Mitsubishi Heavy Dapat Dukungan Pemerintah Jepang untuk Reaktor Nuklir Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang memilih tiga proyek Mitsubishi Heavy untuk mengembangkan reaktor canggih dan SMR, menandai langkah nyata dalam strategi energi nuklir nasional.
- Dukungan ini sejalan dengan target ambisius Tokyo mengganti hingga 14 reaktor pada 2050-an, memperkuat ketahanan energi dan dekarbonisasi.
- Pengembangan SMR domestik yang tahan gempa dan tsunami menjadi fokus, membuka peluang bagi negara rawan bencana seperti Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa.

Pemerintah Jepang resmi memberikan dukungan pendanaan kepada Mitsubishi Heavy Industries untuk tiga proyek pengembangan teknologi reaktor nuklir generasi berikutnya, mencakup reaktor air ringan canggih dan reaktor modular kecil (SMR). Keputusan ini diumumkan perusahaan pada Rabu (5/8) dan menjadi sinyal kuat komitmen Tokyo dalam menghidupkan kembali industri nuklirnya yang sempat terhenti pasca-bencana Fukushima.
Proyek-proyek yang lolos seleksi dalam program anggaran tambahan Kementerian Perindustrian itu mencakup teknologi keselamatan dan desain standar untuk reaktor air ringan canggih, desain serta komponen untuk SMR, dan penguatan rantai pasok reaktor generasi baru. Langkah ini merupakan bagian dari rencana energi dasar Jepang yang disetujui Februari 2025, yang menyerukan pemanfaatan nuklir secara maksimal untuk memperkuat keamanan energi dan mencapai target dekarbonisasi.
Kebijakan nuklir terbaru Jepang bahkan lebih ambisius: mengganti hingga lima reaktor pada 2040-an dan sebanyak 14 reaktor pada 2050-an. Pedoman yang disetujui pekan lalu itu menilai reaktor air ringan canggih dan SMR secara teknis telah mencapai tahap siap diterapkan. Mitsubishi Heavy sendiri tengah mengembangkan reaktor SRZ-1200 yang ditargetkan beroperasi komersial lebih awal, serta memimpin pengembangan reaktor uji cepat dan reaktor gas suhu tinggi dalam program transformasi hijau pemerintah.
Subsidi terbaru ini juga akan mempercepat pengembangan SMR rancangan domestik yang disesuaikan dengan kondisi seismik dan tsunami Jepang. Hal ini menjadi poin krusial mengingat negara itu berada di kawasan cincin api Pasifik yang rawan gempa. Desain yang mengutamakan ketahanan terhadap bencana alam menjadi nilai jual utama teknologi nuklir Jepang di pasar global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi strategis. Sebagai negara dengan potensi gempa tinggi dan sedang mempertimbangkan opsi nuklir untuk mencapai target net zero emission, teknologi SMR yang tahan bencana bisa menjadi alternatif yang menarik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya telah menyatakan minat pada SMR untuk daerah terpencil. Jika Jepang berhasil membuktikan keandalan teknologinya, Indonesia dapat menjadikannya acuan dalam kajian kelayakan PLTN.
Namun, tantangan tetap ada. Biaya pembangunan reaktor nuklir yang tinggi dan masalah pengelolaan limbah radioaktif masih menjadi pekerjaan rumah. Meski demikian, dukungan pemerintah Jepang yang konsisten menunjukkan bahwa nuklir kembali dianggap sebagai solusi energi yang realistis di tengah krisis iklim. Pertanyaannya, akankah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berani mengambil langkah serupa dalam satu dekade ke depan?



