Lagu Anti-Perang Johnny Hates Jazz Jadi Pelipur Luka Para Veteran: 'Air Mata Mereka Tak Terbendung'
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Johnny Hates Jazz, Clark Datchler, mengungkapkan bahwa banyak veteran perang menangis setelah mendengar lagu 'I Don't Want to Be a Hero'.
- Lagu yang rilis 1987 itu dinilai sebagai salah satu dari sedikit karya musik yang mengakui pengalaman traumatis para prajurit.
- Di tengah kesuksesan lagu tersebut, Datchler kini berkolaborasi dengan Jaki Graham dalam single baru 'Soul Believer' yang penuh semangat.

Vokalis Johnny Hates Jazz, Clark Datchler, mengungkapkan pengalaman emosional yang dialaminya saat bertemu para veteran perang. Mereka kerap mendatanginya dengan mata berkaca-kaca setelah mendengarkan lagu hits bandnya yang berjudul 'I Don't Want to Be a Hero'. Lagu yang dirilis pada 1987 itu ternyata memiliki resonansi mendalam bagi mereka yang pernah bertugas di medan konflik, seperti Afghanistan, Irak, Perang Teluk, hingga konflik di Irlandia Utara.
Bagi Datchler, reaksi tersebut bukanlah hal yang mengejutkan. Ia menegaskan bahwa lagu itu tidak dimaksudkan untuk menyerang para prajurit, melainkan mengkritisi keputusan para pemimpin yang mengirim mereka ke medan perang. "Lagu ini tidak ditujukan untuk mereka. Lagu ini untuk orang-orang yang bertugas mengirim mereka ke bahaya. Kadang alasannya benar, kadang juga dipertanyakan. Itulah inti lagu ini," ujarnya kepada Contact Music.
Datchler menceritakan bahwa banyak veteran yang datang kepadanya setelah konser, menceritakan pengalaman pribadi mereka. "Mereka bercerita tentang tugas di Afghanistan, Irak, Perang Teluk, bahkan di Irlandia Utara. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana mereka tidak suka disebut pahlawan. Mereka hanya menjalankan tugas, dan itu traumatis. Mereka kehilangan orang-orang terdekat," tambahnya. Bagi sebagian veteran, lagu ini menjadi salah satu dari sedikit karya yang mengakui pengalaman mereka yang sulit diungkapkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa musik dapat menjadi medium terapi yang kuat. Di Indonesia, konteks serupa mungkin terjadi pada para veteran atau anggota TNI yang pernah bertugas di daerah konflik, seperti di Aceh atau Papua. Lagu-lagu dengan pesan kemanusiaan bisa menjadi ruang katarsis bagi mereka yang jarang mendapat kesempatan untuk mengekspresikan trauma. Hal ini menggarisbawahi pentingnya dukungan psikososial bagi para mantan prajurit, yang seringkali terlupakan.
- Lagu 'I Don't Want to Be a Hero' dirilis pada 1987 sebagai single kedua Johnny Hates Jazz.
- Clark Datchler (62 tahun) adalah vokalis dan penulis lagu utama band.
- Veteran dari Afghanistan, Irak, Perang Teluk, dan Irlandia Utara dilaporkan menangis saat mendengar lagu ini.
- Kolaborasi terbaru Datchler dengan Jaki Graham menghasilkan single 'Soul Believer' yang dirilis 21 Agustus.
Datchler sendiri mengaku sejak awal kariernya ingin menulis lagu dengan tema yang lebih besar daripada sekadar cinta. "Secara historis, lintasan musik saya membawa saya pada keinginan untuk menulis tentang hal-hal yang lebih besar. Saya memulainya dengan single kedua kami, 'I Don't Want to Be a Hero', yang merupakan lagu anti-perang," jelasnya. Komitmennya pada isu sosial terus berlanjut, bahkan ketika ia bersolo karier dan fokus pada isu lingkungan, yang kemudian ia bawa kembali ke Johnny Hates Jazz saat band ini reuni pada 2013.
Di tengah keseriusan tema tersebut, Datchler baru saja merilis karya yang jauh lebih ringan. Bersama legenda soul Jaki Graham (69 tahun), ia mengeluarkan single 'Soul Believer' yang penuh energi positif. Lagu ini dirilis pada 21 Agustus dan menjadi ajang kolaborasi yang menyenangkan bagi keduanya. "Soul Believer muncul, dan ini lebih tentang bersenang-senang. Saya sudah lama tidak membuat lagu seperti ini," kata Datchler. Ia menambahkan bahwa lagu ini cukup membangkitkan semangat dan menjadi pelarian yang positif.
Yang menarik, 'Soul Believer' memiliki konstruksi yang cerdas: liriknya merujuk pada 27 lagu soul klasik dari era 1960-an dan 1970-an. Kolaborasi ini berawal dari pertemuan Datchler dan Graham di belakang panggung Uptown Festival di Blackheath, London. Meski sudah saling kenal sebelumnya, pertemuan itu memicu keinginan untuk bekerja sama. "Kami pergi sambil berkata, 'Kita harus melakukan sesuatu,'" kenang Datchler. Setelah mendengar demo lagu tersebut, Graham langsung setuju untuk ikut serta.
Datchler mengaku bahwa kehadiran Graham mengubah arah beberapa lagunya. "Begitu Jaki bergabung, jelas ada beberapa hal yang harus diubah. Ada lagu yang awalnya bergaya R&B ala Earth, Wind & Fire, tapi saya jadi berpikir, 'Ini harus saya bawakan dengan Jaki. Saya bisa mendengar suaranya di lagu ini,'" ungkapnya. Kolaborasi ini tampaknya membuka pintu bagi proyek-proyek musik berikutnya, menunjukkan bahwa Datchler masih memiliki banyak energi kreatif setelah puluhan tahun berkarier.
Ke depannya, pertanyaannya adalah apakah Datchler akan terus mengeksplorasi tema-tema sosial yang berat atau justru lebih banyak menghasilkan karya-karya ringan seperti 'Soul Believer'. Yang jelas, ia telah membuktikan bahwa musiknya mampu menyentuh hati pendengar dari berbagai latar belakang, dari para veteran perang hingga penggemar musik soul. Bagi para penggemar di Indonesia, karya-karya Datchler mungkin bisa menjadi pengingat bahwa musik adalah bahasa universal yang dapat menjembatani pengalaman manusia yang paling kompleks sekalipun.



