Kepala Sekolah di Nepal Evakuasi 1.643 Siswa Menit Sebelum Banjir Menghancurkan Sekolah, Rumahnya Ikut Hilang
Baca dalam 60 detik
- Keputusan cepat Rajendra Dawadi menyelamatkan ribuan siswa dari banjir dahsyat di Nuwakot, Nepal, meski ia kehilangan rumah dan sekolahnya.
- Evakuasi terjadi hanya beberapa menit setelah empat peringatan datang, menunjukkan pentingnya respons tanggap darurat di daerah rawan bencana.
- Dua staf sekolah masih hilang, meninggalkan duka mendalam di tengah keberhasilan penyelamatan yang hampir sempurna.

NUWAKOT โ Dalam hitungan menit, keputusan seorang kepala sekolah di Nepal mengubah nasib lebih dari 1.600 siswa. Rajendra Dawadi, kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli di Nuwakot, memerintahkan evakuasi darurat pada 26 Agustus lalu, hanya beberapa saat sebelum banjir bandang meluluhlantakkan gedung sekolah dan merenggut nyawa dua stafnya. Sekolah yang berdiri kokoh di tepi Sungai Trishuli itu kini hanya menyisakan tumpukan lumpur dan puing-puing.
Kejadian bermula sekitar pukul 09.10 pagi, saat sekolah sedang ramai dengan aktivitas belajar mengajar. Sekitar 900 siswa sudah berada di dalam kampus, sementara anak-anak lainnya masih dalam perjalanan menggunakan dua bus sekolah. Dawadi yang tengah berada di kantornya menerima telepon dari seorang teman di Rasuwa yang berteriak panik, memberitahukan bahwa desa telah tersapu banjir dan memintanya segera menyelamatkan diri. Tak lama berselang, seorang guru dan seorang orang tua siswa datang dengan kabar serupa: air bah besar sedang menuju ke arah mereka.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, empat peringatan berbeda masuk. Dawadi, yang sadar sekolahnya berada sekitar 50 meter di atas sungai, memilih tidak mengambil risiko. โSaya tidak punya waktu untuk berpikir panjang,โ kenangnya. โSaya berpikir, jika informasi ini salah, kami hanya kehilangan satu hari sekolah. Tapi jika benar, ratusan nyawa bisa melayang.โ Bel darurat langsung dibunyikan, dan seluruh siswa serta guru diminta bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Dawadi juga menghubungi sopir bus yang sedang dalam perjalanan, memerintahkan mereka untuk berbalik arah dan mencari tempat aman.
Keputusan itu terbukti sangat krusial. Salah satu bus baru saja melintasi jembatan baru di atas Sungai Trishuli ketika banjir datang. Hanya beberapa detik setelah bus mencapai area aman, jembatan lama yang berjarak sekitar 70 meter tersapu derasnya air. Gelombang banjir kemudian menghancurkan gedung tiga lantai yang dibangun dengan bantuan Pemerintah India, bangunan sekolah dasar, dan seluruh kompleks sekolah. โSaya tidak menyangka air bisa setinggi itu,โ ujar Dawadi. โSebelum kami sadar, sekolah sudah menjadi dasar sungai.โ
Keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari sistem peringatan dini yang berjalan efektif, meski informal. Namun, duka masih menyelimuti. Santosh Pariyar, guru ilmu sosial berusia 32 tahun, dan Sultan Lama, karyawan sekolah, dilaporkan hilang. Pariyar saat itu sedang bersiap sarapan di kamarnya dekat sungai, sementara Lama kembali ke dalam gedung untuk menutup pintu. Keduanya tersapu arus dan belum ditemukan. โSaya sudah menyuruh semua orang lari,โ kata Dawadi dengan nada pilu. โSaya tidak tahu bagaimana mereka bisa terpisah. Pikiran itu terus menghantuiku.โ
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan kawasan Asia Selatan terhadap bencana hidrometeorologi. Nepal, yang terletak di kaki Himalaya, kerap dilanda banjir bandang akibat hujan ekstrem dan meluapnya sungai glasial. Bagi Indonesia, pelajaran serupa relevan mengingat banyak wilayah rawan bencana, terutama di daerah aliran sungai dan lereng gunung. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, seperti yang secara tidak sengaja terjadi di Nuwakot, bisa menjadi model adaptasi. Namun, kasus ini juga menyoroti perlunya infrastruktur tahan bencana dan prosedur evakuasi yang lebih terstruktur, agar tidak ada lagi nyawa yang tertinggal.
Ke depan, pemerintah Nepal dihadapkan pada tugas berat membangun kembali sekolah yang hancur dan memulihkan trauma ribuan siswa. Pertanyaan yang menggantung: apakah tragedi ini akan mendorong perubahan kebijakan yang lebih serius dalam manajemen risiko bencana di kawasan rawan? Atau akankah menjadi catatan kelam yang terlupakan saat air surut?



