Anjing Pelacak Senior Tar Curi Perhatian di Parade Hari Nasional Malaysia: Bukti Kepahlawanan Tanpa Tanda Jasa
Baca dalam 60 detik
- Tar, Labrador berusia 10 tahun dari Pasukan Pertahanan Sipil Malaysia, menjadi bintang parade dengan pengabdiannya di operasi pencarian dan penyelamatan.
- Pengalaman Tar di tanah longsor Batang Kali 2022 menegaskan peran vital hewan dalam misi kemanusiaan, melampaui sekadar simbol seremonial.
- Kehadirannya memicu refleksi tentang pengakuan terhadap pahlawan non-manusia dan potensi pemanfaatan anjing pelacak di Indonesia.

Di tengah kemeriahan parade Hari Kebangsaan Malaysia di Putrajaya, seekor Labrador tua dari Pasukan Pertahanan Sipil (APM) berhasil mencuri perhatian publik. Bukan karena penampilannya yang mencolok, melainkan karena kisah pengabdiannya yang luar biasa dalam misi pencarian dan penyelamatan (SAR). Anjing bernama Tar itu hadir di atas truk parade, dengan tenang mengamati kerumunan, namun kehadirannya justru menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung.
Wellington Ho, relawan APM yang mendampingi Tar, menjelaskan bahwa keikutsertaan anjing tersebut bukan sekadar partisipasi seremonial. "Kami ingin menunjukkan fungsionalitas anjing jenis ini di acara penting seperti ini," ujarnya. Tar bukanlah anjing biasa; ia adalah veteran operasi SAR yang telah membuktikan kemampuannya di lapangan. Salah satu momen paling bersejarah dalam kariernya adalah saat bertugas di lokasi tanah longsor Batang Kali pada 2022, bencana yang merenggut 31 jiwa. Saat itu, Tar menyusuri puing-puing untuk mencari korban dan memberikan penghiburan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
Meski usianya kini menginjak 10 tahun, indra penciuman Tar dinilai masih tajam untuk operasi di area hutan belantara. "Indranya masih cukup kuat untuk operasi di daerah liar," kata Ho. Kehadiran Tar di parade menjadi simbol bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan bendera dan kembang api, tetapi juga dengan menghormati pahlawan sehari-hari, baik manusia maupun hewan. Banyak pengunjung yang antusias mengabadikan momen bersama Tar, menjadikannya salah satu bintang paling dicintai dalam parade tahun ini.
Kisah Tar menggarisbawahi peran penting hewan dalam penanggulangan bencana, sebuah aspek yang sering terlupakan dalam diskusi tentang kesiapsiagaan darurat. Di Indonesia, potensi pemanfaatan anjing pelacak dalam operasi SAR juga semakin diakui, terutama mengingat tingginya risiko bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tim SAR lainnya telah menggunakan anjing pelacak dalam beberapa operasi, namun pengembangan dan perawatan hewan-hewan ini masih membutuhkan perhatian lebih.
Para ahli menilai bahwa pelatihan anjing SAR membutuhkan investasi waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun, efektivitas mereka dalam menemukan korban di bawah reruntuhan atau di area yang sulit dijangkau manusia tidak dapat diabaikan. Kehadiran Tar di panggung nasional Malaysia dapat menjadi momentum bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, untuk lebih mengapresiasi dan mengembangkan unit K-9 dalam strategi mitigasi bencana.
Di sisi lain, momen ini juga memicu pertanyaan tentang kesejahteraan hewan yang bertugas dalam situasi berisiko tinggi. Apakah ada jaminan kesehatan dan dukungan psikologis bagi anjing-anjing seperti Tar setelah mereka pensiun? Di Malaysia, APM telah menunjukkan komitmen dengan tetap melibatkan Tar dalam acara publik meski usianya sudah senja. Namun, hal ini belum tentu menjadi standar di semua negara.
Ke depan, kisah Tar dapat menjadi bahan refleksi bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk merancang program yang lebih komprehensif bagi hewan SAR, mulai dari pelatihan, operasional, hingga purnatugas. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengikuti jejak Malaysia dalam memberikan penghormatan dan dukungan yang layak bagi pahlawan berbulu ini?



