Gasperini Dukung Aturan Baru Wasit Serie A: 'Penggemar Bosan dengan Sepak Bola Membosankan'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, menyambut baik regulasi anyar wasit Serie A yang mulai diterapkan pada pekan pertama, dengan menilai aturan tersebut mampu memangkas waktu terbuang.
- Aturan baru mencakup batas waktu lima detik untuk tendangan gawang dan lemparan ke dalam, serta kewajiban pemain cedera menepi selama satu menit, yang diyakini akan meningkatkan tempo pertandingan.
- Perubahan ini berpotensi mengubah wajah sepak bola Italia yang selama ini identik dengan permainan bertahan, sekaligus menjadi sinyal bagi liga lain, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi regulasi serupa.

Gian Piero Gasperini, arsitek kemenangan AS Roma atas Fiorentina 4-0 pada pekan pembuka Serie A, melontarkan pujian terhadap paket aturan baru wasit yang mulai diberlakukan musim ini. Menurutnya, regulasi tersebut bukan sekadar perubahan teknis, melainkan sebuah revolusi yang mampu mengubah wajah kompetisi kasta tertinggi Italia yang selama ini kerap dikritik karena tempo permainannya yang lambat.
Serie A memang punya reputasi sebagai liga dengan pendekatan taktis yang ketat dan sering kali minim gol. Namun, musim 2026-27 mencoba memutus stigma itu melalui serangkaian aturan yang dirancang untuk memangkas waktu mati. Salah satu yang paling mencolok adalah batas lima detik bagi kiper saat melakukan tendangan gawang. Jika melanggar, tim lawan berhak mendapatkan tendangan sudut. Aturan serupa juga berlaku untuk lemparan ke dalam, yang jika tidak dieksekusi dalam lima detik akan berpindah kepemilikan.
Tidak berhenti di situ, pemain yang terjatuh dan membutuhkan perawatan medis kini wajib menepi selama satu menit, terlepas dari seberapa cepat ia pulih. Sementara itu, pemain pengganti yang akan masuk harus menunggu satu menit jika pemain yang digantikannya tidak segera meninggalkan lapangan dalam waktu sepuluh detik. Langkah ini jelas menyasar praktik pembuangan waktu yang selama ini menjadi keluhan umum.
Di sisi lain, penggunaan VAR juga diperluas. Wasit kini dapat meninjau insiden yang berpotensi menghasilkan kartu kuning kedua, bukan hanya kartu merah langsung. Ini memberikan ruang koreksi yang lebih besar terhadap keputusan yang berpotensi kontroversial. Selain itu, pemeriksaan cepat untuk tendangan sudut akan dikelola dari ruang VAR untuk memastikan akurasi keputusan.
Gasperini, yang berbicara setelah laga melawan Fiorentina, tidak menyembunyikan antusiasmenya. "Apakah saya menyukainya? Sangat! Penggemar diuntungkan karena mereka dulu menyaksikan pertandingan yang sangat membosankan. Kiper sering menjadi pemain yang paling banyak menyentuh bola," ujarnya seperti dikutip Corriere dello Sport. Ia menambahkan bahwa aturan yang mewajibkan pemain cedera keluar lapangan selama satu menit terbukti efektif. "Anda tidak melihat siapa pun berbaring dan membuat drama. Mereka semua bangun. Aturan-aturan itu benar-benar dipikirkan dengan matang; penggemar ingin melihat permainan, bukan orang-orang yang membuang waktu."
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi bahan rencana yang relevan. Liga 1 dan kompetisi domestik lainnya masih bergulat dengan masalah serupa: waktu efektif pertandingan yang rendah dan aksi memperlambat permainan. Jika Serie A berhasil menerapkan aturan ini dengan baik, bukan tidak mungkin PSSI atau operator liga akan mempertimbangkan adopsi regulasi serupa untuk meningkatkan kualitas tontonan. Namun, tentu saja, perlu ada kajian mendalam mengenai kesiapan wasit dan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan teknologi VAR yang memadai di semua stadion.
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah aturan baru ini akan bertahan lama atau justru menjadi bumerang bagi tim-tim yang terbiasa dengan permainan pragmatis? Yang jelas, Serie A musim ini akan menjadi laboratorium menarik bagi dunia sepak bola, dan Indonesia patut mengamatinya dengan saksama.



