Romesh Ranganathan Buka Suara: Anak-anaknya Jadi Korban Rasisme di Sekolah
Baca dalam 60 detik
- Komika asal Inggris, Romesh Ranganathan, mengungkap pengalaman pahit anak-anaknya yang kerap menerima komentar rasis di lingkungan sekolah.
- Ranganathan menilai orang tua pelaku rasis turut bertanggung jawab karena sikap intoleran kerap ditularkan dari rumah.
- Ia memilih mengajarkan anak-anaknya untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap hinaan rasial, agar pelaku tidak mendapatkan kepuasan.

Komika Inggris keturunan Sri Lanka, Romesh Ranganathan, mengungkap bahwa ketiga putranya—Alex (16), Theo (14), dan Charlie (11)—telah menjadi sasaran pelecehan rasis di sekolah. Pengakuan ini disampaikan dalam podcast Wolf and Owl yang ia bawa bersama komika Tom Davis, membuka kembali luka lama tentang rasisme yang masih membelenggu masyarakat Inggris.
Ranganathan, yang lahir dari orang tua Tamil Sri Lanka, menceritakan bahwa anak-anaknya kerap menerima komentar bernada rasis, meski tidak separah yang ia alami semasa kecil di West Sussex. Salah satu insiden yang paling membekas adalah ketika seorang teman sekolah berkata kepada salah satu putranya, "Tidak ada gunanya kamu mengobrol dengan gadis itu, kamu toh akan menikahi sepupumu sendiri." Ucapan stereotip ini menunjukkan bagaimana prasangka terhadap komunitas Asia Selatan masih mengakar kuat.
Selain itu, putra sulungnya, Alex, juga pernah mendengar kata bernada hinaan yang merujuk pada etnisnya saat berjalan di lorong sekolah. Ranganathan mengaku tidak terlalu terkejut, karena ia sendiri mengalami perlakuan serupa sejak kecil, mulai dari diludahi oleh teman sekolah hingga dikeroyok oleh sekelompok skinhead saat keluar dari klub malam di masa kuliah.
Yang menarik, Ranganathan tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak pelaku. Ia justru menyoroti peran orang tua di balik perilaku rasis tersebut. "Pada titik tertentu, kita harus sadar bahwa mereka pasti mendengar hal seperti itu di rumah," ujarnya. "Jadi, setiap kali saya melihat atau mendengar ada anak yang melakukan itu, saat bertemu orang tuanya, saya berpikir, 'Kamu rasis,' dan itu hal yang mengerikan."
Meski mengecam keras tindakan rasis, Ranganathan memilih pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya. Ia menekankan pentingnya tidak "menyulut api" dengan bereaksi berlebihan. "Jika seseorang memanggilmu dengan sebutan rasis dan kamu langsung meledak, itu justru memberi mereka kekuatan atasmu," jelasnya. "Saya tidak bilang kita tidak boleh bereaksi, tapi saya tidak ingin anak-anak saya sampai melakukan kekerasan."
Pernyataan Ranganathan ini memicu diskusi tentang bagaimana cara terbaik merespons rasisme, terutama di lingkungan sekolah. Di Indonesia, isu ini juga relevan mengingat keberagaman etnis dan agama yang seringkali menjadi celah munculnya diskriminasi. Kasus perundungan bernuansa SARA di sekolah-sekolah Indonesia masih kerap terjadi, dan seringkali dianggap sebagai kenakalan remaja belaka.
Di tengah meningkatnya kesadaran global akan pentingnya pendidikan anti-rasisme, pengakuan Ranganathan menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan diskriminasi masih jauh dari selesai. Pertanyaannya, apakah sekolah-sekolah di Indonesia sudah cukup tanggap dalam menangani kasus perundungan bernuansa SARA? Ataukah masih banyak yang memilih menutup mata demi menjaga nama baik institusi?



