Perlombaan Global Mengamankan Uranium: Dari Tambang ke Laut hingga Bulan
Baca dalam 60 detik
- Permintaan uranium diproyeksikan berlipat ganda pada 2040, memicu negara-negara membuka kembali tambang dan mencari sumber alternatif.
- Konsentrasi pasokan di segelintir negara, terutama Rusia, mendorong upaya diversifikasi dan pengembangan teknologi seperti ekstraksi air laut dan thorium.
- Masa depan energi nuklir bergantung pada inovasi keselamatan, keberlanjutan pasokan, dan kemampuan mengatasi hambatan geopolitik.

Fajar baru energi nuklir tengah bersinar, memicu perlombaan global untuk mengamankan pasokan uranium. Dengan permintaan yang diperkirakan berlipat ganda pada 2040, negara-negara dari Texas hingga Kazakhstan berlomba membuka kembali tambang, memperluas kapasitas pengayaan, dan bahkan mengekstraksi uranium dari laut serta menambang helium-3 di bulan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah nuklir akan bangkit, tetapi siapa yang akan menguasai bahan bakarnya dan bagaimana caranya.
Di Texas, tambang Alta Mesa yang sempat tutup pada akhir 1990-an akibat lesunya permintaan, kini kembali beroperasi. Jesus "Jesse" Garza Jr., yang bergabung sebagai mandor pada 2024, mengikuti jejak neneknya yang pernah bekerja di lokasi yang sama. Baginya, nuklir adalah energi bersih masa depan. Kebangkitan ini bukan hanya fenomena Amerika; lebih dari 40 negara berencana membangun reaktor baru, didorong kebutuhan listrik rendah karbon yang andal serta meningkatnya konsumsi energi dari industri AI dan penambangan kripto.
Namun, ada ironi di balik antusiasme ini. Pasokan uranium global justru berada dalam kondisi tertekan setelah bertahun-tahun investasi minim. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 membuka mata dunia akan kerentanan rantai pasokan. Amerika Serikat, misalnya, pada tahun itu membeli 84 persen uranium untuk reaktor sipilnya dari lima negara—Kanada, Kazakhstan, Rusia, Uzbekistan, dan Australia—dengan Rusia memasok 24 persen uranium yang diperkaya. Konsentrasi ini menjadi alarm bagi keamanan energi banyak negara.
Kazakhstan, produsen uranium terbesar dunia dengan kontribusi 40 persen produksi global, masih bergantung pada Rusia untuk pengayaan. Perang di Ukraina memaksa jalur ekspor berbelok melalui Koridor Tengah—menyeberangi Laut Kaspia, Azerbaijan, dan Georgia—menambah biaya dan ketidakpastian. Sementara itu, Australia yang memiliki cadangan uranium terbesar di dunia—dua kali lipat Kazakhstan—masih bergulat dengan sensitivitas politik dan sosial. Di Australia Barat, proyek tambang baru belum diizinkan sejak 2017, dan sebagian deposit berada di tanah yang disakralkan komunitas Aborigin. Tokoh suku Wangkatha, Gregory Stubbs, mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak pertambangan terhadap tanah leluhur mereka.
Swedia, yang menyimpan 27 persen uranium Eropa, baru saja mencabut larangan penambangan pada Januari lalu setelah tekanan harga listrik yang melonjak. Jepang, yang mengimpor semua uranium untuk kebutuhan nuklirnya, mencoba jalur berbeda: mengekstraksi uranium dari air laut. Lautan mengandung 500 hingga 1.000 kali lebih banyak uranium daripada cadangan darat yang diketahui, cukup untuk memasok reaktor dunia selama 60.000 tahun, menurut Taishi Sugiyama dari Canon Institute for Global Studies. Namun, biaya ekstraksi masih tinggi, dan para ilmuwan berupaya membuat material penangkap uranium dapat digunakan berulang kali.
Di tengah upaya mengamankan pasokan, teknologi reaktor modular kecil (SMR) menjadi sorotan. Namun, banyak desain SMR membutuhkan uranium tingkat pengayaan rendah tinggi (HALEU), yang saat ini hanya diproduksi secara komersial oleh Rusia dan China. AS berusaha mengejar ketertinggalan melalui program senilai US$2,7 miliar, dengan Centrus Energy menjadi perusahaan Amerika pertama yang memproduksi HALEU pada Juni lalu. Nick Touran, insinyur nuklir, mengingatkan bahwa satu ton HALEU hanya cukup untuk satu reaktor berukuran sedang, sementara kebutuhan mencapai puluhan ribu kilogram per tahun untuk membangun armada reaktor canggih.
Inovasi keselamatan juga menjadi kunci. Di Oak Ridge National Laboratory, para ilmuwan mengembangkan bahan bakar TRISO—partikel seukuran biji poppy yang mampu menahan suhu hingga 1.800 derajat Celsius dan mendinginkan inti reaktor secara pasif. Charles Oppenheimer, cucu J. Robert Oppenheimer, menekankan bahwa persepsi bahaya adalah penghambat utama pengembangan nuklir. Ia berharap publik melihat sains dan standar keselamatan yang mendasarinya, serta kerja sama global untuk mencegah penyalahgunaan senjata.
Alternatif lain mulai dilirik. China, yang mengimpor lebih dari 80 persen uraniumnya, menguji reaktor garam cair berbahan thorium di Gurun Gobi. Thorium, yang lebih melimpah dan sulit dipersenjatai, disebut dapat memenuhi kebutuhan China selama 10.000 tahun. India, dengan cadangan thorium besar di pasir pantainya, menargetkan peningkatan kapasitas nuklir sebelas kali lipat pada 2047 dan telah menjalin kerja sama dengan perusahaan AS untuk bahan bakar campuran thorium-HALEU.
Lebih jauh lagi, fusi nuklir—proses yang terjadi di matahari—menjadi impian jangka panjang. China berhasil mempertahankan plasma pada suhu hampir tujuh kali suhu inti matahari selama 17 menit di fasilitas "matahari buatan"-nya. Inggris menginvestasikan £2,5 miliar untuk riset fusi. Namun, bahan bakar fusi seperti tritium masih langka, dan helium-3 yang melimpah di bulan menjadi target eksplorasi. Perusahaan AS, Magna Petra, mengembangkan teknologi untuk memanen helium-3 dari debu bulan, yang disebut CEO-nya, Jeffrey Max, sebagai "bahan bakar tak terbatas untuk energi bersih".
Bagi Indonesia, perlombaan ini menghadirkan pelajaran penting. Sebagai negara dengan populasi besar dan kebutuhan energi yang terus meningkat, Indonesia tengah menjajaki opsi nuklir untuk mencapai target net zero emission. Namun, ketergantungan pada impor uranium dan teknologi pengayaan menjadi tantangan. Pengalaman negara lain menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber pasokan dan investasi pada riset bahan bakar alternatif. Apakah Indonesia akan menjadi pemain atau sekadar penonton dalam peta energi nuklir global? Jawabannya bergantung pada keberanian mengambil keputusan strategis hari ini.



