Rahasia 30 Tahun Mary Austin: Anak-anaknya Tak Pernah Tahu soal Freddie Mercury
Baca dalam 60 detik
- Mary Austin, pewaris rumah dan setengah kekayaan Freddie Mercury, mengaku tak pernah membahas hubungannya dengan mendiang kepada kedua putranya hingga mereka dewasa.
- Anak-anaknya baru mengetahui asal-usul rumah mereka saat Mary bersiap melelang barang-barang peninggalan sang legenda Queen beberapa tahun lalu.
- Keterbukaan tentang Freddie justru mempererat hubungan keluarga, dengan putranya, Jamie, mengaku kini lebih menghargai perjuangan ibunya.

Mary Austin, perempuan yang mewarisi rumah dan setengah kekayaan Freddie Mercury, mengaku selama puluhan tahun merahasiakan hubungannya dengan sang legenda Queen dari kedua putranya. Baru ketika ia bersiap melelang sebagian barang peninggalan Mercury, anak-anaknya—Richard dan James—menyadari asal-usul rumah yang mereka tinggali.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Austin yang kini berusia 75 tahun menuturkan bahwa putra-putranya sama sekali tidak tahu tentang Queen maupun Freddie Mercury hingga mereka berusia akhir 20-an. "Mereka tidak tahu apa-apa tentang Queen, karena saya tidak pernah memberi tahu mereka. Saya tidak pernah bercerita tentang Freddie," ujarnya. Bahkan, salah satu putranya sempat mengira rumah megah di Garden Lodge itu warisan dari kakek buyutnya.
Keputusan Austin untuk bungkam bukan tanpa alasan. Ia mengaku membaca banyak buku psikologi tentang perkembangan anak laki-laki dan merasa bahwa masa kecil adalah fondasi utama pembentukan karakter. "Saya tidak ingin mereka tumbuh menjadi orang lain selain diri mereka sendiri," katanya. Ia juga mengaku menghindari topik Freddie karena membicarakannya selalu membuatnya menangis—bahkan setelah puluhan tahun kepergiannya.
Namun, di balik keheningan itu, putranya Jamie justru menyimpan kesadaran yang lebih dalam. Ia mengaku tahu tentang hubungan ibunya dengan Freddie, tetapi sengaja tidak membahasnya untuk menghormati perasaan sang ibu. "Saya tahu ibu punya hubungan dengan Freddie. Kami tidak pernah membicarakannya sebagai keluarga. Sangat sulit, bahkan ketika saya sudah dewasa, bagi ibu untuk membicarakannya. Ada banyak emosi. Kehilangan itu masih terasa," tutur Jamie.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa duka dan cinta bisa berjalan beriringan dalam diam. Bagi publik Indonesia yang akrab dengan kisah Freddie Mercury—baik melalui film *Bohemian Rhapsody* maupun lagu-lagu legendarisnya—kisah Mary Austin membuka sisi lain yang jarang terungkap: bagaimana seorang perempuan memilih melindungi anak-anaknya dari bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, sambil tetap menyimpan setia kenangan akan cinta seumur hidupnya.
Kini, setelah puluhan tahun memendam, Austin mulai membuka diri. Jamie mengaku bahwa momen pertama kali membahas Freddie adalah "pembuka pintu" bagi keluarganya. "Itu momen besar bagi seluruh keluarga. Butuh bertahun-tahun sejak pertama kali kami membicarakannya," ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasinya secara langsung kepada ibunya: "Sekarang saya sangat menghargai semua yang Anda lalui. Saya hidup 30 tahun dengan cara yang sangat berbeda dari Anda, tetapi saya punya apresiasi yang sangat berbeda tentang betapa sulitnya segalanya bagi Anda dan mengapa Anda membuat keputusan untuk melindungi kami sebaik mungkin."
Kisah Mary Austin mengajarkan bahwa cinta tak selalu harus diucapkan. Namun, di era di mana segala sesuatu cenderung diekspos, keputusan untuk menjaga privasi justru menjadi barang langka. Pertanyaannya, apakah generasi muda Indonesia yang tumbuh dengan budaya berbagi di media sosial masih memahami nilai dari menyimpan cerita—bahkan yang paling berharga—untuk diri sendiri?



