Rekor Transfer Premier League Tembus Rp60 Triliun: Dominasi Klub Inggris Makin Tak Terbendung
Baca dalam 60 detik
- Total belanja klub Premier League pada bursa musim panas ini mencapai 3,198 miliar poundsterling, menembus rekor tahun lalu.
- Fenomena 'klub membeli dari klub sendiri' meningkat, dengan 38% transaksi terjadi antar klub Premier League.
- Daya tarik finansial Liga Inggris semakin mengerdilkan liga lain, bahkan klub promosi seperti Ipswich Town mampu membelanjakan lebih banyak daripada raksasa Eropa.

Bursa transfer musim panas Premier League kembali mencatat sejarah. Hingga penutupan jendela transfer, total belanja klub-klub kasta tertinggi Inggris mencapai 3,198 miliar poundsterling (sekitar Rp65 triliun), menembus rekor musim lalu yang sebesar 3,14 miliar poundsterling. Angka ini menegaskan dominasi finansial Liga Inggris yang kian sulit ditandingi liga lain di Eropa.
Pencapaian ini diraih setelah Manchester City memastikan transfer Iliman Ndiaye dari Everton dengan nilai awal 60 juta poundsterling pada hari terakhir bursa. Padahal, lima tahun lalu total belanja klub Premier League hanya sekitar 1,13 miliar poundsterling. Paul Macdonald, pendiri FootballTransfers.com, menyebut data ini menunjukkan kekuatan klub-klub Inggris dalam menarik talenta terbaik dunia.
Musim ini, empat dari sebelas transfer termahal dalam sejarah sepak bola terjadi, dan tiga di antaranya melibatkan klub Premier League. Chelsea memecahkan rekor transfer pemain Inggris dengan memboyong Morgan Rogers dari Aston Villa senilai 117 juta poundsterling, sementara Manchester City mengeluarkan 116 juta poundsterling untuk Elliot Anderson dari Nottingham Forest. Liverpool juga tak kalah agresif dengan menebus Bradley Barcola dari Paris Saint-Germain dengan nilai awal 106 juta poundsterling yang bisa naik menjadi 123 juta poundsterling.
Yang menarik, mayoritas pembelian besar justru terjadi antar klub Premier League sendiri. Sekitar 38% transaksi berbayar musim ini melibatkan dua klub Inggris, naik dari 30% tahun lalu. Angka ini bahkan meningkat menjadi 48% jika memperhitungkan pembelian dari klub-klub di divisi bawah. Fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi: klub lebih memilih pemain yang sudah teruji di Premier League daripada berburu bakat dari luar negeri.
Salah satu alasan di balik tren ini adalah kegagalan sejumlah pemain mahal asal Bundesliga musim lalu yang tidak sesuai ekspektasi. Selain itu, klub-klub asing cenderung menaikkan harga saat berhadapan dengan klub Inggris yang dikenal kaya raya. Ada juga indikasi praktik akuntansi antar klub, seperti yang terjadi antara Chelsea dan Aston Villa yang saling menjual pemain.
Dampaknya terasa hingga ke klub promosi. Ipswich Town, yang baru naik kasta, tercatat membelanjakan lebih banyak uang daripada Barcelona, AC Milan, Juventus, dan Paris Saint-Germain. Hal ini menunjukkan betapa timpangnya distribusi kekayaan di sepak bola Eropa. Net spend Premier League pun masih di atas 1 miliar poundsterling, jauh melampaui liga lain, sementara Bundesliga dan Ligue 1 justru mencatat surplus dari penjualan pemain.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan semakin lebarnya jurang antara liga top Eropa dan liga-liga berkembang. Ketimpangan finansial ini tidak hanya memengaruhi pasar transfer, tetapi juga distribusi talenta global. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Premier League akan semakin menjadi 'super league' de facto, sementara kompetisi lain hanya menjadi pemasok pemain. Pertanyaannya, mampukah UEFA dan federasi sepak bola dunia menahan laju dominasi ini demi menjaga keseimbangan kompetisi?



