West Ham Larang Suporter Bernyanyi Bernada Anti-Palestina: Imbauan di Tengah Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- West Ham United secara resmi mengimbau pendukungnya untuk menghentikan nyanyian bernada ofensif yang menargetkan pemain sayap asal Israel, Manor Solomon.
- Langkah ini muncul setelah video viral memperlihatkan sebagian suporter meneriakkan pesan anti-Palestina dalam laga tandang melawan Burnley di Championship.
- Klub menegaskan komitmennya pada inklusivitas, namun insiden ini menyoroti tantangan menjaga netralitas sepak bola di tengah sensitivitas politik global.

West Ham United secara resmi meminta para pendukungnya untuk menghentikan nyanyian yang dianggap "menyinggung dan memecah belah" setelah sebagian suporter meneriakkan pesan anti-Palestina dalam laga tandang melawan Burnley, Minggu lalu. Imbauan ini disampaikan klub melalui pernyataan resmi pada Kamis (20/8), menjelang laga kandang pertama mereka di Championship melawan Charlton Athletic di London Stadium, Sabtu (22/8).
Klub yang baru terdegradasi dari Premier League musim lalu itu tidak menyebutkan nama pemain yang menjadi sasaran nyanyian tersebut. Namun, sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan nyanyian itu merujuk pada Manor Solomon, winger asal Israel yang baru bergabung awal bulan ini dengan kontrak tiga tahun plus opsi perpanjangan. Solomon, 27 tahun, bahkan mencetak gol dalam laga imbang 2-2 melawan Burnley.
Langkah West Ham ini bukan sekadar respons terhadap satu insiden. Ini menjadi ujian bagi klub-klub Inggris dalam menjaga atmosfer stadion yang aman dan inklusif di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik Israel-Palestina yang kerap memicu reaksi emosional di kalangan suporter. Fenomena ini juga pernah terjadi di klub lain, seperti Tottenham Hotspur dan Arsenal, yang memiliki basis penggemar dengan latar belakang beragam.
Dalam pernyataannya, West Ham menegaskan bahwa setiap pendukung, apa pun latar belakangnya, harus bebas menikmati pertandingan tanpa rasa takut, diskriminasi, atau pelecehan. "Kami mendorong suporter untuk bernyanyi dengan lantang dan bangga tentang klub dan pemain yang mengenakan seragam claret and blue, tetapi tidak dengan cara yang menciptakan perpecahan atau menyinggung sesama penggemar," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Klub yang berdiri sejak 1895 ini juga menekankan bahwa kesetaraan, keberagaman, dan inklusi adalah nilai inti yang mereka junjung. "Kami sangat bangga bahwa West Ham selalu menjadi klub yang inklusif. Kami percaya pada kekuatan sepak bola untuk menyatukan orang," tambah pernyataan itu.
Bagi pengamat sepak bola Inggris, insiden ini menjadi pengingat bahwa stadion bukanlah ruang hampa politik. Meski klub berusaha netral, suporter kerap membawa identitas sosial dan politik mereka ke tribun. Di Indonesia, fenomena serupa juga pernah terjadi, misalnya saat suporter klub tertentu mengaitkan nyanyian dengan isu politik domestik. Hal ini menunjukkan bahwa sepak bola selalu menjadi cermin dinamika masyarakat.
Manor Solomon sendiri belum memberikan komentar publik terkait insiden ini. Namun, dukungan dari klub dan rekan setim diharapkan dapat membantunya tetap fokus pada kompetisi. West Ham saat ini bersiap menghadapi Charlton Athletic, dan atmosfer di London Stadium akan menjadi sorotan utama.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah imbauan ini cukup efektif atau justru memicu resistensi dari sebagian suporter. Klub-klub Inggris semakin sering menggunakan pendekatan edukasi dan sanksi untuk menekan perilaku diskriminatif. Namun, tanpa penegakan yang konsisten, imbauan semacam ini bisa menjadi sekadar formalitas. Apakah sepak bola Inggris mampu benar-benar menciptakan ruang yang bebas dari politik dan perpecahan? Atau justru sebaliknya, stadion menjadi arena pertarungan simbolik yang semakin panas?



