Titik Panas Karhutla Melonjak di Kalbar, BNPB Imbau Waspadai Kualitas Udara
Baca dalam 60 detik
- Kalimantan Barat mencatat lonjakan titik panas hingga 3.553 dalam sehari, menjadikannya wilayah dengan peningkatan terbesar.
- BNPB mencatat penurunan titik api di sebagian Sumatera, namun Sumatera Selatan masih menunjukkan kenaikan signifikan.
- Masyarakat diminta memantau ISPU dan prediksi sebaran polutan BMKG untuk mengantisipasi dampak kesehatan kabut asap.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi titik panas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat pada Senin (31/8), dengan tambahan 3.553 titik dalam sehariโlonjakan terbesar dibanding provinsi lain di Pulau Kalimantan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP. Panjaitan, mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mengalami dinamika yang berbeda. "Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah relatif menurun," ujarnya di Jakarta, Senin. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang di ketiga provinsi tersebut menyempit hingga di bawah dua kilometer.
Situasi di Sumatera relatif lebih baik, dengan penurunan titik panas di Riau dan Jambi. Namun, Sumatera Selatan justru mencatat kenaikan 209 titik, sehingga totalnya mencapai 1.013 titik panas. Jarak pandang di Riau dan Sumatera Selatan berkisar 4โ5 kilometer, sementara Jambi masih relatif lebih longgar dengan 6โ7 kilometer.
BNPB mengaitkan kondisi ini dengan kualitas udara yang dapat dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup. Masyarakat diimbau mengakses laman resmi KLH untuk mengetahui tingkat polusi hingga level kabupaten/kota. "Sehingga nanti tindakan-tindakan untuk mencegah bila kualitas udara tersebut sudah berbahaya ataupun tidak sehat dapat dilakukan dengan baik," kata Berton.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran polutan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan diperkirakan masih sangat pekat hingga Selasa (1/9). "Ini menandakan bahwa jumlah asap sangat tebal di daerah-daerah tersebut," jelas Berton. Sementara di Sumatera, polutan masih terpantau di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan, namun intensitasnya diperkirakan menurun di Papua dan Jawa.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang berada di wilayah terdampak, kabut asap bukan sekadar gangguan penglihatan. Paparan partikel halus (PM2.5) dari asap karhutla dapat memicu gangguan pernapasan akut, iritasi mata, dan memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis. Data Kementerian Kesehatan pada kejadian karhutla sebelumnya menunjukkan lonjakan kasus ISPA hingga puluhan ribu di provinsi-provinsi terdampak.
BNPB menegaskan pentingnya langkah antisipasi dini. Masyarakat yang berada di zona dengan kualitas udara tidak sehat atau berbahaya disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, dan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala gangguan pernapasan. Pemerintah daerah juga diminta mengaktifkan posko kesehatan dan memastikan ketersediaan masker bagi kelompok rentan.
"Masyarakat dapat mengakses [ISPU], sehingga nanti tindakan-tindakan untuk mencegah bila kualitas udara tersebut sudah berbahaya ataupun tidak sehat dapat dilakukan dengan baik," kata Berton SP. Panjaitan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan pemerintah daerah dalam mengendalikan karhutla, mengingat puncak musim kemarau sering kali berlanjut hingga September. Apakah langkah penegakan hukum dan patroli terpadu mampu menekan munculnya titik api baru, atau justru akan terjadi eskalasi seperti tahun-tahun sebelumnya? Jawabannya akan menentukan apakah warga Kalimantan dan Sumatera harus kembali bersiap menghadapi bencana asap berkepanjangan.



