Banjir Myanmar: Sungai Taninthayi Lampaui Level Bahaya, 700 Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Sungai Taninthayi di Myanmar selatan meluap hingga 7,5 meter, melewati ambang bahaya 7,3 meter, memicu evakuasi ratusan warga.
- Ruas Jalan Raya Union terendam setinggi hampir satu meter, memutus akses kendaraan kecil dan menghambat distribusi bantuan.
- Musim hujan ekstrem yang melanda Asia Tenggara diperkirakan masih berlanjut, meningkatkan risiko banjir susulan di kawasan tersebut.

YANGON โ Sungai Taninthayi di wilayah selatan Myanmar meluap hingga melampaui ambang bahaya, memaksa otoritas setempat membuka lima lokasi pengungsian dan mengevakuasi sekitar 700 warga. Banjir yang dipicu hujan deras ini juga merendam sebagian Jalan Raya Union, jalur utama yang menghubungkan kawasan tersebut dengan daerah lain.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga 30 Agustus, tinggi muka air sungai mencapai 7,5 meter, melebihi level bahaya yang ditetapkan sebesar 7,3 meter. Sementara itu, level peringatan dini berada di angka 5,2 meter. Kondisi ini menunjukkan eskalasi yang cepat, mengingat hanya dalam beberapa hari air naik signifikan setelah hujan lebat mengguyur kawasan Taninthayi, tepatnya di Distrik Myeik.
Seorang pejabat setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa jumlah pengungsi masih terus bertambah dan belum final. โKami masih mendata dan memindahkan warga, angka pastinya belum bisa dipastikan. Air telah naik lebih dari tiga kaki (0,9 meter) di atas Jalan Raya Union, sehingga kendaraan kecil tidak bisa melintas,โ ujarnya kepada media. Kondisi ini tentu menghambat akses logistik dan bantuan kemanusiaan ke lokasi terdampak.
Proses evakuasi dilakukan oleh petugas gabungan dari pemerintah setempat dan Palang Merah Myanmar. Warga yang rumahnya terendam dipindahkan ke tempat pengungsian yang tersebar di kota dan desa-desa sekitar, serta ke dataran yang lebih tinggi. Meski belum ada laporan korban jiwa, ancaman banjir susulan masih terbuka lebar karena curah hujan diprediksi tetap tinggi.
Peristiwa ini menjadi pengingat lain dari kerentanan Asia Tenggara terhadap dampak perubahan iklim. Bagi Indonesia, musim hujan yang semakin tidak menentu juga berpotensi memicu banjir serupa di sejumlah wilayah, terutama di daerah aliran sungai yang padat penduduk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa fenomena La Nina dapat meningkatkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia hingga awal tahun depan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan infrastruktur dan sistem peringatan dini menjadi kunci untuk meminimalkan korban.
Di Myanmar sendiri, banjir tahun ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada bulan Juli, beberapa wilayah di negara itu juga mengalami banjir akibat hujan monsun. Namun, yang membedakan kali ini adalah kecepatan kenaikan air yang luar biasa, menunjukkan bahwa sistem drainase dan tanggul mungkin tidak mampu menahan debit air yang ekstrem. Para ahli memperkirakan bahwa jika hujan terus berlanjut, Sungai Taninthayi bisa mencapai rekor ketinggian baru, yang akan memperluas area terdampak dan menambah beban logistik evakuasi.
Pemerintah Myanmar, yang sedang dilanda konflik internal dan krisis ekonomi, menghadapi tantangan ganda dalam penanganan bencana ini. Sumber daya yang terbatas dan akses yang sulit ke daerah-daerah tertentu dapat memperlambat proses pemulihan. Sementara itu, komunitas internasional, termasuk ASEAN, biasanya menawarkan bantuan kemanusiaan dalam situasi seperti ini. Pertanyaannya, akankah respons cepat dan koordinasi yang efektif mampu mencegah krisis kemanusiaan yang lebih besar di Taninthayi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, langkah evakuasi yang cepat saat ini menjadi penentu utama.



