Menkeu AS Nilai Pelemahan Yen Masih Terkendali, Isyaratkan Tak Perlu Intervensi
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai pelemahan yen masih terkendali, meredam spekulasi intervensi bersama Jepang.
- Pernyataan ini muncul saat yen menyentuh level 160 per dolar AS, batas yang biasanya memicu aksi pasar.
- Pasar kini menanti keputusan bank sentral Jepang (BOJ) pada pertemuan September, dengan peluang kenaikan suku bunga yang cukup besar.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa pergerakan yen Jepang masih "cukup terkendali" dan tidak termasuk dalam kategori tidak tertib (disorderly) yang sebelumnya memicu intervensi bersama kedua negara. Pernyataan ini disampaikan Bessent di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Asheville, North Carolina, pada akhir pekan lalu.
Pernyataan tersebut muncul setelah yen sempat terdepresiasi hingga menembus level 160 per dolar AS pada Jumat (28/8), sebuah ambang batas yang selama ini dianggap sebagai pemicu potensial intervensi. Pada 31 Juli lalu, Jepang dan AS melakukan intervensi bersama dengan membeli yen untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebagai respons terhadap pelemahan mata uang yang dinilai tidak tertib dan berisiko mengguncang pasar global.
Dalam wawancara dengan Reuters, Bessent juga mengomentari kebijakan moneter Jepang. Ia mengaku tidak akan memberi instruksi kepada Bank of Japan (BOJ) mengenai langkah selanjutnya, namun ia percaya Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, akan mengambil keputusan yang tepat dengan dukungan Perdana Menteri Sanae Takaichi. "Saya tidak akan memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan," ujarnya. "Saya hanya akan mengatakan bahwa kita mungkin telah mencapai akhir dari Abenomics, program reflasi yang diluncurkan pada 2013."
Bessent menilai Jepang telah berhasil mengatasi deflasi dan kini beralih ke era baru yang ia sebut "Takaichi-nomics", yang lebih berpihak pada pemegang saham dan mendorong deregulasi, terutama di sektor ketenagakerjaan. Ia merekomendasikan agar Jepang menikmati hasil Abenomics dan membiarkannya berjalan, sambil tetap waspada terhadap tantangan fiskal. Kritik terhadap pendekatan fiskal ekspansif Takaichi muncul karena dianggap bertentangan dengan upaya BOJ mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pernyataan Bessent tentang yen yang terkendali kontras dengan sikapnya saat mengonfirmasi intervensi bersama sebulan lalu, di mana ia menyebut aksi tersebut untuk melawan pergerakan "tidak tertib". Kini, ia menilai situasi telah berubah. "Oh, tidak. Saya pikir ini cukup terkendali," katanya ketika ditanya apakah yen masih menunjukkan pergerakan tidak tertib.
Pelemahan yen telah menjadi momok bagi para pembuat kebijakan Jepang karena mendorong kenaikan harga impor dan inflasi yang lebih luas. Hal ini sebagian disebabkan oleh lambatnya laju kenaikan suku bunga BOJ, yang membuat selisih suku bunga dengan AS tetap lebar. Namun, Bessent menilai Jepang telah "menaklukkan" deflasi, dan ia optimistis terhadap kebijakan baru di bawah Takaichi.
Pasar kini mencermati pertemuan BOJ pada 17-18 September. Sumber-sumber Reuters menyebut BOJ kemungkinan menaikkan suku bunga pada September dan mempertimbangkan untuk mempercepat laju kenaikan dari sekitar dua kali setahun menjadi lebih agresif. Gubernur Ueda bulan lalu mengatakan BOJ akan fokus pada risiko inflasi yang meningkat dan tidak menutup kemungkinan mempercepat kenaikan suku bunga jika kondisi keuangan dinilai terlalu longgar.
Bagi Indonesia, dinamika yen dan kebijakan BOJ memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara berkembang di Asia, Indonesia kerap memantau pergerakan yen sebagai indikator sentimen pasar terhadap mata uang Asia. Pelemahan yen yang berkelanjutan dapat memicu tekanan pada nilai tukar rupiah, meskipun fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat diharapkan mampu meredam dampaknya. Selain itu, keputusan BOJ untuk menaikkan suku bunga dapat mempengaruhi arus modal asing di kawasan, termasuk ke pasar obligasi dan saham Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BOJ akan benar-benar menaikkan suku bunga pada September dan seberapa agresif langkah selanjutnya. Jika BOJ bertindak hawkish, yen berpotensi menguat, yang dapat meredakan tekanan inflasi di Jepang namun juga berisiko mengguncang pasar keuangan global. Sebaliknya, jika BOJ menahan diri, pelemahan yen bisa kembali memicu intervensi. Pasar akan mencermati setiap sinyal dari pertemuan G20 dan pernyataan para pejabat dalam beberapa pekan mendatang.



