Ares Kumpulkan Rp64 Triliun untuk Dana Logistik Jepang, Rekor Terbesar Unit Real Estat
Baca dalam 60 detik
- Ares Management menutup penggalangan dana logistik Jepang senilai 612 miliar yen, melampaui target dan menjadi yang terbesar dalam sejarah unit real estatnya.
- Dana tersebut akan fokus pada pengembangan fasilitas logistik modern di Tokyo Raya, Osaka Raya, dan Nagoya, sejalan dengan proyeksi kenaikan sewa hingga 2027.
- Investor global termasuk CPP Investments turut mendukung, menandakan kepercayaan tinggi pada sektor logistik Jepang di tengah transformasi rantai pasok.

Ares Management, perusahaan investasi asal Amerika Serikat, mengumumkan bahwa unit real estatnya berhasil mengumpulkan dana sebesar 612 miliar yen atau sekitar 4 miliar dolar AS untuk dana pengembangan logistik Jepang yang kelima. Penggalangan dana ini menjadi yang terbesar dalam sejarah unit tersebut, ditutup pada batas maksimum yang ditargetkan, atau yang dikenal sebagai hard cap.
Dana yang diberi nama Japan Logistics Development Partners V LP ini hampir 50 persen lebih besar dibandingkan pendahulunya pada 2021. Menurut pernyataan resmi Ares, dana tersebut akan difokuskan untuk mengembangkan fasilitas logistik modern di kawasan metropolitan utama Jepang, termasuk Tokyo Raya, Osaka Raya, dan Nagoya. Langkah ini diambil di tengah proyeksi kenaikan permintaan ruang logistik modern di seluruh Jepang.
Firma jasa real estat CBRE dalam laporannya memperkirakan bahwa sewa untuk fasilitas logistik multi-penyewa besar akan meningkat di empat wilayah metropolitan utama Jepang pada akhir 2027. Proyeksi ini didorong oleh pertumbuhan permintaan yang berkelanjutan, seiring dengan perubahan pola konsumsi dan digitalisasi ekonomi yang memperkuat kebutuhan akan infrastruktur logistik yang efisien.
Dana ini menarik minat berbagai investor institusional besar, termasuk dana pensiun, sovereign wealth fund, perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan dari Amerika Utara, Asia-Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah. Salah satu investor kunci adalah Canada Pension Plan Investment Board (CPP Investments), yang telah mendukung setiap dana logistik Jepang sejak diluncurkan pada 2011. CPP Investments berkomitmen menyuntikkan dana sebesar 150 miliar yen.
Gilles Chow, Managing Director dan Head of Real Estate Asia Pacific di CPP Investments, menyatakan bahwa pihaknya terus melihat nilai dalam infrastruktur logistik modern yang didukung oleh permintaan yang tangguh, rantai pasok yang terus berkembang, dan prospek pertumbuhan sewa yang positif. Pernyataan ini mencerminkan optimisme investor terhadap sektor logistik Jepang yang dinilai memiliki fundamental kuat.
Ares menyebutkan bahwa dana tersebut memiliki total kapasitas investasi sebesar 1,7 triliun yen dan telah berkomitmen pada proyek-proyek yang mewakili sekitar 450 miliar yen. Platform logistik global Ares, Marq Logistics, akan mengembangkan dan mengoperasikan aset-aset tersebut. Hingga 30 Juni, Marq mengelola sekitar 120 juta kaki persegi di Jepang dan lebih dari 655 juta kaki persegi secara global.
Keberhasilan penggalangan dana ini menegaskan posisi Ares sebagai pemain utama di pasar logistik Jepang. Dengan aset yang dikelola mencapai lebih dari 671 miliar dolar AS secara keseluruhan, Ares menunjukkan komitmennya dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor real estat, khususnya logistik, yang menjadi tulang punggung rantai pasok modern.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran berharga. Pertumbuhan sektor logistik yang pesat di Jepang, didorong oleh urbanisasi dan digitalisasi, dapat menjadi referensi bagi pengembangan infrastruktur logistik di dalam negeri. Indonesia, dengan ekonominya yang terus tumbuh, memiliki kebutuhan mendesak akan fasilitas logistik modern untuk mendukung konektivitas dan efisiensi distribusi. Investasi asing di sektor ini dapat membuka peluang transfer teknologi dan praktik terbaik yang bermanfaat bagi industri logistik nasional.
Ke depan, keberhasilan Ares dalam mengumpulkan dana sebesar ini menunjukkan bahwa investor global masih percaya pada prospek jangka panjang logistik Jepang. Pertanyaannya, apakah tren serupa akan terjadi di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia? Dengan meningkatnya investasi infrastruktur dan pertumbuhan e-commerce, sektor logistik di kawasan ini berpotensi menarik minat investor asing. Namun, diperlukan kebijakan yang mendukung dan kepastian regulasi untuk mewujudkannya.



