INDEF: Kerja Sama Indonesia-Rusia Buka Peluang Perluasan Pasar Ekspor hingga Eropa Timur
Baca dalam 60 detik
- Ekonom INDEF menilai kerja sama dengan Rusia dapat memperluas pasar ekspor Indonesia, memanfaatkan perjanjian dagang dengan Eurasian Economic Union.
- Presiden Prabowo menegaskan komitmen meningkatkan hubungan bilateral, termasuk target menggandakan nilai perdagangan kedua negara.
- Peluang terbuka di sektor energi, pertanian, pertahanan, dan maritim, namun implementasi masih menghadapi tantangan geopolitik dan logistik.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat posisi dagang global, kerja sama bilateral dengan Rusia dinilai menjadi salah satu kunci untuk membuka pasar ekspor baru yang selama ini belum tergarap maksimal. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengemukakan bahwa hubungan dagang Indonesia-Rusia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional, terutama melalui akses ke kawasan Eurasia yang lebih luas.
Menurut Esther, Indonesia sebenarnya telah memiliki payung hukum berupa perjanjian perdagangan bebas dengan Eurasian Economic Union (EAEU), yang mencakup Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, dan Rusia. Perjanjian ini, jika dimanfaatkan secara optimal, bisa menjadi pintu masuk bagi produk-produk unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, kopi, tekstil, dan elektronik ke pasar yang selama ini relatif tertutup. "Ini bukan sekadar hubungan simbolis, tetapi punya dampak nyata terhadap diversifikasi pasar ekspor," ujarnya di Jakarta, Jumat (6/2).
Pernyataan ini muncul di tengah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11. Dalam forum tersebut, Prabowo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menegaskan bahwa Rusia merupakan mitra penting bagi Indonesia. Keduanya sepakat untuk menggandakan target perdagangan bilateral, sebuah sinyal kuat bahwa kedua negara serius mempererat hubungan ekonomi meskipun ada tekanan geopolitik global.
Esther, yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, menggarisbawahi bahwa sektor-sektor strategis seperti energi, pertanian, pertahanan, perkapalan, dan perdagangan internasional menjadi bidang yang paling mungkin untuk dikerjasamakan. "Rusia punya kebutuhan besar akan produk tropis dan manufaktur ringan, sementara Indonesia membutuhkan teknologi militer dan energi. Ini komplementer," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa realisasi kerja sama tidak akan instan; perlu ada terobosan dalam hal pembayaran, logistik, dan regulasi.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selama ini, ekspor Indonesia masih terkonsentrasi ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang. Ketergantungan pada pasar-pasar utama itu membuat Indonesia rentan terhadap gejolak permintaan dan kebijakan proteksionis. Dengan membuka akses ke Rusia dan negara-negara EAEU lainnya, Indonesia berupaya mengurangi risiko tersebut. "Diversifikasi pasar adalah keniscayaan, dan Rusia menawarkan pasar yang besar dengan daya beli yang tumbuh," tambah Esther.
Namun, di balik optimisme itu, ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pertama, masalah pembayaran lintas negara yang masih terbatas akibat sanksi internasional terhadap Rusia. Kedua, infrastruktur logistik dan jalur pelayaran yang belum efisien. Ketiga, persepsi risiko politik yang membuat sebagian pelaku usaha ragu. Meski demikian, pemerintah tampak serius menjembatani hal ini. Prabowo, dalam kesempatan yang sama, juga mengajak perusahaan Rusia untuk berinvestasi di Indonesia, termasuk melalui skema Danantara dan kerja sama dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF).
Langkah ini tidak lepas dari posisi Indonesia yang ingin memainkan peran lebih besar di kawasan Pasifik. Prabowo menyebut bahwa Indonesia dan Rusia sama-sama negara Pasifik, sehingga kerja sama maritim dan konektivitas menjadi penting. EEF, menurutnya, bisa menjadi jembatan untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan. "Forum ini punya potensi besar untuk menjadi katalis kerja sama," kata Presiden.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah kerja sama ini akan berhasil, tetapi seberapa cepat implementasinya bisa dirasakan oleh pelaku usaha di dalam negeri. Apakah pemerintah akan menyediakan insentif bagi eksportir yang menjajaki pasar Rusia? Bagaimana mekanisme pembayaran yang akan digunakan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah Indonesia benar-benar mampu memanfaatkan peluang yang ada, atau hanya sebatas wacana diplomatik.



