Guncangan Besar: Pakistan Pulangkan 7 Pemain dan Depak Pelatih di Tengah Tur Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pakistan mengambil langkah radikal dengan memulangkan tujuh pemain dan melepas pelatih kepala di tengah rangkaian Tes melawan Inggris.
- Lima pemain yang tampil di dua laga awal dicoret, sementara lima wajah baru dipanggil untuk laga penutup di Edgbaston.
- Keputusan ini muncul setelah kekalahan telak dan kontroversi politik yang membayangi tur, menandakan krisis manajemen yang dalam.

Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi di kancah kriket internasional, Pakistan secara mengejutkan memulangkan tujuh pemain dan melepas pelatih kepala di tengah rangkaian seri Tes melawan Inggris. Keputusan ini diambil setelah dua kekalahan telak yang membuat tim tamu terpuruk, sekaligus menandai respons paling drastis terhadap kegagalan di lapangan dalam beberapa dekade terakhir.
Lima pemain yang tampil di dua laga awalโMuhammad Rizwan, Imam-ul-Haq, Salman Ali Agha, Ali Usman, dan Khurram Shahzadโlangsung dicoret. Sementara itu, Aamir Jamal dan Muhammad Awais Jafar yang belum sempat bermain juga dipulangkan. Sebagai gantinya, tujuh pemain baru dipanggil, termasuk lima yang belum pernah membela timnas di level Tes. Saim Ayub dan Abdullah Fazal yang sudah punya pengalaman kembali dipercaya, sementara Arafat Minhas, Mohammed Imran Jr, Said Baig, Mohammad Imran, dan Razaullah mendapat kesempatan perdana.
Perombakan tidak berhenti di skuad. Pelatih kepala Sarfaraz Ahmed dan asistennya Umar Gul dilepas, digantikan oleh Mike Hesson yang sebelumnya menangani tim putih (white-ball) Pakistan, serta mantan fast bowler Australia Ashley Noffke. Keputusan ini diumumkan jelang laga ketiga di Edgbaston yang dijadwalkan berlangsung 9 September, dengan Pakistan belum pernah memenangkan seri Tes di Inggris dalam 30 tahun terakhir.
Kekalahan di dua laga awal memang menyakitkan. Di Headingley, Pakistan kalah satu innings, sementara di Lord's mereka takluk 194 run. Lebih memprihatinkan lagi, dalam empat innings yang mereka mainkan, tim tamu selalu gagal mencapai 200 run. Performa lini batting yang jeblok ini menjadi sorotan utama, memicu spekulasi bahwa perubahan besar-besaran adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan gengsi.
Namun, di balik keputusan teknis, ada nuansa politik yang ikut membayangi. Selama laga kedua di Lord's, muncul ancaman dari Pakistan Cricket Board (PCB) untuk membatalkan sisa pertandingan dan tur. Hal ini dipicu oleh wawancara anak-anak Imran Khan yang disiarkan Sky, di mana mantan kapten dan perdana menteri yang kini dipenjara itu menjadi sorotan. Meski akhirnya tur dilanjutkan, kapten Babar Azam dan Sarfaraz membantah mengetahui rencana boikot tersebut.
Keputusan ini mengingatkan pada gaya manajemen Pakistan yang kerap reaktif. Pada tur Inggris ke Pakistan 2024, setelah kalah di Tes pertama dengan total Inggris di atas 800 run, Pakistan justru memainkan laga kedua di pitch yang sama di Multan dan menggunakan pemanas taman untuk mengeringkan permukaan demi membantu spinner. Hasilnya, mereka memenangkan dua laga berikutnya dan merebut seri 2-1. Namun, kali ini situasinya berbeda: kekalahan terjadi di kandang lawan, dan perubahan dilakukan di tengah tur, sebuah langkah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai kepanikan.
Bagi Indonesia, meski kriket bukan olahraga utama, keputusan ini menjadi pelajaran tentang manajemen tim di bawah tekanan. Di tengah ekspektasi tinggi dan sorotan media, perubahan drastis justru bisa memperburuk moral tim. Pakistan kini menghadapi ujian besar: membuktikan bahwa perombakan ini bukan sekadar pelarian dari masalah, melainkan strategi jangka panjang untuk membangun kembali fondasi tim.
Dengan laga penentu di Edgbaston, pertanyaan besarnya adalah: akankah skuad anyar ini mampu mengubah nasib Pakistan, atau justru menjadi awal dari periode kelam yang lebih panjang? Jawabannya akan menentukan arah kriket Pakistan dalam beberapa tahun ke depan.



