Toyohiro Akiyama, Wartawan Jepang Pertama yang ke Luar Angkasa, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Akiyama, yang mengorbit Bumi di stasiun Mir pada 1990, meninggal di usia 84 tahun.
- Kariernya yang unik dari jurnalis TV menjadi astronot membuka jalan bagi partisipasi swasta dalam eksplorasi antariksa.
- Warisan Akiyama mengingatkan bahwa luar angkasa bukan hanya milik ilmuwan, tetapi juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan cerita kemanusiaan.

Toyohiro Akiyama, jurnalis yang mencatatkan namanya sebagai warga Jepang pertama yang terbang ke luar angkasa, meninggal dunia pada Selasa (1/9/2026) di usia 84 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh kerabatnya, menutup babak hidup seorang tokoh yang tak hanya menembus atmosfer, tetapi juga mendobrak batas antara profesi jurnalistik dan eksplorasi antariksa.
Akiyama, yang lahir di Tokyo, bukanlah astronot profesional. Ia terpilih melalui seleksi internal di Tokyo Broadcasting System Television Inc. (TBS), tempatnya bekerja sebagai editor. Pada Desember 1990, ia menghabiskan waktu di stasiun luar angkasa Mir dan langsung menjadi sorotan dunia ketika kalimat pertamanya di orbit adalah, "Apakah saya sedang mengudara?" โ sebuah pertanyaan yang mencerminkan naluri jurnalisnya yang tak pernah padam.
Perjalanan kariernya dimulai pada 1966 ketika ia bergabung dengan TBS. Selama bertahun-tahun, ia meliput politik dan isu internasional, bahkan sempat memimpin biro Washington. Ketika TBS membuka kesempatan bagi karyawannya untuk menjadi astronot, Akiyama yang saat itu menjabat editor di departemen hubungan internasional tidak ragu mengambil tantangan. Keputusannya itu mengubah hidupnya dan juga cara pandang publik Jepang terhadap antariksa.
Setelah kembali ke Bumi, Akiyama memilih meninggalkan dunia penyiaran. Ia mengaku ingin fokus pada isu lingkungan sambil bertani. Ia pindah ke Prefektur Fukushima untuk menggarap lahan dan terus menulis. Sejak 2017, ia menetap di Prefektur Mie. Pada 2011, ia diangkat sebagai profesor di universitas yang kini dikenal sebagai Kyoto University of the Arts, menunjukkan bahwa dedikasinya pada pendidikan dan lingkungan tetap berlanjut hingga akhir hayat.
Kisah Akiyama bukan sekadar catatan sejarah antariksa. Ia menjadi simbol bagaimana media dan sains bisa berkolaborasi. Di Indonesia, di mana industri antariksa masih berkembang, kisah Akiyama bisa menjadi inspirasi bahwa profesi non-ilmuwan pun bisa berkontribusi dalam eksplorasi luar angkasa. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang kini bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mungkin bisa mencontoh model keterlibatan jurnalis atau publik dalam misi antariksa, meski dalam skala yang berbeda.
Para analis menilai bahwa keberanian Akiyama membuka jalan bagi partisipasi swasta dalam misi antariksa, yang kini semakin umum dengan hadirnya perusahaan seperti SpaceX. Ia membuktikan bahwa antariksa bukan hanya milik astronot profesional, tetapi juga bisa diisi oleh orang-orang dengan latar belakang unik yang membawa perspektif baru. Pertanyaannya, apakah Indonesia suatu saat akan memiliki "Akiyama" sendiri yang mampu menginspirasi generasi muda untuk bermimpi lebih tinggi?



