Banjir Nepal: 600 Pekerja PLTA Terjebak di Terowongan Lumpur, Tim Penyelamat Berlomba Melawan Waktu
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 600 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal masih belum ditemukan setelah longsor dan banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet, memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
- Tim gabungan internasional, termasuk militer China dan Nepal, berupaya menembus terowongan yang dipenuhi lumpur dengan teknik peledakan dan pemompaan oksigen, namun peluang menemukan korban selamat semakin menipis.
- Bencana ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi Nepal di tengah perubahan iklim, sekaligus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang juga mengembangkan PLTA di daerah rawan bencana.

Operasi pencarian terhadap lebih dari 600 pekerja yang diduga terjebak di dalam jaringan terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Trishuli, Nepal, memasuki babak kritis. Tim penyelamat terus berupaya menembus lapisan lumpur tebal yang memenuhi lorong bawah tanah, sementara keluarga korban menanti kabar dengan cemas di tengah kekhawatiran bahwa waktu untuk menemukan korban selamat semakin sempit.
Bencana yang dipicu hujan deras dan tanah longsor di kawasan perbatasan Nepal-Tibet ini telah menewaskan sedikitnya 939 orang, menurut otoritas penanggulangan bencana setempat. Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring proses identifikasi korban yang masih berlangsung. Otoritas Nepal juga merevisi jumlah orang hilang menjadi 3.925 jiwa, termasuk 592 warga negara asing yang sebagian besar merupakan pekerja proyek infrastruktur.
Dari total korban hilang, sekitar satu dari tujuh orang diperkirakan merupakan pekerja di sektor pembangkit listrik. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyatakan bahwa 279 orang telah berhasil dievakuasi dari lokasi proyek, namun operasi penyelamatan masih jauh dari selesai. Tim gabungan yang melibatkan personel militer China dan Nepal, serta ahli dari India, Korea Selatan, dan Australia, terus berjibaku dengan medan yang sangat sulit.
"Saya masih punya 50 persen harapan dia selamat karena di dalam terowongan ada sistem oksigen," ujar Sita Pandey, istri dari salah satu pekerja yang terjebak, seperti dikutip harian lokal Kantipur. Namun, harapan itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Jiban Khadka, yang kerabatnya juga ikut terjebak, mengungkapkan frustrasinya: "Semakin lama, harapan kami semakin mati. Operasi ini harus berjalan lebih cepat karena setiap detik sangat berarti."
Tim penyelamat mulai memompa udara ke dalam terowongan sejak akhir pekan lalu, tetapi keluarga korban menilai langkah itu terlambat. Sebuah tim yang berhasil masuk ke salah satu terowongan pada Senin pagi terpaksa mundur setelah tidak menemukan satu pun orang di dalamnya. Kondisi medan yang berubah drastis menjadi tantangan besar. Arnold Dix, insinyur Australia yang membantu operasi pencarian secara jarak jauh, menggambarkan situasi di lokasi sebagai "lanskap bulan" karena seluruh penanda lokasi hilang tertimbun material longsor.
Bagi Nepal, bencana ini merupakan pukulan telak bagi sektor energi yang menjadi tulang punggung perekonomian. Negeri Himalaya itu telah bertahun-tahun mengembangkan proyek PLTA di sepanjang sungai-sungai pegunungan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik dan mengekspor ke India. Kerusakan pada setidaknya 11 proyek PLTA, baik yang sudah beroperasi maupun masih dalam pembangunan, dipastikan akan mengganggu pasokan listrik dan menunda target pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, penanganan korban jiwa juga menjadi sorotan. Di Distrik Chitwan, yang terletak jauh di hilir, pemakaman darurat terpaksa dilakukan setelah sungai-sungai membawa hampir 300 jenazah ke tepiannya. Petugas medis dan relawan berjibaku mengekstraksi DNA dari jenazah yang belum teridentifikasi untuk memudahkan keluarga mencari kerabatnya. Ganesh Aryaal, pejabat distrik setempat, mengaku kewalahan: "Kami tidak punya cukup freezer. Kami harus memilih alternatif terakhir dengan sistem pemakaman sementara. Kami benar-benar kewalahan."
Di sisi perbatasan Tibet, otoritas China melaporkan 16 orang tewas dan 546 orang hilang. Pemerintah China juga memberlakukan sensor ketat terhadap pemberitaan bencana dan menjatuhkan sanksi administratif bagi warga yang menyebarkan spekulasi tentang jumlah korban yang lebih tinggi di media sosial. Langkah serupa dilakukan otoritas Nepal yang memerintahkan penghapusan konten daring yang dianggap menyebarkan informasi keliru.
Bencana ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan infrastruktur energi terhadap dampak perubahan iklim. Nepal, yang terletak di kawasan seismik aktif dan memiliki medan ekstrem, menghadapi risiko bencana hidrometeorologi yang semakin tinggi. Pertanyaannya, apakah proyek-proyek PLTA di masa depan akan dirancang dengan mempertimbangkan skenario terburuk? Atau akankah tragedi ini terulang di negara lain, termasuk Indonesia yang juga tengah gencar membangun PLTA di daerah rawan longsor?



