VodafoneThree Luncurkan TV dan Paket Internet Premium Berkecepatan Terjamin di Inggris
Baca dalam 60 detik
- Operator hasil merger Vodafone-Three memperkenalkan layanan TV streaming dan paket SuperMobile dengan jaminan kecepatan minimum 15 Mbps.
- Langkah ini memanfaatkan teknologi network slicing untuk memprioritaskan lalu lintas data, merespons keluhan pelanggan di area padat.
- Persaingan di pasar telekomunikasi Inggris semakin ketat, dengan BT dan EE juga mengadopsi strategi serupa.

VodafoneThree, perusahaan telekomunikasi hasil penggabungan Vodafone dan Hutchison Three di Inggris, resmi meluncurkan layanan televisi berbayar dan paket data premium dengan kecepatan terjamin pada Kamis (3/9). Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk bersaing lebih agresif dengan Sky, Virgin Media, dan BT di tengah meningkatnya kebutuhan konsumen akan konektivitas andal.
Layanan anyar yang diberi nama Vodafone TV ini menawarkan akses ke platform streaming global seperti Netflix dan HBO Max, konten linier serta on-demand dari penyiar lokal BBC dan ITV, ditambah lebih dari 300 permainan dan ribuan aplikasi. Dengan demikian, VodafoneThree tidak lagi sekadar menjadi penyedia koneksi internet, melainkan juga pemain konten yang mampu bersaing langsung dengan penyedia TV kabel dan satelit.
Di sisi lain, perusahaan memperkenalkan paket SuperMobile yang menjanjikan kecepatan unduh hingga empat kali lipat lebih cepat dibandingkan layanan reguler. Yang menarik, paket ini memberikan jaminan kecepatan minimum 15 Mbps saat pelanggan berada di area jangkauan 5G+. Teknologi di baliknya adalah fitur FastTrack yang memanfaatkan konsep network slicing—membagi jaringan menjadi beberapa bagian virtual dan memprioritaskan aliran data pelanggan premium.
Bagi pelanggan ritel, SuperMobile dapat diaktifkan dengan biaya tambahan £3 (sekitar Rp60 ribu) per bulan di atas paket Xtra yang sudah ada. Sementara untuk segmen korporasi, VodafoneThree meluncurkan varian SuperMobile bisnis yang diklaim sebagai layanan network slicing khusus perusahaan pertama di Inggris. Ini menjadi nilai jual tersendiri bagi perusahaan yang membutuhkan koneksi stabil untuk operasional kritikal.
Langkah VodafoneThree ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Bulan lalu, EE—anak usaha BT—meluncurkan produk serupa bernama Fast Lane yang juga menggunakan network slicing. Artinya, persaingan di pasar telekomunikasi Inggris kini tidak hanya berpusat pada harga dan cakupan, tetapi juga pada kualitas layanan yang terukur dan terjamin. CEO VodafoneThree, Max Taylor, menyebut SuperMobile sebagai bukti nyata manfaat merger: konektivitas lebih baik dan pilihan nyata bagi pelanggan. Sementara analis CCS Insight, Kester Mann, menilai bahwa akses ke layanan konektivitas superior di lokasi padat pengguna merupakan jawaban atas keluhan utama pelanggan soal performa jaringan yang menurun.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan gambaran bagaimana operator telekomunikasi di negara maju mulai mengadopsi teknologi network slicing untuk menawarkan layanan premium. Di dalam negeri, operator seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata masih berfokus pada perluasan cakupan 5G dan peningkatan kapasitas jaringan. Namun, dengan semakin padatnya lalu lintas data di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, keluhan soal kecepatan internet yang menurun pada jam sibuk kerap muncul. Adopsi network slicing bisa menjadi solusi yang relevan untuk menjawab kebutuhan segmen korporasi dan pengguna premium yang menuntut koneksi stabil, misalnya untuk konferensi video atau transaksi finansial.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah operator Indonesia akan mengikuti jejak VodafoneThree, melainkan kapan dan siapa yang akan memulai. Regulasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta dukungan infrastruktur akan menjadi faktor kunci. Jika di Inggris saja langkah ini baru muncul setelah merger besar, maka di Indonesia konsolidasi operator bisa menjadi pemicu serupa. Apakah pasar telekomunikasi Indonesia siap menghadirkan layanan dengan jaminan kecepatan seperti SuperMobile? Waktu yang akan menjawab.



