Erupsi Sinabung Meningkat, 615 Warga Karo Dievakuasi ke Posko Pengungsian
Baca dalam 60 detik
- BNPB mengevakuasi 615 warga Desa Kuta Tengah ke Posko Sukatepu menyusul erupsi besar Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara.
- Status gunung dinaikkan ke Level III (Siaga) oleh PVMBG, dengan zona bahaya diperluas hingga radius 6 kilometer ke arah selatan-timur.
- Warga Desa Payung masih bertahan di rumah namun dalam siaga penuh; BNPB memantau perkembangan dan mengimbau kepatuhan pada rekomendasi resmi.

Sebanyak 615 warga Desa Kuta Tengah di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terpaksa meninggalkan rumah mereka menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung yang berstatus Siaga. Evakuasi yang dilakukan petugas gabungan ini merupakan respons cepat terhadap erupsi besar yang terjadi sejak awal pekan, memaksa warga mengungsi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa 211 keluarga telah tercatat di lokasi pengungsian. "Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 211 keluarga atau 615 jiwa warga Desa Kuta Tengah telah berada di lokasi pengungsian," ujarnya di Jakarta, Rabu. Langkah ini diprioritaskan bagi warga yang bermukim di zona rawan erupsi, termasuk Desa Payung di Kecamatan Payung yang juga masuk kawasan paparan letusan.
Peningkatan status Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjadi pemicu utama evakuasi. Sebelumnya, gunung setinggi 2.460 meter itu melontarkan kolom abu tebal mencapai 3.500 meter di atas puncak, mengindikasikan ancaman yang semakin nyata bagi permukiman di sekitarnya.
Meski demikian, warga Desa Payung dilaporkan masih bertahan di kediaman masing-masing. "Mereka tetap dalam kondisi siaga penuh di bawah pemantauan tim gabungan," kata Berton. Keputusan ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kerentanan antara dua desa, dengan Kuta Tengah yang lebih dekat dengan pusat erupsi memerlukan evakuasi segera.
BNPB bersama Badan Geologi Kementerian ESDM memperluas zona bahaya untuk mengantisipasi potensi ancaman lanjutan. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas di seluruh desa yang telah direlokasi, serta menghindari radius 3 kilometer dari puncak dan radius sektoral hingga 6 kilometer ke arah selatan-timur. Imbauan ini menjadi panduan krusial bagi warga dan pihak terkait dalam menjaga keselamatan.
Bagi Indonesia, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana vulkanik, terutama di wilayah Sumatera yang memiliki sejumlah gunung api aktif. Evakuasi yang cepat dan terkoordinasi menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa, meskipun tantangan logistik dan psikologis bagi pengungsi tetap menjadi perhatian.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemulihan jangka panjang bagi warga yang mengungsi, serta apakah status Siaga akan bertahan lama atau meningkat lebih tinggi. BNPB dan pemerintah daerah perlu memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, sambil terus memantau perkembangan aktivitas gunung untuk memberikan informasi yang akurat kepada publik.



