi titik rawan, dengan banyak pekerja terjebak saat sungai berubah arah.
- Pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan keselamatan WNI, sementara keluarga korban menuntut transparansi pencarian.

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada pekan ini menyisakan duka mendalam. Di tengah evakuasi dan pencarian korban, seorang warga negara China, Guan Daoxuan, bertekad membawa pulang istrinya yang hilang saat bekerja di proyek jalan raya dekat pos pemeriksaan Gyirong. โSejauh apa pun dia berada, aku akan membawanya pulang. Hidup atau mati, dia harus pulang bersamaku,โ ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bencana yang dipicu hujan deras ini telah menewaskan sedikitnya 14 orang di Nepal, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Di antara korban hilang, sekitar 100 warga negara China dilaporkan belum ditemukan di sisi perbatasan Nepal. Kawasan Gyirong sendiri merupakan koridor strategis dalam proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang menghubungkan China dan Nepal, dengan sejumlah proyek infrastruktur yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.
Guan, yang terbang dari Tibet ke Kathmandu setelah akses darat terputus, telah menyisir enam rumah sakit dan tempat penampungan di ibu kota Nepal. Namun, jejak istrinya, Li Lisha (37), belum ditemukan. Video yang ia peroleh dari lokasi proyek memperlihatkan sungai yang berubah arah dan menggerus kamp pekerja, menghancurkan tempat tinggal para buruh. โDari video ini, kami punya firasat buruk. Tapi sebagai keluarga, kami butuh kepastian untuk mempertanggungjawabkan kepada sanak saudara,โ tuturnya.
Bencana ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menyoroti kerentanan proyek infrastruktur di kawasan rawan bencana. Gyirong, yang selama ini menjadi simbol konektivitas bilateral, kini menjadi saksi betapa dahsyatnya kekuatan alam. Para ahli memperkirakan perubahan iklim meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Himalaya, sehingga proyek-proyek semacam ini perlu mengadopsi standar keselamatan yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, terutama di sektor konstruksi yang kerap beroperasi di medan berat. Meski tidak ada laporan WNI yang menjadi korban dalam musibah ini, Kementerian Luar Negeri RI telah menyatakan kesiapan untuk memantau situasi dan memberikan bantuan konsuler jika diperlukan. โKami terus berkoordinasi dengan KBRI Kathmandu dan otoritas setempat untuk memastikan keselamatan WNI di Nepal,โ kata juru bicara Kemlu dalam keterangan tertulis.
Di tengah ketidakpastian, Guan tetap berpegang pada janjinya. Ia telah membantu keluarga rekan kerja istrinya yang juga hilang, termasuk mereka yang terbang dari China untuk mencari sendiri. Keluarga 24 pekerja yang hilang dari proyek Li telah menulis surat kepada otoritas di Tibet, mendesak China dan Nepal melakukan segala upaya untuk menemukan mereka. Pemerintah China sendiri mengklaim telah memberikan bantuan darurat dan dukungan teknis, serta bekerja sama dengan Nepal dalam operasi pencarian.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah upaya pencarian ini membuahkan hasil, atau justru menjadi catatan kelam bagi proyek-proyek BRI di kawasan rawan bencana? Bagi Guan, jawabannya sederhanaโia hanya ingin membawa pulang istrinya, apa pun kondisinya. โSeperti kata pepatah China, kalau dia hidup, aku ingin melihatnya. Kalau dia mati, aku ingin melihat jasadnya,โ ujarnya lirih.



