Biopic Britney Spears: Penulis Skenario Yakin Kini Waktu yang Tepat Angkat Kisah di Balik Konservator
Baca dalam 60 detik
- Liz Meriwether, kreator New Girl, tengah menulis skenario film biopik Britney Spears yang diangkat dari memoar The Woman in Me.
- Film arahan Jon M. Chu ini dianggap relevan karena menyoroti tekanan media dan sistem konservator yang membelenggu Britney selama 14 tahun.
- Proyek ini masih dalam tahap awal, dengan spekulasi pemeran utama seperti Sabrina Carpenter dan Sydney Sweeney, serta keterlibatan langsung Britney.

Liz Meriwether, penulis skenario di balik film biopik Britney Spears, menegaskan bahwa kini adalah momen yang tepat untuk mengangkat kisah hidup pelantun "Toxic" tersebut ke layar lebar. Proyek yang telah lama dinanti ini diadaptasi dari memoar Britney yang berjudul The Woman in Me, yang terbit pada 2023, dan akan disutradarai oleh Jon M. Chu.
Meriwether, yang dikenal sebagai kreator serial komedi New Girl, meyakini bahwa refleksi atas perjalanan karier Britneyโdari puncak ketenaran di usia muda hingga tekanan publik yang berujung pada konservator selama hampir 14 tahunโsangat relevan untuk diceritakan saat ini. "Anda terlibat dalam percakapan yang tampak normal, tetapi sepuluh tahun kemudian Anda menyadari bahwa fondasinya keliru," ujarnya kepada Vanity Fair. "Saya pikir ini waktu yang tepat untuk melihat ke belakang dan merenungkannya."
Bagi Meriwether, kisah Britney adalah fenomena unik yang lahir dari persimpangan antara perhatian media yang intens dan lahirnya bentuk-bentuk media baru. "Apa yang dia alami adalah badai sempurna dari perhatian dan media," katanya. Penulis berusia 44 tahun itu mengaku sedang mendalami seluruh katalog musik Britney untuk menangkap nuansa era tersebut, termasuk lagu-lagu yang kurang populer seperti "Perfume" dan "If I'm Dancing".
Di sisi lain, sang sutradara Jon M. Chu memastikan Britney akan terlibat langsung dalam penggarapan film. "Dia akan sangat terlibat," kata Chu kepada Entertainment Tonight. Meski proyek masih dalam tahap awal, Chu mengaku telah memiliki pendekatan dan ide, namun ia masih terbuka terhadap berbagai kemungkinan, termasuk soal pemilihan pemeran utama. Nama-nama seperti Sabrina Carpenter dan Sydney Sweeney sempat disebut-sebut oleh penggemar, dan Chu mengaku mempertimbangkan masukan tersebut.
Chu juga mengungkapkan bahwa membaca The Woman in Me mengubah cara pandangnya terhadap Britney. "Dia selalu menjadi ikon, tetapi setelah membaca bukunya, dia menjadi manusia bagi saya," tuturnya kepada Bustle. "Saya berharap dapat menyampaikan kemanusiaannya dan spektakel dari segala kejayaannya." Ia ingin mengeksplorasi ekspektasi publik terhadap figur publik yang sering dianggap milik kita, padahal mereka adalah individu yang harus dihormati.
Bagi penggemar Britney di Indonesia, kabar ini tentu memicu antusiasme. Kisah Britney bukan hanya tentang seorang selebritas, tetapi juga tentang perjuangan melawan kontrol dan pembebasan diri. Di era di mana kesehatan mental dan hak individu semakin menjadi perhatian publik, film ini bisa menjadi cermin bagi banyak orang. Pertanyaan besarnya, akankah film ini mampu menyajikan narasi yang adil dan manusiawi, atau justru terjebak dalam sensasi? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: sorotan mata dunia akan tertuju pada bagaimana kisah ikon pop ini diceritakan kembali.



