Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 900 Orang, Ratusan Terjebak di Terowongan PLTA
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di kawasan Himalaya menewaskan lebih dari 900 orang dan memicu kekhawatiran akan melonjaknya korban jiwa.
- Operasi penyelamatan terhambat oleh kondisi geografis ekstrem, terutama di terowongan proyek PLTA yang menjadi lokasi terjebaknya ratusan pekerja.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, termasuk potensi dampaknya bagi proyek serupa di Indonesia.

Banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya telah menewaskan sedikitnya 900 orang di Nepal dan Tibet, sementara lebih dari 4.700 lainnya dinyatakan hilang. Tim penyelamat dari berbagai negara kini berpacu dengan waktu untuk menjangkau pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang hancur diterjang arus deras.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Nepal, jumlah korban tewas di negara itu mencapai 903 jiwa, dengan 4.247 orang masih hilang, termasuk 592 warga asing. Sementara itu, otoritas Tiongkok melaporkan 16 kematian dan 546 orang hilang, dengan 261 di antaranya merupakan warga asing, termasuk lebih dari seratus warga Nepal. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring proses evakuasi dan pencarian korban yang masih berlangsung.
Mohan Kumar Dangi, presiden Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal (IPPAN), menyatakan sedikitnya 12 proyek PLTA di distrik Rasuwa dan Nuwakot rusak parah. Sekitar 900 orang dilaporkan hilang dari lokasi proyek, dengan ratusan lainnya diduga terjebak di dalam terowongan bawah tanah yang digunakan untuk mengalihkan aliran sungai. Di proyek Upper Trishuli-1, misalnya, 576 orang dilaporkan hilang dan sekitar 300 di antaranya diyakini berada di dalam terowongan.
Para ahli menyebut terowongan PLTA memiliki dimensi yang sangat besar, cukup untuk dilewati truk, sehingga memungkinkan orang berlindung di dalamnya. Namun, kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. "Terowongan ini dibangun untuk mengakses infrastruktur PLTA dan mengalihkan air, langkah penting untuk menghasilkan energi. Ukurannya cukup besar untuk dilewati truk," ujar Jakob Steiner, ilmuwan geosains dari Universitas Graz, Austria, yang kini berbasis di Dhaka, Bangladesh. "Ada ruang yang cukup bagi orang untuk berlindung dengan aman di dalam, dan sejauh yang kami pahami, mereka telah berhasil mengalirkan oksigen ke sebagian orang yang terjebak dan kini berusaha menyelamatkan mereka. Ini perlombaan melawan waktu karena orang-orang membutuhkan makanan dan air."
Di sisi Tiongkok, upaya pemulihan difokuskan pada pembangunan kembali jalan menuju Pelabuhan Gyirong di perbatasan dengan Nepal. Jalan tersebut kini terendam air setinggi 2 hingga 3 meter, menghambat akses tim penyelamat. Media pemerintah Tiongkok banyak menyoroti respons resmi, termasuk pengerahan petugas pemadam kebakaran dan Tentara Pembebasan Rakyat, namun sedikit informasi yang terungkap mengenai korban di sisi Tiongkok.
Di tengah kekacauan ini, kisah pilu datang dari keluarga korban. Maraval Nagappan, warga India, terbang ke Nepal dua hari setelah bencana untuk mencari putranya, Sathya Narayan, yang memimpin rombongan 49 peziarah India yang kembali dari Gunung Kailash di Tibet barat daya. Rombongan tersebut hilang setelah banjir menerjang kompleks imigrasi Tiongkok di perbatasan. "Saya belum mendengar kabar dari putra saya sejak saat itu. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," tuturnya. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan air bah menerjang kompleks imigrasi, sementara orang-orang berusaha menyelamatkan diri.
Banjir bandang ini bermula dari runtuhnya batuan dasar di bawah gletser di kawasan Himalaya, yang kemudian memicu longsoran es dan air dalam skala besar. Peristiwa tersebut terekam sebagai aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2. Aliran material dan air bah kemudian menyapu bangunan, jembatan, dan tanah di sepanjang lembah di Tibet dan Nepal.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen risiko bencana dalam pembangunan infrastruktur energi, khususnya PLTA yang banyak dibangun di daerah pegunungan. Dengan kondisi geologis yang mirip, Indonesia perlu mengevaluasi standar keamanan terowongan dan sistem peringatan dini untuk meminimalkan korban jiwa jika terjadi bencana serupa. Pertanyaan yang muncul: apakah proyek-proyek PLTA di Indonesia sudah cukup siap menghadapi skenario terburuk seperti yang terjadi di Nepal?



