Roma Kunci Koné, Gittens dan Leweling Jadi Target: Sinyal Ambisi di Bursa Transfer
Baca dalam 60 detik
- Roma menolak melepas Manu Koné ke Chelsea, memaksa skema pinjaman Gittens batal.
- Jamie Leweling menolak tawaran Roma dan Everton, diprediksi bertahan di Stuttgart.
- Langkah Roma menunjukkan prioritas mempertahankan inti tim sambil mengejar sayap baru.

AS Roma secara tegas memblokir kepindahan gelandang andalannya, Manu Koné, ke Chelsea pada bursa transfer musim dingin ini. Keputusan itu sekaligus menggagalkan rencana pinjaman Jamie Gittens yang sempat menjadi bagian dari negosiasi kedua klub. Namun, ambisi Roma di lini sayap belum padam: mereka masih memburu Jamie Leweling dari Stuttgart, meski peluangnya tipis.
Menurut laporan Sky Sport Italia yang dikonfirmasi Gazzetta dello Sport, pembicaraan antara pemilik Chelsea dan Roma sempat berjalan intensif. Chelsea siap melepas Gittens dengan status pinjaman ke Stadio Olimpico sebagai pelicin kesepakatan. Akan tetapi, pelatih Gian Piero Gasperini dan direktur olahraga Tony D'Amico bersikeras mempertahankan Koné, yang menjadi pilar di lini tengah Giallorossi musim ini. Penolakan itu membuat skema transfer yang melibatkan pemain sayap asal Inggris tersebut batal total.
Keputusan Roma ini menarik karena mencerminkan prioritas klub: mempertahankan inti tim di tengah tekanan finansial. Koné, yang direkrut dari Borussia Mönchengladbach, tampil konsisten dan menjadi salah satu pemain kunci dalam skema Gasperini. Melepasnya demi Gittens yang belum tentu langsung adaptif dianggap terlalu berisiko, terutama saat Roma masih berjuang di papan atas Serie A dan Liga Europa.
Di sisi lain, upaya Roma untuk mendatangkan Jamie Leweling menemui jalan buntu. Winger asal Jerman itu telah menolak tawaran Roma, dan menurut pakar transfer Florian Plettenberg, Everton juga gagal meyakinkannya pada menit-menit akhir bursa. Plettenberg menulis di X bahwa kecuali ada kejutan, Leweling akan bertahan di Stuttgart. Pemain berusia 25 tahun itu merasa nyaman dan melihat proyek Stuttgart lebih menjanjikan untuk perkembangan kariernya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah Roma ini menunjukkan perubahan pendekatan dalam negosiasi. Alih-alih tergoda tawaran finansial, klub lebih memilih stabilitas skuad. Ini sejalan dengan tren klub-klub Serie A yang mulai berani menolak tawaran klub kaya Inggris demi mempertahankan aset berharga. Namun, konsekuensinya, Roma harus mencari alternatif lain untuk memperkuat sayap, sebuah posisi yang masih terbilang minim opsi di luar Dybala dan El Shaarawy.
Di Indonesia, berita ini relevan bagi penggemar Serie A yang kerap menjadikan Roma sebagai klub favorit. Keputusan Roma juga menjadi pelajaran bahwa kekuatan finansial tidak selalu menentukan dalam bursa transfer. Bagi para pengamat, ini menegaskan bahwa negosiasi modern melibatkan banyak variabel, termasuk visi pelatih dan proyek jangka panjang klub.
Ke depan, pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi solusi Roma di lini sayap? Apakah mereka akan kembali mengincar Gittens di bursa musim panas, atau mencari nama lain yang lebih realistis? Sementara itu, Leweling yang bertahan di Stuttgart akan menjadi sorotan, apakah ia mampu mempertahankan performa dan menarik minat klub besar lain di kemudian hari. Roma tampaknya harus bersabar, karena target yang diinginkan tidak selalu mudah didapat.



