Jane Fonda Menangis Mengenang Dolly Parton: 'Dia Adalah Cinta'
Baca dalam 60 detik
- Jane Fonda menangis saat mengenang Dolly Parton, menyebut mendiang sahabatnya sebagai sosok yang mengajarkan arti menghormati penggemar.
- Di balik persona glamornya, Parton dinilai sebagai feminis sejati karena selalu memegang kendali atas hidup dan kariernya.
- Kenangan Fonda tentang momen Parton menyanyikan lagu '9 to 5' dengan kuku sebagai alat musik menjadi bukti kejeniusan sang legenda.

Jane Fonda, aktris legendaris berusia 88 tahun, tak kuasa menahan air mata ketika diminta mengenang mendiang Dolly Parton. Dalam wawancara dengan Democracy Now, Fonda menyebut Parton, yang wafat pada usia 80 tahun, sebagai sosok yang 'berarti cinta' baginya dan banyak orang.
Bagi Fonda, Parton bukan sekadar rekan main dalam film ikonik '9 to 5', melainkan guru kehidupan. Salah satu pelajaran terpenting yang ia dapatkan adalah tentang pentingnya menghargai penggemar. Fonda mengenang bagaimana Parton, dengan segala kemegahan penampilannya, selalu turun ke pelosok Tennessee dan Arkansas, mendatangi penggemar yang hidup di gubuk-gubuk tanpa listrik dan air bersih. 'Dia tidak pernah merendahkan mereka. Dia selalu menjadi dirinya sendiri, sebagai bentuk penghormatan pada penggemarnya,' ujar Fonda.
Momen yang paling membekas bagi Fonda adalah ketika Parton pertama kali memperdengarkan lagu tema '9 to 5' padanya dan Lily Tomlin di sela syuting. 'Kami merinding. Dia menyanyikannya sambil menggunakan kuku panjangnya sebagai alat musik perkusi. Kami saling pandang dan berpikir, 'Ini dia. Lagu ini pasti akan menjadi hit. Ini adalah anthem gerakan sekretaris,'' kenang Fonda. Lagu tersebut memang kemudian menjadi ikon feminisme dan perjuangan buruh kantoran.
Fonda juga menegaskan bahwa Parton adalah seorang feminis sejati. 'Dia tahu sejak awal siapa dirinya. Dia sadar orang akan mengolok-olok penampilannya, jadi dia mendahului mereka dengan cerdas. Dia selalu memegang kendali atas hidup, bakat, dan bisnisnya,' tegas Fonda. Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik persona glamor dan ramah, Parton adalah pebisnis ulung yang tidak pernah membiarkan orang lain mendikte hidupnya.
Dalam unggahan Instagram-nya, Fonda menuliskan penghormatan terakhir yang menyentuh. Ia menggambarkan Parton sebagai pribadi yang kompleks: 'Dia adalah gadis Selatan yang nakal dan ceria dari pedalaman Tennessee, sekaligus pemikir mendalam yang bisa menembus hati seseorang. Dia punya insting bertahan hidup yang kuat, selalu tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan untuk membuat segalanya benar.' Fonda juga menyebut Parton sebagai 'perwujudan empati' yang ingin mewariskan nilai tersebut kepada semua orang.
Bagi penggemar di Indonesia, kepergian Dolly Parton meninggalkan duka mendalam. Musiknya, seperti 'Jolene' dan 'I Will Always Love You', telah melintasi generasi dan menjadi bagian dari soundtrack kehidupan banyak orang. Warisan Parton tidak hanya berupa lagu-lagu abadi, tetapi juga teladan tentang bagaimana seorang seniman bisa tetap rendah hati, menghargai penggemar, dan berpegang teguh pada prinsip di tengah gemerlap industri hiburan.
Pertanyaannya kini, mampukah generasi musisi masa kini meniru jejak Parton dalam membangun hubungan autentik dengan penggemar dan memegang kendali atas karya mereka? Atau justru era digital semakin menjauhkan artis dari penggemarnya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: nama Dolly Parton akan terus dikenang sebagai legenda yang mengajarkan bahwa cinta dan rasa hormat adalah fondasi dari kesuksesan sejati.



