Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tiongkok: Jejak Digital Terakhir 89 Warga Sebelum Air Bah Menghantam
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang di Rasuwagadhi-Gyirong pada 26 Agustus menyapu jembatan, kantor imigrasi, dan permukiman, dengan 275 warga India dilaporkan hilang.
- Data imigrasi Nepal mencatat 89 orang telah menyelesaikan proses keluar menuju Tibet hanya 10 menit sebelum longsoran glasial melanda, menyisakan misteri lokasi mereka.
- Penutupan jalur perdagangan ini mengancam sepertiga perdagangan Nepal-Tiongkok dan 80% impor kendaraan listrik Nepal, memaksa Kathmandu mencari rute alternatif.

Sebuah dinding gelap muncul dari balik bangunan di Gyirong, sisi Tiongkok dari perbatasan Nepal-Tibet. Awalnya tampak seperti awan hitam, namun kemudian berubah menjadi gumpalan air, lumpur, batu, es, dan bebatuan yang meluncur deras menuruni lembah. Rekaman CCTV menunjukkan pukul 10:59:53 waktu setempat. Peristiwa pada 26 Agustus ini bukan sekadar banjir biasa; ini adalah longsoran glasial yang menghancurkan kompleks perbatasan yang ramai, menewaskan puluhan orang, dan meninggalkan ratusan lainnya hilang.
Di seberang perbatasan, di Rasuwagadhi, distrik Rasuwa, Nepal, kehancuran juga meluas. Jembatan Persahabatan yang menghubungkan kedua negara ikut tersapu, bersama dengan fasilitas imigrasi dan bea cukai Nepal. Timure, permukiman perdagangan kecil di sekitar penyeberangan, hancur lebur. Ajay Dixit, seorang hidrolog asal Kathmandu, menggambarkan kawasan ini sebagai "rute perjalanan bersejarah antara Kathmandu dan Tibet" yang secara geologis rentan, dengan ngarai dalam dan sungai deras yang membawa sedimen berat dan bongkahan batu besar. Jalur ini bukan hanya arteri perdagangan, tetapi juga lintasan peziarah menuju Gunung Kailash, pedagang, sopir truk, dan wisatawan.
Pada pagi nahas itu, lebih dari 100 warga India diperkirakan berada di sekitar penyeberangan. Kementerian Luar Negeri India melaporkan sedikitnya 275 warga India masih hilang di Nepal. Data elektronik Departemen Imigrasi Nepal menunjukkan 89 warga Nepal dan asing telah menyelesaikan proses keluar menuju Tibet, sementara empat orang tercatat masuk ke Nepal. Transaksi terakhir sistem imigrasi tercatat pada pukul 08:35:03 waktu Nepal, kurang dari sepuluh menit sebelum longsoran muncul di CCTV Gyirong. Empat pegawai imigrasi, termasuk kepala kantor Rasuwagadhi, ikut hilang; jenazah kepala kantor ditemukan jauh di hilir, sementara petugas perempuan yang mencatat transaksi terakhir masih belum ditemukan.
Tika Ram Pokharel, asisten imigrasi senior di Rasuwagadhi, adalah satu-satunya staf kantor yang selamat karena sedang berada di Kathmandu untuk mengikuti ujian. Ia menuturkan bahwa pagi itu penyeberangan luar biasa ramai. Sekitar 300 hingga 400 orang mengantre untuk keluar menuju Tibet, sementara yang lain tiba dari sisi Tiongkok. "Mereka yang menyelesaikan formalitas imigrasi pagi itu, saya rasa tidak dapat menyelesaikan proses imigrasi di sisi Tiongkok," ujarnya. Pokharel memperkirakan 2.000 hingga 2.500 orang mungkin terjebak dalam banjir, angka yang jauh lebih tinggi dari perkiraan resmi. "40-50 teman dekat saya hilang," katanya dengan getir. Ia juga mengungkapkan bahwa Ghatte Khola Bazar, tempat kantor imigrasi berada, bukan sekadar area tunggu; terdapat 50-60 rumah, hotel, bisnis lokal, dan empat kantor pembangkit listrik tenaga air, serta menjadi terminal akhir bus dari Kathmandu dan pangkalan bagi sopir, pemandu wisata, dan pekerja kargo.
Di antara korban adalah rombongan peziarah India. Sudipto Bhattacharya menerima pesan dari istrinya, Subhrasree Chakraborty, yang bepergian dengan kelompok lebih dari 60 orang. Pada pukul 07:57, ia mengirim foto stempel keberangkatan di paspornya; enam menit kemudian, pesan terakhir: "Kami menunggu untuk masuk ke Tiongkok." Setelah itu, tidak ada kabar. Kelompok 77 peziarah dari Isha Foundation yang kembali dari Gunung Kailash juga dilaporkan hilang bersama tiga staf. Tim penyelamat Tiongkok yang tiba di Gyirong pada 28 Agustus menggambarkan pemandangan yang menyayat hati: "Sejauh mata memandang, tidak ada apa-apa selain reruntuhan."
Bencana ini juga memicu kekhawatiran ekonomi yang mendalam. Posh Kumar Pandey, ketua emeritus South Asia Watch on Trade, Economics and Environment, menegaskan bahwa Rasuwagadhi adalah salah satu dari dua titik perdagangan utama Nepal dengan Tiongkok, menyumbang sekitar sepertiga dari total perdagangan bilateral senilai $2,95 miliar. Sekitar 60-70 truk melintas setiap hari membawa elektronik, mesin, kendaraan, buah, dan pakaian menuju Kathmandu. Penutupan jalur ini membuat Nepal semakin bergantung pada Tatopani, yang juga ditutup sementara oleh otoritas Tiongkok karena risiko tanah longsor. "Kami menaruh semua telur di satu keranjang. Kami perlu mengembangkan pelabuhan perbatasan alternatif," kata Pandey. Jalur ini juga merupakan bagian dari rencana jalur kereta api trans-Himalaya yang menghubungkan kawasan itu ke Kathmandu.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur di daerah pegunungan dan pentingnya mitigasi bencana. Meski Indonesia tidak memiliki perbatasan darat dengan Tiongkok, pelajaran tentang manajemen risiko longsor glasial dan sistem peringatan dini relevan untuk kawasan rawan bencana seperti Papua dan Jawa Barat. Selain itu, gangguan pada jalur perdagangan ini berpotensi memengaruhi rantai pasok global, termasuk ketersediaan barang elektronik dan kendaraan listrik yang juga diimpor Indonesia dari Tiongkok. Jika Nepal harus mencari rute alternatif, biaya logistik bisa meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada harga barang di pasar regional.
Di tengah duka, Pokharel mengenang diskusi dengan rekan-rekannya yang kini hilang. Banjir tahun sebelumnya telah membuat mereka sadar akan bahaya. Pada malam hari, mereka kadang "merasakan getaran" dan keluar untuk memeriksa sungai. Mereka bahkan sempat berdiskusi tentang cara melarikan diri ke atas bukit jika banjir datang lagi. "Tetapi teman-teman saya tidak mendapat kesempatan itu," ujarnya. Pertanyaan besar kini menggantung: akankah Nepal dan Tiongkok membangun kembali penyeberangan ini dengan standar yang lebih aman, atau justru mencari lokasi baru yang lebih strategis? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib ribuan pedagang dan peziarah, tetapi juga masa depan konektivitas regional di kawasan Himalaya.



