Jack Shore Banting Setir Jadi Promotor: Panggung Stand and Bang Siap Menggebrak Wales
Baca dalam 60 detik
- Mantan petarung UFC Jack Shore meluncurkan ajang Stand and Bang, yang mengusung duel berdiri tanpa grappling, pada 22 Agustus di Ebbw Vale.
- Format baru ini dirancang agar lebih mudah dinikmati penonton awam, dengan sistem penilaian berbasis damage yang lebih intuitif.
- Shore, yang pensiun di usia 29 tahun, menegaskan fokusnya kini pada pengembangan karier di luar oktagon, meski peluang comeback tetap terbuka.

Dua tahun setelah menggantung sarung tinju, nama Jack Shore kembali menghiasi poster pertarungan—bukan sebagai petarung, melainkan sebagai promotor. Mantan atlet UFC asal Abertillery ini meluncurkan ajang bertajuk Stand and Bang, sebuah konsep duel berdiri yang mempertemukan 23 laga dalam satu malam di Ebbw Vale Leisure Centre pada 22 Agustus mendatang.
Keputusan Shore untuk merambah dunia promosi berawal dari kegelisahannya terhadap minimnya daya tarik MMA bagi penonton awam. Dalam wawancara dengan BBC Sport Wales, ia mengaku kerap mendengar teman-temannya enggan menonton pertarungan karena tidak memahami teknik grappling yang dianggap membosankan. "Apa yang lebih ramah penonton selain pertarungan MMA tanpa gulat?" ujarnya, menggambarkan filosofi di balik format barunya yang hanya mengandalkan striking.
Stand and Bang bukan sekadar ajang pamer pukulan. Shore, yang kini berusia 31 tahun, merancang sistem penilaian berbasis damage agar penonton awam dapat dengan mudah menentukan siapa yang unggul. "Jika satu petarung memberikan damage lebih banyak, orang awam bisa langsung menilai siapa yang menang," jelasnya. Meski kontrol ring dan pertahanan tetap dihitung, ia menekankan bahwa juri diinstruksikan untuk memprioritaskan damage.
Langkah Shore ini dinilai sebagai respons terhadap tren industri MMA global yang semakin kompetitif. Dengan pengalamannya sebagai mantan petarung peringkat 15 divisi bantamweight UFC, ia memahami betul kebutuhan atlet. "Saya tahu rasanya menjadi amatir atau pro baru yang dianggap remeh oleh promotor," katanya. "Saya ingin menempatkan petarung sebagai prioritas utama, bahkan jika harus mengorbankan keuntungan finansial."
Bagi pengamat MMA, fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana mantan atlet dapat bertransformasi menjadi penggerak industri. Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat dengan munculnya promotor-promotor lokal yang mencoba mengemas MMA agar lebih mudah dicerna pasar. Namun, tantangan terbesar tetap pada edukasi penonton dan regulasi yang jelas.
Shore sendiri mengakui perjalanan promosi ini penuh liku, termasuk harus menjadwalkan ulang pertarungan akibat mundurnya petarung di menit-menit akhir. Meski demikian, ia menilai pencapaian terbesarnya adalah berhasil membawa acara ini hingga pekan pertarungan. "Bagi saya, sukses bukan soal untung atau rugi, tapi bagaimana penonton menikmati pertunjukan," tegasnya.
Keputusan Shore pensiun di usia muda sempat mengejutkan banyak pihak. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya telah berdamai dengan keputusan tersebut. "Saya masih muda dan bisa bersaing dengan petarung top di gym, tapi secara mental saya sudah move on," ungkapnya. Meski mengaku sesekali muncul godaan untuk kembali, ia menegaskan hanya tawaran luar biasa yang mampu menariknya kembali ke oktagon.
Ke depan, keberhasilan Stand and Bang akan menjadi ujian nyata bagi model promosi yang mengedepankan aksesibilitas. Jika sukses, bukan tidak mungkin format ini menjadi tren baru di kancah MMA global, termasuk di Asia Tenggara. Pertanyaannya, akankah inovasi ala Shore ini mampu menggeser dominasi format tradisional yang sudah mapan?



