Suara G-Dragon Dijadikan Patung Setinggi 1,7 Meter di Seoul: Seni atau Komodifikasi?
Baca dalam 60 detik
- Seniman Lee Kwan-young mengabadikan gelombang suara G-Dragon dalam patung resin dan baja setinggi 170 cm, dipamerkan di JN Gallery, Gangnam.
- Karya berjudul 'PEACEMINUSONE' ini merupakan bagian dari pameran tunggal 'ECHOES' yang mengeksplorasi hubungan antara suara, memori, dan materi.
- Pameran ini membuka diskusi tentang bagaimana teknologi dan seni dapat mengabadikan momen yang fana, serta potensi komersialisasi budaya pop di Asia.

SEOUL โ G-Dragon, sosok yang telah lama dikenal sebagai legenda K-pop dan ikon mode, kini hadir dalam wujud yang sama sekali baru: sebuah patung setinggi 170 sentimeter yang dibentuk dari gelombang suaranya. Karya seni kontemporer ini menjadi pusat perhatian di JN Gallery, Gangnam, Seoul, dan mengundang publik untuk merenungkan bagaimana suara dapat diabadikan menjadi bentuk fisik yang abadi.
Patung yang dinamai "PEACEMINUSONE" โ merujuk pada merek fesyen yang didirikan oleh pemimpin BigBang itu โ merupakan karya seniman Korea Selatan, Lee Kwan-young. Lee, yang dikenal karena pendekatannya yang unik terhadap seni suara, merekam vokal G-Dragon dalam sebuah pertemuan pribadi, lalu mengekstrak gelombang suaranya menjadi bentuk visual tiga dimensi. Proses ini, menurut Lee, adalah upaya untuk "menangkap" esensi seseorang sebelum suara itu hilang ditelan waktu.
Bagi Lee, suara bukan sekadar getaran udara, melainkan entitas yang memiliki jiwa. Keyakinan ini telah mendorongnya selama bertahun-tahun untuk mengubah suara tokoh-tokoh terkenal โ seperti Barack Obama, John Lennon, dan mendiang Kardinal Kim Sou-hwan โ menjadi objek fisik. Karya-karyanya selalu mengundang pertanyaan: apakah suara dapat mewakili identitas seseorang secara utuh, atau hanya sekadar artefak yang kehilangan konteks aslinya?
Pameran tunggal bertajuk "ECHOES" ini tidak hanya menampilkan karya tentang G-Dragon. Lee juga memamerkan empat instalasi lain, termasuk patung setinggi 255 sentimeter yang dibangun dari suara ombak di Gangneung, kota pesisir timur tempat ia menghabiskan tiga tahun untuk memulihkan diri dari penyakit di usia 20-an. Ada pula karya berjudul "Stay Healthy" yang terbuat dari suara ibunya dan tanah dari kebun buah yang dulu ia garap. Setiap karya seolah menjadi penanda personal yang merekam momen-momen penting dalam hidup sang seniman.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks industri hiburan Asia yang semakin mengaburkan batas antara seni, komersial, dan budaya penggemar. Bagi penggemar K-pop di Indonesia, kehadiran patung suara G-Dragon mungkin terasa sebagai bentuk apresiasi seni yang unik, sekaligus pengingat akan besarnya pengaruh budaya pop Korea di kawasan ini. Namun, di sisi lain, karya semacam ini juga memunculkan pertanyaan tentang komodifikasi: apakah ini merupakan penghormatan tulus terhadap seorang seniman, atau justru strategi pemasaran yang memanfaatkan popularitas selebritas untuk menarik pengunjung galeri?
Lee Kwan-young sendiri menegaskan bahwa karyanya berakar pada filosofi bahwa "kata-kata memiliki jiwa". Dalam wawancara dengan The Korea Herald, ia menyatakan, "Suara adalah jejak yang ditinggalkan oleh keberadaan seseorang. Saya ingin mengabadikannya sebelum semuanya menghilang." Pernyataan ini menunjukkan bahwa baginya, seni adalah medium untuk melawan kelupaan, sebuah upaya untuk menahan laju waktu yang tak terelakkan.
Bagi publik Indonesia, pameran ini mungkin tidak dapat diakses secara langsung, tetapi gagasan di baliknya relevan dengan perkembangan seni rupa kontemporer di tanah air. Di tengah maraknya seni digital dan NFT, karya Lee menawarkan perspektif berbeda: seni yang berakar pada materialitas dan pengalaman indrawi. Ini menjadi pengingat bahwa seni tidak selalu harus bersifat digital atau virtual; ia bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana namun mendalam, seperti gelombang suara yang diwujudkan menjadi objek.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah tren mengabadikan suara ini akan meluas, dan bagaimana respons pasar seni Asia terhadap karya-karya semacam ini? Akankah para kolektor Indonesia mulai melirik seni suara sebagai alternatif investasi? Atau justru karya-karya ini akan tetap menjadi niche, hanya diapresiasi oleh segelintir penikmat seni? Yang jelas, "ECHOES" telah membuka ruang dialog baru tentang bagaimana kita memaknai suara, memori, dan identitas dalam lanskap budaya yang semakin cair.



