Pramusim WSL 2: Dari Perburuan di Hutan hingga Cinta Baru di Kanada
Baca dalam 60 detik
- Klub-klub WSL 2 menggelar aktivitas bonding yang tidak lazim, mulai dari permainan ala reality show hingga kencan kilat, menjelang musim baru.
- Pelatih memanfaatkan momen ini untuk mempercepat adaptasi pemain anyar, membangun kepercayaan, dan menciptakan atmosfer tim yang solid.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran pendekatan dalam sepak bola wanita profesional, di mana aspek psikologis dan kebersamaan menjadi prioritas.

Menjelang kick-off musim 2024/2025 yang dimulai pada 4 September, klub-klub Women's Super League 2 (WSL 2) tidak hanya sibuk mengasah fisik dan taktik. Sejumlah tim justru memilih cara-cara tidak biasa untuk membangun kekompakan: dari permainan kejar-kejaran di hutan ala serial televisi, kencan kilat antarpemain, hingga pertemuan tak terduga dengan lumba-lumba di tepi laut.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa pramusim bukan lagi sekadar rutinitas latihan berat. Bagi banyak klub, momen ini menjadi ajang investasi psikologis untuk mempererat hubungan antarpemain, terutama dengan hadirnya wajah-wajah baru. Nottingham Forest, misalnya, memilih Kanada sebagai lokasi pemusatan latihan. Di sela-sela jadwal padat, para pemain diajak mengunjungi pusat satwa liar dan berfoto dengan hewan-hewan setempat, sebuah pengalaman yang jarang mereka dapatkan di Inggris.
Manajer Nottingham Forest, Tom Mallinson, bahkan merancang aktivitas yang ia sebut "speed-dating". Para pemain dipasangkan secara acak dan diminta saling mengungkapkan apresiasi serta mempelajari kelebihan masing-masing. Kapten tim, Georgia Brougham, mengaku kegiatan itu terasa sangat personal. "Setiap kali berganti pasangan, pertanyaannya selalu menggali kontribusi kita untuk tim. Ini membuat setiap orang merasa dihargai," ujarnya. Salah satu rekan setimnya yang berasal dari Swedia bahkan merasa seperti mendapat 'saudara perempuan' di negeri orang, sebuah ikatan emosional yang sulit dibangun hanya melalui latihan rutin.
Sheffield United memilih pendekatan yang lebih menantang adrenalin. Mereka mengadaptasi permainan 'Hunted' dari serial realitas Channel 4, di mana sekelompok pemain harus bekerja sama menghindari kejaran 'pemburu' di kawasan Peak District. Gelandang Joy Ralph mengaku sempat bingung dengan aturan mainnya, tetapi ia menikmati sensasi berlarian di hutan. "Kami hanya saling kejar-kejaran, tapi itu sangat menyenangkan," katanya. Aktivitas semacam ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga melatih komunikasi dan strategi dalam tekanan.
Sementara itu, kiper anyar Sunderland, Fran Stenson, yang baru bergabung dari Southampton, mendapat pengalaman tak terlupakan saat menjelajahi pantai bersama rekan-rekan barunya. Ia sempat mengira melihat hiu, tetapi ternyata sekumpulan lumba-lumba yang sedang bermain. "Aku kaget, ada banyak fotografer dan sirip besar. Kupikir itu hiu, tapi ternyata lumba-lumba. Itu salah satu hari pertamaku di sini," kenangnya. Momen seperti ini secara tidak langsung membantu pemain baru merasa lebih rileks dan terhubung dengan lingkungan barunya.
Di kubu Wolves, kekhawatiran sempat muncul ketika pelatih yang berlatar belakang Royal Air Force (RAF) membawa tim ke Lake District. Banyak pemain membayangkan latihan militer dengan lumpur di wajah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: mereka panjat tebing di dekat air terjun, berkemah, dan menyalakan api unggun. Kiper Emily Orman, yang bergabung dengan status pinjaman dari London City Lionesses, mengaku lega. "Kami sempat khawatir soal rutinitas perawatan kulit, tapi ternyata kegiatannya seru dan tetap membangun kebersamaan," katanya.
Di luar aktivitas bonding, pramusim juga menjadi ruang bagi pemain untuk mengejar minat pribadi. Emily Orman, misalnya, mengaku semakin terobsesi dengan video game berkat pengaruh pacarnya. Namun, yang lebih serius, ia mulai mengembangkan passion di bidang pembuatan film dokumenter. Ketertarikannya tumbuh saat ia menjalani pemulihan cedera pergelangan tangan musim lalu, ketika ia sempat menjadi komentator tamu dan mulai mengeksplorasi peran di media. Ia kini memiliki kanal YouTube sendiri dan bercita-cita membuat dokumenter tentang olahraga wanita. "Aku ingin belajar lebih banyak, seperti Louis Theroux atau Stacey Dooley. Sepak bola mempertemukan banyak orang dari berbagai negara, dan aku suka konteks di balik cerita mereka," ujarnya.
Bagi pengamat sepak bola wanita, tren ini menandakan pergeseran paradigma dalam manajemen tim. Pelatih tidak lagi hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kesejahteraan mental dan kohesi sosial pemain. Di Indonesia, di mana sepak bola wanita mulai mendapat perhatian lebih, pendekatan semacam ini bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub tanah air dapat mengadopsi aktivitas bonding yang lebih kreatif untuk memperkuat mentalitas tim, terutama dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah inovasi-inovasi ini akan berdampak langsung pada performa di lapangan. Apakah tim dengan ikatan emosional yang kuat akan lebih unggul dalam tekanan? Atau justru aktivitas semacam ini hanya menjadi pelengkap pramusim yang menyenangkan? Yang jelas, WSL 2 musim ini tidak hanya menjanjikan persaingan ketat, tetapi juga cerita-cerita menarik di balik layar yang layak dinantikan.



