Longsor di Pelabuhan Gyirong, China: 16 Tewas, 546 Hilang, Jalan Nasional G216 Terputus
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor yang dipicu gletser di Nepal menewaskan 16 orang dan menyebabkan 546 lainnya hilang di Pelabuhan Gyirong, Tibet.
- Tim penyelamat dari China Anneng dan militer berupaya membuka kembali jalan nasional G216 yang lumpuh akibat material lumpur tebal.
- Pemulihan jalur logistik ini menjadi kunci percepatan evakuasi dan distribusi bantuan, dengan cuaca ekstrem masih mengancam operasi.

Bencana longsor dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser di Nepal meluluhlantakkan kawasan Pelabuhan Gyirong di Tibet selatan, menewaskan sedikitnya 16 orang dan menyebabkan 546 lainnya dinyatakan hilang. Peristiwa yang terjadi pada 26 Agustus itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memutus total akses jalan nasional G216, satu-satunya jalur darat menuju kawasan perbatasan yang menjadi pintu masuk perdagangan antara China dan Nepal.
Tim penyelamat dari China Anneng, perusahaan konstruksi milik negara, dikerahkan dengan alat berat untuk membuka kembali ruas jalan yang tertimbun material longsor. Hingga Senin siang, ruas G216 sudah berhasil ditembus hingga hanya berjarak 1,1 kilometer dari pelabuhan. Namun, medan yang dipenuhi lumpur setinggi lutut dan bebatuan raksasa membuat proses pemulihan berjalan sangat lambat. Sebanyak 158 personel darurat dan 28 unit alat berat seperti ekskavator dan loader dikerahkan secara bergiliran untuk mempercepat pembukaan akses.
Longsor yang dipicu oleh runtuhan es dan batuan dari Nepal ini menyapu bersih bangunan, merusak jaringan listrik, dan menimbun sebagian badan jalan G216. Kondisi ini menghambat masuknya peralatan, personel, dan logistik bantuan ke area terdampak. Lebih dari 2.000 personel gabungan dari Tentara Pembebasan Rakyat, Polisi Bersenjata Rakyat, dan China Anneng dikerahkan untuk mencari korban selamat, memperbaiki infrastruktur, serta memulihkan komunikasi dan aliran listrik.
Untuk memantau risiko longsor susulan, tim pemantau menggunakan perangkat laser berbasis kecerdasan buatan yang dipasang di sekitar lokasi perbaikan. Alat ini mampu mendeteksi pergerakan lereng secara dinamis dan memberikan peringatan dini bagi petugas di lapangan. Sementara itu, helikopter diterbangkan untuk menjangkau titik terdampak paling parah, membawa tim jurnalis dan peralatan pendukung. Rekaman dari udara memperlihatkan hamparan lumpur tebal dan hembusan angin kencang yang menyulitkan pergerakan manusia.
Seorang anggota tim penyelamat menggambarkan kondisi ekstrem di lokasi: โDi tempat yang lumpurnya dalam, separuh tubuh bisa tenggelam, dan setiap langkah menguras seluruh tenaga. Tetapi kami tidak akan menyerah pada satu sudut pun.โ Pernyataan ini mencerminkan tekad para petugas yang terus menyisir area dengan anjing pelacak, alat pendeteksi kehidupan, dan peralatan pemecah beton. Meski peluang menemukan korban selamat semakin tipis, upaya pencarian tetap dilakukan tanpa henti.
Di sisi lain, Kementerian Sumber Daya Air China mengonfirmasi bahwa danau penghalang di atas Pelabuhan Gyirong, yang sempat menjadi ancaman besar bagi operasi penyelamatan, telah menyusut dan aliran sungai kembali normal. Namun, Badan Meteorologi Nasional memperingatkan hujan dengan intensitas signifikan pada malam hari diperkirakan akan melanda wilayah Gyirong dalam beberapa hari ke depan, berpotensi memicu longsor susulan dan memperlambat proses pemulihan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan pegunungan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Fenomena runtuhan gletser yang memicu longsor dan banjir bandang juga mengancam wilayah Papua dan sejumlah daerah pegunungan di Indonesia. Kolaborasi internasional dalam sistem peringatan dini dan manajemen bencana menjadi semakin penting, terutama di tengah meningkatnya frekuensi kejadian ekstrem akibat pemanasan global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat akses jalan dapat dipulihkan sepenuhnya dan bagaimana proses evakuasi serta rekonstruksi akan berjalan di tengah ancaman cuaca buruk. Keberhasilan operasi ini tidak hanya menentukan nasib ratusan korban yang masih hilang, tetapi juga menjadi ujian bagi ketangguhan infrastruktur China dalam menghadapi bencana geologis yang dipicu perubahan iklim.



