Shein Anjlok 10% di Pasar Gelap Jelang Debut HKEX: Valuasi Susut Drastis, Sinyal Apa bagi Industri Tekstil?
Baca dalam 60 detik
- Saham Shein diperdagangkan di bawah harga IPO pada pasar gelap, mencerminkan skeptisisme investor terhadap model bisnis fast fashion.
- Valuasi perusahaan anjlok ke seperempat dari puncaknya pada 2022, tertekan oleh perubahan tarif di AS dan Eropa serta pergeseran minat investor ke AI dan robotika.
- Debut yang lesu ini bisa menjadi koreksi bagi pasar modal Asia dan memberi sinyal bagi pelaku industri tekstil Indonesia yang selama ini bergantung pada rantai pasok global.

HONG KONG โ Saham raksasa fast fashion asal Tiongkok, Shein, langsung terperosok lebih dari 10 persen dalam perdagangan pasar gelap pada Senin (31/8), sehari sebelum resmi melantai di Bursa Efek Hong Kong (HKEX). Aksi jual ini menjadi pertanda buruk bagi salah satu IPO paling dinanti tahun ini, sekaligus mengirim sinyal bahwa investor mulai kehilangan selera terhadap model bisnis yang selama ini tumbuh agresif.
Perusahaan berhasil mengumpulkan dana sekitar US$1,7 miliar dengan harga penawaran HK$48,56 per saham, yang menempatkan valuasi Shein di kisaran US$26,5 miliar. Namun, dalam hitungan menit setelah pasar gelap dibuka, sejumlah broker besar Hong Kong seperti Futu Securities, Bright Smart, dan Phillip Securities mencatat penurunan harga hingga lebih dari 10 persen. Di Futu, broker ritel terbesar di Hong Kong berdasarkan volume, saham Shein bahkan sempat diperdagangkan di level HK$42 per lembarnya.
Pasar gelap (gray market) memang menjadi indikator awal sentimen investor sebelum saham resmi diperdagangkan di bursa. Kejatuhan harga di pasar ini kerap menjadi cermin bagaimana reaksi investor institusional dan ritel terhadap prospek perusahaan. Dalam kasus Shein, penurunan tersebut bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan buah dari akumulasi kekhawatiran yang sudah berlangsung lama terhadap fundamental bisnisnya.
Valuasi Shein yang kini hanya sekitar seperempat dari puncaknya di pasar privat yang sempat menyentuh US$100 miliar pada 2022 menjadi bukti nyata betapa tajamnya koreksi ini. Penyebab utamanya adalah perubahan kebijakan tarif dan bea masuk di Amerika Serikat dan Eropa yang secara langsung menggerus keunggulan biaya produksi Shein. Selama ini, model bisnisnya bergantung pada pengiriman langsung dari pabrik di Tiongkok ke konsumen global dengan tarif rendah, namun kebijakan baru telah merombak peta persaingan.
Analis menilai pergeseran minat investor juga menjadi faktor krusial. Bevis Ho, analis senior di Futu Securities, mengungkapkan bahwa kekhawatiran melanda baik investor ritel maupun institusional. "Investor saat ini melihat potensi lebih besar pada tema AI dan robotika dibandingkan fast fashion," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pasar sedang dalam fase transisi, di mana modal mengalir deras ke sektor teknologi tinggi yang dianggap memiliki masa depan lebih cerah.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki relevansi yang mendalam. Industri tekstil dan produk garmen (TPT) dalam negeri selama ini menjadi bagian dari rantai pasok global fast fashion, termasuk untuk merek-merek seperti Shein. Melemahnya permintaan dan berubahnya lanskap perdagangan internasional akibat tarif baru berpotensi menekan volume ekspor Indonesia. Lebih jauh, jika tren ini berlanjut, produsen lokal yang selama ini mengandalkan pesanan dari platform global harus mulai mencari pasar alternatif atau melakukan diversifikasi produk.
Di sisi lain, koreksi valuasi Shein juga menjadi pelajaran bagi para pelaku usaha di Indonesia yang tengah berlomba membangun ekosistem e-commerce. Pertumbuhan yang agresif tanpa diimbangi fundamental yang kuat, seperti kepatuhan terhadap regulasi dan keberlanjutan, bisa berujung pada gejolak serupa. Investor global kini semakin selektif dan menuntut transparansi serta tata kelola yang baik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Shein mampu membalikkan sentimen negatif ini setelah resmi tercatat di bursa. Tekanan tarif yang belum mereda, persaingan dari pemain lokal di berbagai negara, serta pergeseran preferensi konsumen menjadi ujian berat. Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai indikator arah industri tekstil global dan bagaimana posisi kita di dalamnya.



