Peta Genetik Tanaman Antartika: Kunci Baru Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti Chile berhasil memetakan genom lengkap Colobanthus quitensis, satu dari dua tanaman berbunga asli Antartika, membuka peluang rekayasa genetika untuk ketahanan ekstrem.
- Penelitian ini menggunakan teknik editing gen, bukan transgenik, untuk mentransfer sifat tahan beku dan radiasi UV ke tanaman pangan, dengan target aplikasi komersial dalam 5-10 tahun.
- Keberhasilan ini menjadi fondasi bagi pengembangan varietas tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim, relevan bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman kekeringan dan suhu ekstrem.

Tim peneliti yang dipimpin Chile berhasil memetakan genom lengkap Colobanthus quitensis, salah satu dari hanya dua tanaman berbunga yang tumbuh alami di Antartika. Temuan ini membuka peluang untuk mengembangkan tanaman pangan yang tahan terhadap cuaca ekstrem, sebuah langkah krusial di tengah meningkatnya frekuensi gelombang panas dan kekeringan global.
Colobanthus quitensis, atau lebih dikenal sebagai 'pearlwort' Antartika, telah lama menjadi objek penelitian karena kemampuannya bertahan pada suhu beku, kekurangan air, dan radiasi ultraviolet yang tinggi. Dengan memetakan seluruh 40 kromosom tanaman ini, para ilmuwan kini memiliki peta genetik terlengkap yang dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi gen-gen yang bertanggung jawab atas ketahanan tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal 'Genome Biology and Evolution' terbitan Oxford University Press ini merupakan bagian dari proyek Polarix. Eduardo Castro, peneliti asosiasi di Cape Horn International Center Chile dan penulis utama studi ini, menegaskan bahwa tujuan mereka bukanlah menciptakan tanaman transgenik, melainkan menggunakan teknik editing gen untuk memodifikasi tanaman pangan yang sudah ada. "Kami ingin mengedit genom tanaman yang memiliki nilai gizi," ujarnya.
Meskipun peta genom telah selesai, identifikasi fungsi masing-masing gen masih membutuhkan waktu. Castro memperkirakan butuh lima hingga sepuluh tahun lagi untuk mengembangkan aplikasi komersial dari temuan ini. Timnya juga didukung oleh peneliti dari California dan membangun dari upaya sebelumnya oleh Korea Polar Research Institute yang hanya menghasilkan versi parsial genom.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara agraris yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kekeringan dan serangan hama, pengembangan varietas tanaman yang tahan stres lingkungan menjadi prioritas. Penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi kolaborasi internasional untuk mengadaptasi teknologi serupa pada tanaman pangan lokal seperti padi, jagung, dan kedelai.
Para ahli menilai bahwa pendekatan editing gen lebih dapat diterima secara etis dan regulasi dibandingkan transgenik, karena tidak menyisipkan gen asing dari spesies lain. Hal ini penting mengingat regulasi ketat di banyak negara, termasuk Indonesia, terhadap produk rekayasa genetika. Dengan demikian, temuan ini tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga jalan yang lebih mulus menuju adopsi pasar.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa teknologi ini dapat diakses oleh negara berkembang, termasuk Indonesia, agar tidak terjadi kesenjangan teknologi pangan. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia akan menjadi pemain aktif dalam riset semacam ini, atau hanya menjadi konsumen teknologi dari negara maju?



