Iran Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait: Perang Teluk Memasuki Babak Baru
Baca dalam 60 detik
- Teheran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan UEA sebagai balasan atas serangan Washington yang menewaskan 19 orang.
- Konflik berkepanjangan di Selat Hormuz mengancam pasokan minyak global, dengan AS menjanjikan sanksi ekonomi maksimum terhadap mitra dagang Iran.
- Serangan terhadap pesta pernikahan di selatan Iran memicu kecaman internasional dan meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut di kawasan.

Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis (3/9), sebuah langkah balasan yang menegaskan bahwa Teheran tidak gentar menghadapi ancaman Presiden Donald Trump. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Washington melakukan pemboman besar-besaran di wilayah Iran yang menewaskan sedikitnya 19 orang, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik yang telah berlangsung enam bulan terakhir.
Militer Kuwait mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan dari Iran, sementara televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa target operasi ini adalah pangkalan AS di negara Teluk tersebut sebagai respons atas "kejahatan Amerika terhadap rakyat Iran". Selain Kuwait, serangan juga dilaporkan menghantam posisi AS di Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan wilayah Kurdistan Irak yang otonom. Eskalasi ini memperdalam kebuntuan perang yang telah menempatkan Selat Hormuzโjalur vital bagi seperlima pasokan minyak duniaโdi ambang penutupan total.
Ketegangan dimulai pada Minggu lalu ketika Washington melancarkan serangan pertamanya dalam beberapa pekan, dengan alasan ingin menghentikan upaya Iran menanam ranjau laut di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menargetkan pasukan AS di Yordania dan UEA, dan kini meluas ke Kuwait. Di tengah baku tembak ini, dua kapal tanker minyak juga dilaporkan terkena proyektil dalam serangan yang tidak diklaim, menewaskan dua pelaut Filipina. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan kesiapan negaranya untuk merespons "dengan kekuatan besar" jika diserang Iran selama musim liburan Yahudi yang dimulai pertengahan September.
Di luar aksi militer, Washington semakin menekan ekonomi Iran. Menteri Energi AS, Chris Wright, berjanji bahwa rencana perluasan sanksi terhadap mitra dagang Iran akan memberikan "tekanan maksimum absolut". Trump bahkan sempat bercanda di Truth Social tentang mengganti nama Selat Hormuz menjadi "Trump Strait", meskipun kemudian mengisyaratkan bahwa itu hanya lelucon. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa AS berupaya memenangkan perang melalui jalur ekonomi, namun Iran tampaknya tidak bergeming dan justru meningkatkan serangan balasannya.
Serangan terbaru ini memicu kemarahan publik Iran, terutama setelah rudal AS menghantam sebuah pesta pernikahan di kota pesisir Kuhestak, menewaskan empat orang termasuk seorang anak dan melukai lebih dari 50 lainnya. Bulan Sabit Merah Iran mengonfirmasi korban jiwa tersebut, sementara juru bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, membantah menargetkan warga sipil, dengan menyatakan bahwa "militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC". Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam keras serangan itu dengan menyebut AS sebagai "Setan", sementara warga Iran seperti Hossein Moazami, 50 tahun, mengungkapkan keprihatinannya: "Saya berharap mereka semua kembali ke meja perundingan karena yang menderita hanya rakyat Iran."
Perang ini berakar pada serangan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan diikuti oleh runtuhnya gencatan senjata yang rapuh setelah serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak, mengingat Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk. Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi.
Di tengah eskalasi ini, pertanyaan besar yang menggantung adalah: mampukah kedua belah pihak menarik diri dari jurang perang terbuka, atau akankah serangan balasan ini memicu siklus kekerasan yang lebih luas? Dengan Israel yang siap merespons dengan kekuatan besar, dan Iran yang mengancam akan "menghancurkan fondasi" Amerika, kawasan ini berada di ambang titik didih. Dunia, termasuk Indonesia, hanya bisa berharap bahwa diplomasi masih memiliki ruang sebelum konflik ini benar-benar tak terkendali.



