Tottenham Siapkan Rp1,5 Triliun untuk Mudryk: Reinkarnasi Bale di Deadline Day?
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan pinjaman dengan opsi pembelian £75 juta antara Tottenham dan Chelsea untuk Mykhailo Mudryk dikabarkan tinggal menunggu tes medis.
- Kedatangan Mudryk dinilai sebagai jawaban atas kebutuhan Spurs akan winger kiri eksplosif, dengan harapan ia bisa meniru jejak Gareth Bale.
- Jika transfer ini tuntas, ini akan menjadi sinyal ambisi besar Tottenham di bawah Roberto De Zerbi, sekaligus ujian bagi Mudryk untuk membuktikan kelasnya setelah gagal bersinar di Chelsea.

Tottenham Hotspur dikabarkan telah mencapai kesepakatan penuh dengan Chelsea untuk memboyong Mykhailo Mudryk pada hari terakhir bursa transfer musim panas ini. Winger asal Ukraina itu dijadwalkan menjalani tes medis dalam waktu dekat, dengan skema peminjaman yang disertai opsi pembelian permanen senilai £75 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.
Kabar ini mencuat di tengah musim panas yang sibuk bagi Spurs. Klub asal London Utara itu telah menggelontorkan dana besar untuk merekrut pemain-pemain anyar, termasuk Sandro Tonali yang diboyong dari AC Milan dengan nilai transfer mencapai £100 juta. Namun, start buruk di awal musim, termasuk kekalahan dari Brentford, membuat manajemen tampak bernafsu menambah amunisi sebelum jendela transfer ditutup.
Mudryk, yang bergabung dengan Chelsea pada Januari 2023 dengan harga awal £62 juta, gagal memenuhi ekspektasi tinggi di Stamford Bridge. Catatannya bersama The Blues—21 gol dan assist dalam 73 penampilan—jauh dari kata memuaskan. Namun, Tottenham percaya bahwa pelatih Roberto De Zerbi, yang pernah menangani Mudryk di Shakhtar Donetsk, adalah sosok yang tepat untuk mengembalikan performa terbaik pemain berusia 25 tahun tersebut.
Koneksi De Zerbi dan Mudryk memang menarik. Selama bekerja sama di Ukraina, Mudryk mencatatkan 11 gol dan assist hanya dalam 19 pertandingan. Totalnya di Shakhtar mencapai 29 gol dan assist dalam 47 laga. Angka-angka ini menjadi dasar optimisme bahwa De Zerbi bisa memulihkan kepercayaan diri Mudryk yang sempat meredup.
Langkah Tottenham ini mengingatkan pada strategi mereka pada 2013, ketika mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan Gareth Bale dengan merekrut sejumlah pemain sekaligus. Saat itu, hasilnya tidak langsung memuaskan, meski beberapa rekrutan seperti Christian Eriksen dan Erik Lamela terbukti sukses dalam jangka panjang. Kini, Spurs kembali mengambil risiko dengan mendatangkan pemain yang diharapkan menjadi pembeda, dan Mudryk disebut-sebut memiliki kemiripan gaya dengan Bale.
Perbandingan dengan Bale bukan tanpa dasar. Mantan pemain Liverpool, Stan Collymore, pernah menyebut Mudryk sebagai pemain yang bisa mengikuti jejak Bale. Menurutnya, kedua pemain sama-sama berposisi sebagai winger kiri dengan kemampuan melesat melewati lawan. Collymore bahkan menilai Mudryk berpotensi menjadi calon peraih Ballon d'Or di masa depan, sebuah prediksi yang kini kembali mengemuka.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, transfer ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub besar Eropa berani mengambil risiko pada pemain yang sempat meredup. Selain itu, peran De Zerbi sebagai pelatih yang mampu mengorbitkan pemain muda menjadi nilai tambah. Jika Mudryk berhasil bersinar di Tottenham, ia bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain Asia Tenggara yang bercita-cita menembus liga top Eropa.
Namun, keputusan Tottenham untuk menghabiskan dana besar di hari terakhir bursa juga memunculkan pertanyaan. Apakah langkah ini akan menjadi solusi jangka panjang atau hanya sekadar penambal lubang? Dengan persaingan ketat di Premier League, Spurs tidak punya banyak waktu untuk menunggu Mudryk beradaptasi. Tekanan langsung berada di pundak De Zerbi untuk membuktikan bahwa ia masih bisa mengeluarkan versi terbaik dari pemain yang pernah ia latih.
Ke depannya, publik sepak bola akan mengamati apakah Mudryk mampu membuktikan bahwa label 'Bale modern' bukan sekadar hiperbola. Jika berhasil, Tottenham tidak hanya mendapatkan pemain bintang, tetapi juga sebuah narasi kebangkitan yang indah. Jika gagal, £75 juta akan menjadi beban besar bagi klub yang tengah membangun kembali kejayaannya.



