Manchester United Siap Pecah Dominasi Empat Klub di WSL: Ambisi Pertama dalam Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Manchester United mengawali musim WSL 2025/2026 dengan laga tandang melawan London City Lionesses yang telah terjual habis.
- Pelatih anyar Eva Olid membawa filosofi permainan menyerang berbasis penguasaan bola, yang diyakini gelandang Julia Zigiotti Olme bisa memutus hegemoni Chelsea, Arsenal, Liverpool, dan Manchester City.
- Ekspansi liga menjadi 14 tim dan belanja besar tim-tim papan atas diprediksi membuat persaingan musim ini semakin ketat dan tidak terduga.

Manchester United memasuki musim anyar Women's Super League (WSL) dengan ambisi yang belum pernah tercapai sepanjang sejarah klub: mengangkat trofi juara untuk pertama kalinya. Keyakinan itu disuarakan gelandang asal Swedia, Julia Zigiotti Olme, menjelang laga pembuka yang sarat gengsi melawan London City Lionesses di Copperjax Community Stadium, Jumat (5/9) waktu setempat. Pertandingan tersebut dipastikan berlangsung di hadapan tribun penuh, sebuah sinyal bahwa animo terhadap sepak bola putri Inggris kian membara.
Sejak kompetisi bergulir pada 2011, takhta juara WSL hanya pernah dipegang empat nama: Chelsea, Arsenal, Liverpool, dan Manchester City yang kini bertindak sebagai juara bertahan. Namun, kehadiran Eva Olid sebagai nahkoda baru diyakini mampu mengubah peta persaingan. Pelatih asal Spanyol itu membawa angin segar dengan pendekatan permainan yang lebih berani dan atraktif. "Eva datang dengan energi besar dan gaya bermain yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Lebih berbasis penguasaan bola, lebih menyerang, dan menyenangkan untuk dimainkan," ujar Zigiotti Olme dalam wawancara daring bersama Reuters.
Zigiotti Olme, yang bergabung dengan United pada Juli 2025 setelah menempuh karier di Brighton & Hove Albion dan Bayern Munich, menilai persaingan musim ini akan berlangsung ketat. "United selalu bermain untuk menang dan menargetkan yang terbaik, tapi saya rasa semuanya akan sangat berimbang. Chelsea, Arsenal, dan City sama-sama melakukan perekrutan bagus," katanya. Pernyataan itu muncul di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang menghadirkan sejumlah nama besar ke London City, seperti gelandang Spanyol Alexia Putellas, bek Mapi Leon, serta kiper eks Inggris Mary Earps.
Fenomena belanja besar di kubu London City menjadi cermin bagaimana sepak bola putri Inggris perlahan meniru dinamika sepak bola pria. "Sepak bola wanita sedang tumbuh dan mulai menyerupai sepak bola pria. Uang memang berperan, tapi yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa menyatu sebagai tim," ujar Zigiotti Olme. Ia menambahkan bahwa meski banyak rekrutan anyar dari luar negeri, proses adaptasi tetap membutuhkan waktu. "Butuh waktu untuk terbiasa. Saya sendiri sempat setahun di Jerman, tapi Inggris adalah liga yang sangat berbeda. Intensitasnya jauh lebih tinggi, dan setiap pertandingan selalu ketat," jelasnya.
Ekspansi liga menjadi 14 tim dengan masuknya Birmingham City, Crystal Palace, dan Charlton Athletic dinilai sebagai langkah positif, sekaligus tantangan. Zigiotti Olme menggarisbawahi pentingnya kualitas merata agar kompetisi tidak timpang. "Inggris punya liga yang sangat bagus. Jika ingin berekspansi, semua tim harus mampu bersaing, kalau tidak akan terjadi naik-turun yang monoton. Tapi saya optimistis liga ini akan tetap menarik," tuturnya.
Bagi Zigiotti Olme, musim ini juga menjadi batu loncatan menuju Piala Dunia 2026 di Brasil. Meski mengaku tidak suka menatap terlalu jauh ke depan, ia sadar performa apik bersama klub akan memperkuat posisinya di tim nasional Swedia. "Itu selalu ada di pikiran, tapi untuk sekarang fokus saya adalah United. Saat mengenakan jersey Swedia, barulah saya fokus ke sana. Semoga ada Piala Dunia di masa depan, tapi yang terpenting adalah menjalani musim yang baik dan membangun kepercayaan diri," katanya.
Dengan laga pembuka yang sudah dinanti, pertanyaan besarnya kini: akankah Manchester United akhirnya memecah kebuntuan dan merebut gelar perdana di tengah gempuran tim-tim mapan? Atau justru kejutan akan datang dari London City yang bertransformasi menjadi kekuatan baru? Musim ini menyimpan banyak cerita yang layak dinantikan.



