Mantan Wasit Premier League Akui Sengaja Menahan Peluit demi 'Tantangan Pribadi'
Baca dalam 60 detik
- Mike Dean mengaku pernah sengaja tidak meniup peluit hingga 25 menit dan bertahan di lingkaran tengah selama 15 menit saat memimpin laga Premier League.
- Pernyataan ini memicu kekhawatiran tentang profesionalisme wasit, meski otoritas sepak bola Inggris menilai klaim tersebut tidak berdasar dan terjadi sebelum era VAR.
- Kasus ini membuka kembali diskusi tentang integritas wasit di tengah meningkatnya sorotan terhadap kepemimpinan pertandingan di Indonesia.

Mantan wasit Premier League, Mike Dean, mengaku pernah menjadikan pertandingan sebagai ajang 'permainan pribadi' dengan sengaja menahan peluit atau bertahan di lingkaran tengah demi kepuasan diri. Pengakuan yang disampaikan dalam podcast Jamie Vardy ini langsung memicu perdebatan tentang profesionalisme wasit di level tertinggi sepak bola Inggris.
Dean, yang memimpin lebih dari 550 laga Premier League sepanjang kariernya, menceritakan bahwa ia kerap menantang dirinya sendiri untuk tidak meniup peluit selama mungkin. "Kami biasa berkata, 'kita mulai sekarang. Baiklah, lihat berapa lama kami bisa tanpa meniup peluit'," ujarnya. Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku mampu bertahan hingga 20-25 menit tanpa peluit, terutama sebelum era asisten wasit video (VAR) yang mulai diterapkan pada 2019.
Tak hanya itu, Dean juga mengaku pernah berdiri di lingkaran tengah lapangan dan mencoba bertahan selama mungkin sebelum akhirnya harus bergerak. "Itu hanya bercanda. Sekali waktu saya bertahan sekitar 15 menit," katanya. Meski dianggap sebagai candaan, pernyataan ini memunculkan pertanyaan serius: apakah wasit boleh bermain-main dengan aturan demi tantangan pribadi?
Otoritas perwasitan Inggris, melalui BBC Sport, menilai klaim Dean tidak berdasar dan terjadi pada era kepemimpinan lama sebelum VAR. Namun, ini bukan pertama kalinya Dean memicu kontroversi. Pada Agustus 2022, saat bertugas sebagai VAR dalam laga Chelsea melawan Tottenham Hotspur yang berakhir 2-2, ia gagal merekomendasikan kartu merah untuk Cristian Romero yang menarik rambut Marc Cucurella. Dean kemudian mengaku sengaja tidak melakukannya karena ingin melindungi rekannya, wasit Anthony Taylor, dari tekanan tambahan.
Pengakuan tersebut kala itu dianggap merusak reputasi wasit secara luas. Seorang wasit aktif bahkan menyebut Dean telah "melemparkan mereka semua ke bawah bus". Kini, dengan pengakuan barunya, Dean kembali membuka luka lama tentang integritas wasit, meski dampaknya dinilai tidak sebesar kasus sebelumnya. Tanpa contoh spesifik, sulit menentukan apakah tindakan tersebut benar-benar memengaruhi hasil pertandingan.
Konteks Indonesia: Pengakuan Dean menjadi pengingat penting bagi pengelola sepak bola nasional, terutama PSSI yang tengah berbenah meningkatkan kualitas perwasitan. Jika wasit sekaliber Premier League bisa bermain-main dengan aturan, publik Indonesia pun berhak mempertanyakan profesionalisme wasit di kompetisi lokal. Langkah PSSI memperkenalkan VAR di Liga 1 musim ini menjadi angin segar, tetapi teknologi saja tidak cukup tanpa pengawasan ketat dan sanksi tegas bagi pelanggar etika.
Dean, yang kini berusia 58 tahun, tetap menjadi sosok yang dikenal luas meski sudah empat tahun lebih meninggalkan lapangan. Pernyataan kontroversialnya selalu menarik perhatian, dan kali ini ia kembali menguji batas toleransi publik terhadap perilaku wasit. Pertanyaannya, apakah pengakuan seperti ini akan mendorong reformasi lebih dalam, atau justru semakin mengikis kepercayaan terhadap mereka yang memegang kendali pertandingan?



