Komentar Kontroversial YouTuber Picu Teguran Keras Universitas Fukushima: Riset Radiasi Bukan Lelucon
Baca dalam 60 detik
- Universitas Fukushima mengeluarkan pernyataan resmi setelah video YouTube yang mengecilkan penelitian radiasi kampus memicu kecaman publik.
- Kanal dengan 770 ribu subscriber tersebut sempat menghapus video, lalu mengunggahnya kembali dengan disclaimer, sebelum akhirnya menariknya lagi.
- Insiden ini menyoroti sensitivitas isu nuklir pasca-2011 dan pentingnya etika dalam konten pendidikan yang melibatkan institusi akademik.

Universitas Fukushima secara terbuka menegur sebuah kanal YouTube populer yang dinilai meremehkan penelitian radiasi kampus, menyusul gelombang kritik di media sosial. Dalam pernyataan resmi yang dirilis 1 September, pihak universitas menyatakan komentar dalam video tersebut "dapat dianggap kurang menghormati mahasiswa serta kegiatan pendidikan dan penelitian" yang selama ini mereka jalankan.
Video yang diunggah pada 28 Agustus oleh kanal bertema kredensial pendidikan dengan sekitar 770.000 subscriber itu memperlihatkan para kru mewawancarai mahasiswa di lingkungan kampus. Setelah menyoroti tingkat kesulitan ujian masuk yang relatif rendah, mereka bertanya tentang keunikan universitas. Seorang mahasiswa menyebut penelitian terkait radiasi sebagai keunggulan khas, mengacu pada lingkungan riset pasca-bencana nuklir 2011.
Alih-alih mengapresiasi, salah satu kru justru berkomentar, "Radiasi dan tenaga nuklir memang isu penting dalam energi," lalu menambahkan, "Saya tidak ingin Universitas Fukushima terlibat dalam hal-hal seperti itu." Pernyataan ini sontak memicu kemarahan warganet. Video sempat disetel privat, kemudian diunggah ulang pada 31 Agustus dengan disclaimer yang menyatakan tidak ada niat melecehkan korban gempa dan kecelakaan nuklir 2011. Namun, hingga 1 September pukul 17.00, video tersebut kembali ditarik dari kanal. Anggota kru yang bersangkutan juga meminta maaf melalui akun X-nya, mengakui komentarnya menunjukkan "kekurangan pertimbangan yang kritis."
Universitas menegaskan bahwa sejak kecelakaan nuklir, mereka telah mengabdikan diri pada pendidikan dan riset untuk mendukung rekonstruksi Fukushima. Penelitian tentang bencana nuklir, radiasi lingkungan, dan bidang terkait disebut sebagai "aktivitas riset penting yang dirancang untuk mengkaji pengalaman Fukushima secara ilmiah dan membagikan hasilnya kepada Jepang serta komunitas internasional." Pihak kampus juga menekankan, "Martabat mahasiswa, dosen, dan staf yang dengan tulus terlibat dalam upaya ini tidak boleh direndahkan oleh siapa pun."
Insiden ini menjadi pengingat betapa sensitifnya isu nuklir di Jepang, terutama di Fukushima yang masih bergulat dengan dampak jangka panjang bencana. Bagi Indonesia, yang juga memiliki program pengembangan nuklir untuk energi, kasus ini relevan sebagai pelajaran tentang bagaimana publik dan kreator konten seharusnya menyikapi riset ilmiah yang berkaitan dengan bencana. Menurut pengamat komunikasi publik, komentar yang meremehkan topik semacam itu tidak hanya melukai korban, tetapi juga dapat menghambat upaya ilmiah yang membutuhkan dukungan masyarakat.
Pihak universitas mengaku belum menghubungi kanal YouTube tersebut secara langsung. Pejabat Divisi Urusan Umum menjelaskan bahwa pernyataan resmi dikeluarkan untuk "menegaskan kembali komitmen jangka panjang universitas dalam penelitian energi nuklir dan radiasi." Ia juga mengungkapkan bahwa pengambilan gambar di kampus seharusnya memerlukan izin, tetapi dalam kasus ini tidak ada permohonan sama sekali.
Ke depan, kasus ini membuka pertanyaan tentang perlunya regulasi yang lebih ketat bagi kreator konten yang meliput institusi pendidikan, terutama yang menyangkut topik traumatis. Apakah kanal YouTube tersebut akan mengambil langkah lebih lanjut untuk memperbaiki citra, atau justru menjadi pelajaran bagi kreator lain agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan konten? Publik tentu menunggu sikap yang lebih bertanggung jawab dari para kreator, demi menjaga etika dan menghormati korban bencana.



