Timnas Anggar Indonesia Rekrut Dua Pelatih Jepang demi Tiket Emas Asian Games 2026
Baca dalam 60 detik
- PB IKASI menggandeng Ryohei Noguchi dan Takamasa Wada untuk mendampingi tujuh atlet dalam pemusatan latihan di Jepang, 7–18 September.
- Langkah ini merupakan hasil lobi langsung Menpora Erick Thohir kepada Presiden NOC Jepang, membuka akses latihan bersama tim Negeri Sakura.
- Target realistis yang dicanangkan adalah medali perunggu dari nomor beregu foil dan sabre putri, dengan harapan memperbaiki prestasi di kancah Asia.

Jakarta — Timnas Anggar Indonesia tidak main-main dalam menyongsong Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) mengamankan jasa dua pelatih asal Jepang, Ryohei Noguchi dan Takamasa Wada, untuk mendampingi tujuh atlet dalam pemusatan latihan (TC) di Negeri Sakura pada 7–18 September mendatang. Ini bukan sekadar program latihan biasa; ada misi besar di baliknya: memutus puasa medali di ajang multicabang terbesar se-Asia.
Keputusan ini diumumkan Sekretaris Jenderal PB IKASI, Firtian Judiswandarta, di Jakarta, Selasa. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya bahkan masih melobi Hiroshi Hashimoto, pelatih kawakan lainnya, untuk turut memperkuat tim pelatih. Kehadiran pelatih-pelatih Jepang ini dinilai krusial mengingat tradisi anggar Negeri Matahari Terbit yang konsisten bersaing di level tertinggi Asia, termasuk Olimpiade.
TC di Jepang ini bukan sekadar rutinitas. Para atlet—Aldo Arjono satu-satunya wakil putra, serta Leoda Lindy Wimona, Riley Faith Kumalaputra, Fadilah Aprilia Budifirdausi, Reni Anggraini, Nia Agustina, dan Putri Yanti—akan mendapat kesempatan langka berlatih bersama Timnas Anggar Jepang. Setelah TC, mereka tidak akan pulang ke Indonesia, melainkan langsung melanjutkan persiapan menuju kompetisi. Ini menunjukkan keseriusan dan efisiensi dalam memanfaatkan waktu yang ada.
Di balik suksesnya kerja sama ini, ada peran penting Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir. Saat menghadiri Kejuaraan Anggar Kadet dan Junior Asia di Jakarta pada Februari lalu, Erick Thohir secara langsung menghubungi Presiden Komite Olimpiade Nasional (NOC) Jepang untuk membuka jalur komunikasi. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa diplomasi olahraga tingkat tinggi dapat membuka pintu peluang yang sebelumnya sulit dijangkau.
Namun, di balik optimisme, PB IKASI tetap memasang target yang realistis. Firtian menegaskan bahwa tim akan berjuang untuk menyumbangkan medali perunggu, khususnya dari nomor beregu foil dan sabre putri. Target ini dinilai masuk akal mengingat persaingan di Asia sangat ketat, dengan dominasi negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Jepang sendiri. “Kita berpeluang meraih medali perunggu dari Tim Beregu Foil dan Sabre putri,” ujarnya.
Langkah ini menarik untuk dicermati, terutama bagi pengamat olahraga dan publik Indonesia. Kehadiran pelatih asing, khususnya dari Jepang yang dikenal disiplin dan teknis, diharapkan mampu meningkatkan kualitas atlet secara signifikan. Namun, pertanyaannya, apakah target perunggu ini cukup ambisius? Atau justru terlalu rendah, mengingat investasi yang dikeluarkan? Yang jelas, ini adalah ujian bagi manajemen PB IKASI dalam mengelola ekspektasi dan sumber daya.
Bagi Indonesia, keberhasilan tim anggar di Asian Games nanti bukan hanya soal medali. Ini juga tentang membangun kepercayaan diri dan infrastruktur olahraga yang lebih baik. Jika target perunggu tercapai, ini bisa menjadi fondasi untuk prestasi yang lebih tinggi di masa depan, bahkan menuju Olimpiade. Namun, jika gagal, akan menjadi evaluasi besar bagi seluruh pemangku kepentingan.
Ke depan, publik akan menanti apakah Hiroshi Hashimoto benar-benar bergabung, dan bagaimana perkembangan atlet selama TC di Jepang. Yang lebih penting, apakah hasil TC ini akan terlihat dalam performa mereka di Asian Games? Jawabannya akan menentukan arah pembinaan anggar Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.



