Caleb Shomo Buka Suara: Homofobia Menghantui Karier Setelah Come Out sebagai Gay
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Beartooth, Caleb Shomo, mengaku menghadapi gelombang homofobia setelah mengumumkan identitas seksualnya pada Mei lalu.
- Tekanan publik yang masif membuatnya sempat menarik diri dari media sosial dan kesulitan tampil di atas panggung.
- Di tengah proses perceraian dengan istrinya, Shomo kini perlahan bangkit dan menyiapkan album baru yang sarat emosi.

Vokalis band rock Beartooth, Caleb Shomo, akhirnya angkat bicara mengenai rentetan reaksi negatif yang ia terima setelah secara terbuka mengumumkan dirinya sebagai pria gay pada Mei lalu. Dalam sebuah wawancara dengan podcast Breakdown with Nath Johnny, musisi berusia 33 tahun itu mengakui bahwa keputusannya untuk tampil autentik justru disambut dengan gelombang homofobia yang luar biasa besar.
Shomo, yang telah menikah dengan aktris Fleur Shomo selama hampir 14 tahun, mengajukan gugatan cerai pada bulan Juli lalu, hanya dua bulan setelah pernyataan publiknya. Pasangan yang menikah pada 2012 itu menetapkan tanggal pisah pada 27 Maret dan tidak memiliki anak. Pengajuan cerai bersama dilakukan di Pengadilan Superior Los Angeles, menurut dokumen pengadilan.
Dalam wawancara tersebut, Shomo mengungkapkan bahwa ia bertekad untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah tekanan yang ia rasakan. “Saya akan melakukan apa yang saya mau. Saya akan memakai apa yang saya mau. Saya akan bernyanyi dengan cara saya,” ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa sikapnya itu “dihadapkan pada banyak pertentangan dan banyak homofobia” dari orang-orang yang tidak menerima penampilannya.
Tekanan tersebut membuatnya sempat mengambil jeda dari dunia maya. Shomo mengaku banyak menghabiskan waktu dalam kondisi mental yang buruk, berusaha mengumpulkan energi untuk naik ke panggung dan menjalankan profesinya. “Banyak hari saya habiskan di tempat yang sangat gelap, hanya mencoba menemukan cukup energi dan kemauan untuk melakukan pemanasan dan naik ke panggung,” tuturnya.
Ia juga menyoroti bahwa penolakan yang vokal itu tidak surut meski ia terus merilis lagu-lagu baru. “Pengumuman saya tentang identitas saya justru tidak membantu. Saya hanya mencoba jujur kepada orang-orang tentang siapa saya dan apa yang sedang saya alami,” tambahnya.
Konteks Indonesia: Fenomena seperti ini menggambarkan tantangan yang dihadapi publik figur ketika mengungkapkan identitasnya di industri musik yang masih didominasi norma heteronormatif. Di Indonesia, isu LGBTQ+ masih menjadi perdebatan sensitif, dan respons publik terhadap selebritas yang terbuka tentang orientasi seksualnya sering kali tidak jauh berbeda — bahkan dapat berujung pada tekanan sosial yang lebih keras. Kasus Shomo menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi di industri hiburan global masih berjalan timpang dengan penerimaan sosial.
Kini, Shomo mengaku sedang mengambil “langkah kecil” dalam menggarap album barunya. Ia memberi kode bahwa album tersebut akan menjadi media untuk “memproses banyak hal” yang ia alami. Meski demikian, ia tetap berkomitmen untuk melanjutkan karier musiknya dan menegaskan bahwa ia ingin menikmati kebebasan sebagai seorang seniman.
Perceraian dengan Fleur, yang juga dikenal lewat perannya dalam serial drama medis The Pitt, menambah kompleksitas situasi. Fleur sebelumnya sempat memberikan dukungan kepada Caleb, namun juga menggambarkan akhir pernikahan mereka sebagai sesuatu yang “membingungkan dan menyakitkan”.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana industri musik dan para penggemar akan merespons karya-karya Shomo selanjutnya. Apakah album barunya akan menjadi titik balik yang memperkuat posisinya sebagai ikon keberanian, atau justru semakin memicu polarisasi di kalangan penggemar? Yang jelas, perjalanan Shomo menjadi cermin bagi banyak seniman lain yang bergulat dengan identitas dan penerimaan publik.



