Ular Tanah Baru dari Papua Dinamai Slash, Gitaris Guns N' Roses: Penghormatan untuk Sang Pecinta Reptil
Baca dalam 60 detik
- Para peneliti mengidentifikasi spesies ular tanah baru di Papua Nugini melalui analisis DNA dan data lama, diberi nama Lielaphis slashi untuk menghormati gitaris Guns N' Roses, Slash.
- Penemuan ini menyoroti kekayaan keanekaragaman hayati Papua yang belum banyak terungkap, sekaligus menggarisbawahi ancaman deforestasi dan aktivitas manusia terhadap habitat spesies endemik.
- Langkah taksonomi ini diharapkan membuka jalan bagi upaya konservasi yang lebih terarah, tidak hanya di Papua Nugini tetapi juga di wilayah Papua, Indonesia, yang berpotensi menjadi habitat ular tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk industri musik global, nama Slash, gitaris legendaris Guns N' Roses, kini abadi bukan hanya melalui riff gitar yang ikonik, tetapi juga melalui seekor ular tanah dari pedalaman Papua. Sekelompok peneliti internasional baru saja mengumumkan penemuan spesies ular baru yang secara resmi dinamai Lielaphis slashi, sebuah penghormatan untuk musisi yang dikenal luas karena kecintaannya pada reptil. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada Agustus 2026 ini tidak hanya memperkaya khazanah taksonomi, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami keanekaragaman hayati tersembunyi di pulau terbesar kedua di dunia.
Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris ini menggunakan pendekatan gabungan antara data spesimen lama dan analisis DNA modern. Hasilnya, mereka berhasil memisahkan populasi ular tanah yang sebelumnya dianggap satu spesies menjadi entitas yang berbeda. Nama Lielaphis slashi dipilih bukan tanpa alasan. Sara Ruane, peneliti utama yang juga penulis laporan, mengaku telah mengidolakan Guns N' Roses sejak kecil dan terinspirasi oleh Slash yang kerap tampil dengan ular peliharaannya. "Saya membaca wawancaranya dan dia berbicara tentang kecintaannya pada museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Semua itu sangat saya hubungkan," ujarnya, seperti dikutip dari Phys.org. Slash sendiri, dalam pernyataannya, mengaku merasa terhormat dan tidak menyangka akan diabadikan sebagai nama spesies.
Secara fisik, Lielaphis slashi mungkin tidak mencolok. Ular ini memiliki punggung berwarna cokelat kemerahan polos, bagian bawah putih hingga krem, dengan panjang tubuh sekitar 60 hingga 70 sentimeter. Namun, kehadirannya menjadi penanda penting bagi ekologi hutan sekunder di Papua. Spesimen yang diteliti berasal dari Desa Utai di Provinsi Sanduan dan Tanjung Kalibobo di Provinsi Madang, Papua Nugini. Menurut laporan, ular ini aktif di malam hari dan sering ditemukan di pangkal pohon besar setelah matahari terbenam. Kehidupannya yang samar membuat pengamatan di alam liar menjadi sulit, sehingga pengetahuan tentang perilaku dan ekologinya masih sangat terbatas.
Penemuan ini memiliki arti penting bagi Indonesia, khususnya Papua. Laporan penelitian menyebutkan bahwa spesies ini kemungkinan juga menghuni wilayah utara pegunungan tengah di Provinsi Papua, Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan herpetofauna di sisi barat Pulau Papua masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Penelitian sebelumnya oleh Keliopas Krey dan rekan-rekannya yang dipublikasikan di Jurnal Biologi Vogelkop mencatat setidaknya 83 spesies ular telah dilaporkan dari Papua, dengan mayoritas merupakan pemangsa reptil lain. Data ini menegaskan bahwa Papua adalah laboratorium alam yang sangat kaya, namun juga rentan terhadap ancaman kerusakan habitat.
Ancaman terhadap kelangsungan hidup ular ini datang dari aktivitas manusia. Pertambangan dan budidaya kopi yang semakin meluas di kawasan hutan sekunder menjadi tekanan utama bagi habitat alami mereka. Ruane menekankan pentingnya mendeskripsikan spesies sebelum semuanya hilang. "Kita tidak bisa melestarikan makhluk hidup yang tidak kita ketahui," tegasnya. Pernyataan ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana laju deforestasi dan alih fungsi lahan seringkali berjalan lebih cepat daripada upaya inventarisasi keanekaragaman hayati. Tanpa langkah konservasi yang konkret, banyak spesies yang mungkin punah sebelum sempat dikenal dunia.
Meski Lielaphis slashi tidak berbisa, para peneliti mengingatkan agar tetap berhati-hati saat bekerja di malam hari di Papua. Ada beberapa spesies ular sangat berbisa yang penampilannya mirip dengan ular tanah yang tidak berbahaya. Salah satu yang paling mematikan adalah ular putih Papua (Micropechis ikaheka), yang dikenal lebih berbahaya daripada kobra dan belum memiliki antivenom yang efektif. Keberadaan ular-ular ini menunjukkan betapa kompleks dan dinamisnya ekosistem reptil di Papua, di mana setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan.
Penamaan Lielaphis slashi bukan sekadar penghormatan kepada seorang musisi, melainkan juga sebuah pengakuan atas peran Slash sebagai advokat konservasi reptil. Diharapkan, publikasi ini akan menarik perhatian dunia pada kekayaan hayati Papua yang terancam. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah langkah taksonomi ini diikuti dengan aksi nyata di lapangan? Atau akankah spesies-spesies lain yang belum teridentifikasi akan hilang sebelum sempat diberi nama? Di tengah ancaman perubahan iklim dan ekspansi ekonomi, masa depan keanekaragaman hayati Papua berada di ujung tanduk, dan waktu untuk bertindak semakin sempit.



