Marina Square Tutup 2027: Pedagang Kaget, Kompensasi Jadi Pertanyaan Besar
Baca dalam 60 detik
- SingLand mengonfirmasi penutupan total Marina Square pada Maret 2027 untuk proyek hunian mewah dan hotel, memicu ketidakpastian bagi puluhan penyewa.
- Sejumlah pedagang baru mengetahui kabar dari pelanggan, bukan dari manajemen, dan mempertanyakan nasib sewa yang masih berjalan hingga 2027.
- Dampak bergulir ke sektor ritel Singapura: biaya renovasi hangus, relokasi mahal, dan persaingan antar-mal untuk mempertahankan penyewa.

Singapore Land Group (SingLand) resmi mengumumkan penutupan total Marina Square Shopping Mall pada 31 Maret 2027 sebagai bagian dari rencana besar mengubah kawasan itu menjadi hunian mewah, hotel baru, apartemen servis, dan perkantoran. Keputusan yang diumumkan Selasa pagi itu sontak memicu kecemasan di kalangan penyewa, terutama mereka yang kontrak sewanya masih berjalan hingga melampaui tanggal penutupan.
Proyek revitalisasi yang ditargetkan rampung pada 2031 ini mencakup peningkatan aset seluas lebih dari 76.000 meter persegi. Tiga hotel yang berada dalam kompleks yang sama dipastikan tetap beroperasi selama konstruksi berlangsung. Namun, nasib empat lantai pusat perbelanjaan yang telah berdiri sejak 1986 itu menjadi tanda tanya besar bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di sana.
Sejumlah penyewa mengaku baru mengetahui kabar penutupan dari pelanggan yang mengirim pesan, sebelum menerima pemberitahuan resmi dari pengelola. May Teo, pemilik Stoneage Collection yang telah berjualan di Marina Square selama 22 tahun, mengaku sempat mendengar isu revitalisasi setahun lalu, tetapi manajemen saat itu belum memastikan apa pun. Kini, di usianya yang ke-65, ia merasa berat untuk memulai dari nol di lokasi baru. "Untuk usia saya, mencari tempat baru berarti mengeluarkan banyak tenaga dan biaya renovasi yang mahal," ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Joraine Tan, pemilik Prestique Studio, outlet kebugaran trampolin yang baru beroperasi sejak 2021. Kontrak sewanya baru berakhir Desember 2027, sehingga ia merasa diberi waktu yang terlalu singkat untuk mencari pengganti. "Tidak ada opsi relokasi dari pengelola. Kami berharap ada kejelasan agar bisa merencanakan keluar dengan baik," katanya. Meski beberapa mal lain telah menawarkan tempat, Tan mengaku biaya pindah menjadi beban tersendiri.
Manajemen Sharewow, toko cetak figur 3D yang baru buka pada 2024, juga mengaku kaget. "Kami baru dengar kabar ini dari pelanggan dan berita online. Renovasi yang kami lakukan mahal, tapi baru bertahan tiga tahun. Itu yang paling menyakitkan," ujar seorang manajer yang enggan disebut namanya. Sementara itu, pemilik Coco Veggie Nyonya Cuisine, Mr Gan, memilih pasrah. "Di Singapura, tidak ada tempat yang bertahan lama. Setelah tiga tahun, tuan tanah pasti menaikkan sewa," katanya, sembari menyebut sudah dihubungi sejumlah mal lain sejak isu revitalisasi mencuat dua tahun lalu.
Menanggapi pertanyaan soal kompensasi, juru bicara SingLand menegaskan bahwa pihaknya telah mengomunikasikan rencana tersebut kepada penyewa dan berkomitmen menjalankan proses yang adil. "Kami akan terus berdiskusi soal jadwal dan langkah berikutnya, termasuk pemulihan tempat usaha, agar mereka bisa merencanakan ke depan," ujarnya. Pengelola juga berjanji tetap menjalankan aktivitas bisnis seperti biasa dan akan merayakan ulang tahun ke-40 mal pada periode transisi.
Bagi Synwin Violins, yang telah menjadi penyewa sejak 2009, penutupan ini menjadi ujian nyata. Manajernya, Wayne Yap, mengaku sudah mempersiapkan diri secara mental. "Semua ada awal dan akhir. Ketika harinya tiba, ini benar-benar menguji apakah saya siap," katanya. Ia kini mempertimbangkan untuk pindah ke lokasi di luar mal demi menghindari tekanan sewa yang terus meningkat.
Fenomena ini menjadi cermin bagi industri ritel Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di tengah menjamurnya mal baru dan perubahan perilaku belanja. Pertanyaannya, akankah pengelola mal di Jakarta atau Surabaya belajar dari kasus Marina Square untuk memberikan kepastian lebih awal kepada penyewa? Atau justru makin banyak pedagang yang memilih meninggalkan mal demi fleksibilitas lokasi non-mal? Keputusan SingLand mungkin baru awal dari gelombang transformasi ritel kawasan yang lebih luas.



