Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 900, Ribuan Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat longsoran gletser di perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan lebih dari 900 orang dan menyebabkan hampir 5.000 orang hilang.
- Tim penyelamat internasional berjibaku menjangkau korban di tengah lumpur dan puing, dengan puluhan pekerja pembangkit listrik tenaga air yang masih terperangkap di terowongan.
- Bencana ini menjadi pengingat nyata dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya, yang berpotensi memicu bencana serupa di wilayah Indonesia yang memiliki banyak gunung dan lembah curam.

Lebih dari 900 jenazah telah ditemukan dan hampir 5.000 orang dinyatakan hilang setelah gelombang air, es, dan lumpur setinggi tsunami menerjang permukiman di perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu lalu. Bencana yang dipicu oleh longsoran gletser ini telah meluluhlantakkan desa-desa, menyapu jembatan, dan menimbun pekerja pembangkit listrik di dalam terowongan, memaksa tim penyelamat bekerja tanpa henti di tengah medan yang ekstrem.
Hingga Senin (31/8), otoritas Nepal mencatat 903 korban tewas di wilayahnya, sementara 4.247 orang masih belum ditemukan. Di sisi Tibet, Tiongkok, 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang. Gelombang dahsyat itu juga menyeret sedikitnya 17 jenazah hingga ke sungai-sungai di India, menunjukkan betapa masifnya daya rusak bencana ini. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyebut peristiwa ini sebagai "bencana yang tak terbayangkan dan memilukan".
Operasi penyelamatan kini berfokus pada puluhan pekerja pembangkit listrik tenaga air yang diduga masih terjebak di dalam terowongan yang dipenuhi lumpur. Tim dari Nepal, dibantu personel Tiongkok, India, dan Korea Selatan, terus menggali, mengebor, dan meledakkan puing untuk mencapai sekitar 100 pekerja yang diyakini masih hidup. Namun, upaya ini berjalan lambat karena lumpur kental dan material yang menutupi jalur masuk. Sejauh ini, tiga jenazah telah dievakuasi dari dua terowongan, tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.
Di tengah duka, muncul secercah harapan ketika seorang bocah perempuan berusia enam tahun ditemukan hidup setelah empat hari terperangkap dalam lumpur. "Tubuhnya tertimbun lumpur, tetapi kepalanya masih di luar," kata juru bicara Polisi Bersenjata Nepal, Netra Bahadur Karki. Bocah itu kini dalam perawatan medis dan telah bersatu kembali dengan keluarganya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik kehancuran, masih ada peluang untuk bertahan.
Bencana ini dipicu oleh longsoran gletser, sebuah fenomena yang menurut para ilmuwan semakin sering terjadi akibat pemanasan global. Himalaya, rangkaian gunung tertinggi di dunia, mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menegaskan bahwa negaranya menjadi salah satu korban utama perubahan iklim. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi aksi global untuk mengatasi krisis iklim yang dampaknya kini semakin nyata.
Kebutuhan bantuan sangat besar. Seluruh komunitas hilang, meninggalkan keluarga tanpa tempat tinggal di tengah hujan deras. Jalan, pembangkit listrik, dan puluhan jembatan hancur. Rumah sakit kewalahan menangani jenazah yang terus berdatangan, sehingga Nepal mulai menguburkan korban setelah mengambil sampel DNA untuk memudahkan keluarga mencari kerabat mereka di kemudian hari. Pemerintah Nepal telah meminta dukungan internasional, termasuk kebutuhan lebih dari seribu unit freezer untuk menyimpan jenazah.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi cermin yang tidak nyaman. Negeri ini memiliki banyak gunung berapi dan lembah curam yang rentan terhadap longsor dan banjir bandang. Meskipun tidak memiliki gletser, perubahan iklim meningkatkan intensitas cuaca ekstrem, yang dapat memicu bencana hidrometeorologi serupa. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu mengevaluasi kesiapsiagaan menghadapi skenario terburuk, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan lereng curam dan aliran sungai.
Para ahli memperkirakan bahwa kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi seiring naiknya suhu global. Himalaya, yang dijuluki "Menara Air Asia", menyimpan cadangan air tawar bagi miliaran orang. Mencairnya gletser tidak hanya mengancam keselamatan penduduk di sekitarnya, tetapi juga ketahanan air di kawasan Asia Selatan dan Tenggara. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia, siap menghadapi dampak berantai dari krisis iklim yang semakin nyata?



