Ekspor Pisang Kamboja ke China Meningkat, Ribuan Warga Lokal Raup Penghasilan Baru
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan pertanian di Oddar Meanchey mencatat lonjakan pengiriman pisang Cavendish ke China, dari 24.000 ton pada 2024 menjadi lebih dari 34.000 ton pada 2025.
- Lebih dari 800 penduduk setempat, termasuk ibu tunggal, kini memiliki pekerjaan tetap di perkebunan dan pabrik pengolahan pisang, meningkatkan taraf hidup mereka.
- China menyerap sekitar 95 persen ekspor pisang segar Kamboja, menjadikannya pasar utama yang mendorong transformasi agribisnis modern di negara tersebut.

Di provinsi Oddar Meanchey, Kamboja barat laut, seorang ibu tunggal berusia 29 tahun, Lak Sineth, merasakan perubahan nasib yang drastis sejak bekerja di perkebunan pisang setempat pada 2022. Kini, ia mampu membeli tanah dan aset berharga lainnyaโsebuah pencapaian yang sebelumnya mustahil baginya. Kisah Sineth menjadi cermin bagaimana investasi asing, khususnya dari China, mengubah wajah ekonomi perdesaan di kawasan perbatasan Thailand.
Perkebunan yang dikelola Longfruiter Anlong Veng Oddar Meanchey Agriculture Park Co., Ltd. ini membentang seluas sekitar 530 hektare di distrik Anlong Veng. Perusahaan menanam pisang Cavendish kuning, varietas yang dinilai memiliki kualitas dan rasa unggul dibandingkan pisang lokal. Lebih dari 800 warga menggantungkan hidup dari operasional perkebunan dan pabrik pengolahan, dengan posisi beragamโdari pengepakan, pencucian, hingga manajemen produksi.
Bagi Cheat Chumpou, 24 tahun, yang bekerja sebagai pencuci pisang, gaji tetap yang diterimanya menjadi penyelamat. Sebelumnya, ia tinggal bersama orang tua yang berprofesi sebagai petani dengan penghidupan serba pas-pasan. "Saya berterima kasih kepada investor China karena telah menciptakan banyak lapangan kerja," ujarnya, menggambarkan harapan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Kinerja ekspor perusahaan ini menunjukkan tren positif. Manajer produksi Oeun Samkeary mengungkapkan, pengiriman ke China naik dari 24.000 ton pada 2024 menjadi lebih dari 34.000 ton pada 2025. Hingga pertengahan 2026, sudah 22.000 ton pisang dikapalkan ke pasar China. "Permintaan yang terus tumbuh dan perluasan lahan akan mendorong ekspor lebih tinggi lagi," katanya optimistis.
Kesuksesan ini tidak lepas dari kebijakan China yang sejak 2019 membuka keran impor pisang segar dari Kamboja. Sejak saat itu, ekspor pisang kuning Kamboja melesat. Thong Mengdavid, wakil direktur Pusat Studi China-ASEAN di Universitas Teknologi dan Sains Kamboja, menilai China adalah mesin pertumbuhan utama industri pisang komersial Kamboja, menyerap sekitar 95 persen total ekspor pisang segar negara itu. "Akses ke pasar konsumen China yang besar telah mengubah pertanian pisang lokal menjadi agribisnis berorientasi ekspor," jelasnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia juga memiliki potensi besar menembus pasar China untuk produk pertanian tropis. Namun, hambatan regulasi dan standar fitosanitasi sering menjadi kendala. Pelajaran dari Kamboja menunjukkan bahwa diplomasi dagang yang intensif dan investasi di sektor hilir dapat membuka peluang ekspor yang signifikan. Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa pasar China bukan sekadar tujuan ekspor, melainkan juga katalis untuk modernisasi pertanian dan penciptaan lapangan kerja di perdesaan.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah momentum ini dapat dipertahankan. Dengan perluasan lahan dan permintaan yang terus meningkat, Kamboja tampaknya akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemasok pisang utama ke China. Namun, ketergantungan pada satu pasar juga membawa risiko. Apakah Kamboja akan mampu mendiversifikasi pasar ekspornya, atau justru semakin terikat pada dinamika ekonomi China? Jawabannya akan menentukan keberlanjutan transformasi agribisnis yang sedang berlangsung di negara tersebut.



